
Aku dan Aditpun akhirnya berpisah, aku sadar tujuan Adit kesini bukanlah untuk berbelanja apa lagi berbelanja pakaian. Atau dia juga tak ingin membuatku jenuh dengan terus memperhatikannya bermain game disana.
Aku pun kembali asyik melihat-lihat pakaian disana. Ada beberapa wanita disana yang tengah berkumpul, rasa penasaranku pun datang, aku menghampiri keramaian disana. Betapa terkejutnya aku, disana tengah mengadakan potongan harga besar-besaran. Dari harga yang menurutku mahal kini bisa aku terjangkau olehku.
Tak berpikir lama, aku pun ikut asyik bersama mereka berdesak-desakan untuk memilih-milih pakaian yang cocok denganku. Selesai aku memilih beberapa helai pakaian, aku pun menyobanya dikamar ganti.
"Yang ini pas dengan aku, coba aku lihat harganya dulu," gumamku saat mengenakan salah satu pakaian itu.
"Ya setelah dipotong diskon harganya masih bisa aku bayar," kataku saat melihat harga yang dibandrol di pakaian tersebut.
Aku pun bergegas ke kasir untuk membayarnya, tetapi aku baru sadar saat aku akan mengeluarkan dompetku.
"Dimana dompetku?" tanyaku pada diri sendiri sembari mencari di seluruh tas, tapi tetap tak menemukannya. Tak pantang menyerah, aku pun mencari di setiap tempat yang pernah aku lewati, "mungkin dompetku terjatuh," kataku berusaha berpikir positif.
"Maaf kak, tadi lihat dompet jatuh gak disekitar sini?" tanyaku pada setiap orang yang berada di tempat yang aku datangi. Tetapi hasilnya tetap nihil, dompetku tetap tidak ketemu.
__ADS_1
Aku pun pergi ke tempat Adit bermain game dengan rasa lemas dan putus asa didiriku, karena di dalam dompet itu ada uang tabunganku yang selama ini aku sisihkan selama setahun terakhir, tetapi lenyap begitu saja.
"Sepertinya aku memang belum pantas untuk pergi tanpa pengawasan orang dewasa," gumamku dalam hati.
"Seharusnya aku kesini untuk menjaga Adit, kenapa sekarang aku yang tidak bisa menjaga diriku sendiri," kataku hampir meneteskan air mata.
"Adit," panggilku saat melihatnya tengah asyik bermain.
"Kak Ana sudah selesai belanjanya?" tanya Adit.
"Apa? Kok bisa kak? Bagaimana ceritanya?" pertanyaan beruntun dari Adit.
"Kak Ana juga gak tahu. Ketika kak Ana mau bayar ke kasir, dompet kak Ana gak ada," kataku menjelaskan kronologinya.
"Uangnya cuma seratus ribu ini kan Kak Ana, sudah ya jangan sedih," kata Adit menghibur.
__ADS_1
"Tapi ada uang tabungan Kak Ana juga," kataku sembari menahan air mata yang hampir tak mampu ku bendung lagi.
"Berapa Kak?" tanya Adit.
"Delapan ratus," kataku tak yakin berapa jumlah semua uang yang aku bawa.
"Delapan ratus ribu? kenapa Kak Ana bawa uang banyak-banyak? untung uang Adit, Adit pegang sendiri, jadi kita masih ada uang," kata Adit mencoba mengambil hikmah dari kejadian ini.
Aku tahu Adit berkata seperti itu untuk menghiburku tetapi rasanya seluruh tubuhku lemas tak berdaya merasakan kehilangan yang menurut Adit atau orang lain tidak seberapa ini.
Aditpun akhirnya menyadari kesedihan pada diriku, ia menyudahi permainannya dan mengajakku kembali mencarinya dan membuat laporan kehilangan.
"Sebenarnya kalau kehilangan dompet disini, susah untuk ditemukan, jika terjatuh dan ditemukan oleh orang yang jujur mungkin dikembalikan tapi kalau ditemukan oleh orang yang mengambil keuntungan sepertinya tidak akan dikembalikan," kata Bapak keamanan disana.
"Iya Pak. Aku juga mengerti. Walaupun hanya ada kemungkinan kembali padaku satu persen saja, aku akan berharap pada itu," kataku sedih.
__ADS_1
Aku dan Adit pun memutuskan untuk pulang, rasanya aku tak pantas menjaga Adit karna aku tak bisa menjaga diriku sendiri.