
"Tok tok tok," suara ketukan pintu kamar yang membangunkanku.
"Na, bangun sekarang sudah pagi," suara Tante Ida membangunkanku di saat-saat aku mulai bisa tidur kembali setelah bermimpi tentang Ayah dan Ibu. Aku coba membuka mataku dan kulihat ke arah jam dinding yang masih menunjukan pukul empat dini hari.
"Ya ampun pagi darimana? ini subuh juga belum koq!" gumamku dalam hati. Aku mencoba bangun dari tidurku, walau aku masih terasa sangat lelah dan mengantuk.
"Iya Tante, kenapa?" ucapku saat membuka buka pintu kamarku. Tante Ida yang saat itu sudah mengenakan mukena putih saat membangunkanku. Tante Ida memiliki perawakan sedikit gemuk tetapi tidak terlihat gemuk karena Tante Ida memiliki tubuh yang tinggi. Raut wajahnya yang sangat kontras dengan hatinya yang sangat lembut saat mengajariku kemarin malam.
"Hayo, ikut Tante ke dapur!" ajak Tante Ida.
"Mau ngapain Tante ke dapur pagi-pagi begini Tan?" tanyaku heran.
"Mau memasaklah," jelas Tante Ida yang kemudian turun ke lantai bawah dan akupun mengekor dibelakangnya.
Tante Ida yang masih mengenakan mukena, mengeluarkan beberapa jenis sayuran, ikan dan beberapa bumbu masakan dari dalam kulkas.
"Qiana, kamu bersihin sayuran ini kemudian dipotong kecil-kecil ya," terang Tante Ida.
"Ya ampun, selama ini aku belum pernah memasak, jangankan memotong sayuran, memegang pisau saja aku jarang. Bagaimana ini aku belum pernah melakukannya?" gumamku dalam hati.
"Tante, caranya bagaimana? potong- potong sayurannya bagaimana?" tanyaku akhirnya memberanikan diri.
__ADS_1
Dan Tante Ida pun melepaskan mukena yang ia pakai, dan ia pun kembali mengajariku cara membersihan sayuran dengan benar dan bersih dan cara memotong sayuran dengan benar dan harus berhati-hati saat memotongnya. Seperti kemarin malam Tante Ida yang sangat telaten mengajariku cara mencuci piring dengan benar dan bersih sampai tidak meninggalkan aroma sabun sedikitpun di piring.
Selesai mengajariku, Tante Ida melanjutkan sholatnya yang tadi sempat tertunda karena harus mengajariku dahulu. Aku yang memasak sendiri merasakan kebingungan dengan apa yang aku masak. Aku khawatir masakanku tidak sesuai dengan selera Tante Ida dan Om Edi. Tapi aku berusaha selalu mengingat apa yang harus aku lakukan sesuai dengan petunjuk memasak yang Tante Ida berikan sebelumnya.
"Lagi masak apa nih?" tanya Om Edi mengagetkanku dan kini tiba-tiba berada dibelakangku sangat dekat. Dan entahlah keadaan seperti ini apakah dibenarkan, dia menempelkan badannya dibelakangku dengan sangat erat sembari melihat ke arah masakan yang ku masak.
"Masak nasi goreng, Om" jawabku pelan. Om Edi terus melihatku memasak dan kadang aku merasakan hembusan nafasnya dileherku yang membuat bulu kudukku merinding tetapi aku menahannya.
"Qiana, bagaimana nasi gorengnya sudah dikasih garam belum?" tanya Tante ida dengan berteriak dari kamarnya dan seketika membuat Om Edi bergegas pergi ke kamar mandi dan meninggalkanku. Ini membuatku sedikit merasa lega karena jantungku yang berdebar tak karuan, perasaan ini baru pertama kali aku rasakan, karena selama ini aku belum pernah pacaran.
Akhirnya aku selesai memasak sarapan walaupun dengan menu sederhana. Saat kulirik jam, sudah menunjukan pukul 05.45.
Aku meletakkan Nasi goreng dan beberapa telor mata sapi di atas meja makan.
"Assalamu'alaikum," tiba-tiba ada seseorang yang masuk kedalam rumah tanpa adanya izin masuk dari Tante Ida ataupun Om Edi. Saat kutatap dia, Tante Ida menjelaskan bahwa ia adalah pembantu harian yang pagi datang dan pulang sore hari. Saat kulihat dari penampilannya ia hanyalah ibu-ibu biasa, tak ada yang istimewa darinya, memiliki perawakan yang sedikit gemuk dan pendek.
"Mba Narti, ini kenalin Qiana keponakanku dari kampung," ucap tante ida memperkenalkanku kepada mba narti yang sedari tadi juga merasa penasaran denganku.
"Dia nanti tinggal disini dan sekolah disini," sambung Tante Ida.
"oh iya, Bu," jawab mba narti singkat. Dan kembali berjalan menuju ke belakang rumah dan melakukan tugasnya. Aku merasa bingung kenapa aku harus memasak kalau disini ada pembantu. Entahlah hanya tante Ida dan Tuhan yang tahu alasannya.
__ADS_1
"Qiana, kamu mandi dulu dan siap-siap, kamu kan harus daftar sekolah, nanti Tante anter sekalian Tante mau ke sekolah," ajak Tante Ida yang melihatku diam terpaku menatap mba Narti. Tanpa menunggu lama, aku bergegas naik ke lantai dua dan mengambil handuk untuk pergi ke kamar mandi. Kulihat ada Om Edi di balkon yang disulap menjadi taman mini, Om Edi sibuk menyirami beberapa tanaman yang mulai berbunga. Tanpa sadar aku terus memandangnya, sungguh diluar dugaanku bahwa Om Edi ternyata memiliki hati yang lembut juga karena sangat telaten menjaga tamanan disana.
Selesai mandi dan mengenakan pakaian yang rapi dan sopan, aku kembali turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama. Tante Ida juga sudah rapi karena akan pergi kesekolah juga bersamaku. Tetapi hanya ada aku dan Tante Ida yang sarapan bersama, Om Edi tidak terlihat untuk ikut sarapan bersama.
Akupun pergi bersama Tante Ida menuju sekolah yang akan aku daftar, kulihat sekolah itu bernama "SMK PRESTASI" yang jaraknya lumayan jauh dari rumah Tante Ida.
"Na, kamu sekolah disini saja, tidak jauh dari rumah kan? kamu bisa jalan kaki saja kalau pulang sekolah, kalau berangkat kan bisa bareng Tante," kata tante ida menjelaskan.
"Jalan kaki?" batinku mau menangis tapi aku hanya bisa mengangguk tanda setuju. aku hanya bisa bersyukur masih bisa bersekolah.
"Tante pergi dulu ya, disekolah Tante juga sedang ada pendaftaran siswa baru. Kalau kamu sudah selesai dan tante belum kesini, kamu pulang sendiri saja ya. sudah hafal kan jalannya?" tanya Tante Ida yang langsung aku anggukan tanda setuju. Aku pun mendaftar sekolah sendiri, aku kira Tante akan ke sekolah itu maksudnya untuk mendaftarkanku, tetapi hanya mengantarkanku saja. Setelah mendaftar sekolah dan melakukan tes tulis dan tes kesehatan, akhirnya aku pun pulang sendiri dengan berjalan kaki. pengumuman siswa baru akan diumumkan minggu depan.
Setelah berjalan kaki yang memperlukan waktu sekitar tiga puluh menit lamanya ntuk sampai ke rumah Tante Ida.
"Ya ampun pegel banget kakiku," keluhku sambil ku pijat-pijat kakiku yang kelelahan.
Kulihat Mba Narti sedang menyetrika pakaian di lantai bawah sembari menonton tv dan bermain dengan dinda. Dan kupikir tidak ada siapa siapa lagi dirumah. Tante ida pergi ke sekolahnya setelah mengantarku mendaftar tadi pagi dan rupanya pekerjaannya belum selesai. Sehingga aku pun langsung naik ke lantai atas menuju kamarku.
"Ohh, kamu sudah pulang?" tanya Om Edi yang tiba-tiba mengagetkanku yang kupikir Om edi juga pergi bekerja.
"Iya sudah, Om." jawabku singkat.
__ADS_1