cewek introvert

cewek introvert
saat itu


__ADS_3

Mba Narti melihat kearahku ketika sedang menelefon suaminya. Aku hanya memberikan ekspresi penasaran tentang apakah mendapatkan izin suaminya atau tidak.


Ku melihat Mba Narti menghela nafas, aku merasa suaminya tidak memberikan izin untuk tinggal disini. Aku pun pasrah jika memang seperti ini keadanya, setidaknya aku sudah mencoba menahan Mba Narti.


Mba Narti menghentikan pembicaraan dengan suaminya dan mulai berjalan mendekatiku dengan memasang wajah yang sepertinya menyesal.


"Bagaimana Mba?" tanyaku penasaran ketika Mba Narti sudah berada didepanku.


"Iya, Mba boleh tidur disini," kata Mba Narti yang seketika merubah ekspresi mukanya seperti sedang menggodaku.


"Serius Mba?" tanyaku tak percaya.


"Iya, serius!" kata Mba Narti menyakinkanku kembali. Akhirnya kini aku bisa bernafas dengan lega.

__ADS_1


"Kamu belum pulang?" tanya Om Edi saat pulang kerja dan masih melihat Mba Narti belum pulang.


"Iya, Pak. Saya disuruh Neng Ana buat temani Neng Ana disini," jawab Mba Narti.


"Oh," hanya kata itu yang keluar dari mulut Om Edi. Tanpa memberikan pendapat dan memasang wajah kecewa, Om Edi pergi meninggalkan kami.


*******


Pagi pun sudah menjelang, aku melewati malam ini tanpa rasa khawatir menderaku. Semua ini karena ada Mba Narti yang memberikan rasa aman kepadaku, tetapi apa Mba Narti akan mau tinggal semalam lagi disini. Mengingat, Tante Ida baru akan kembali besok sore.


"Kayanya gak bisa, Neng. Kemarin Mba Narti izin ke suami hanya tidur semalam disini," tolak Mba Narti. Seketika aku merasakan seperti sesak nafas.


"Coba Mba Narti minta izin lagi," kataku terus berupaya.

__ADS_1


"Maaf, Neng. Mba Narti gak bisa. Lagian semalam Mba Narti disini gak terjadi apa-apa kan, Bapak orang baik kok, Neng." kata Mba Narti berusaha menyakiniku semuanya akan baik-baik saja tanpa dia.


Saat sore hari, Mba Narti pun pamit untuk pulang kerumahnya. Ingin rasanya aku kembali menahannya, tapi aku mengerti jika ia juga memiliki keluarga.


Saat itu, Om Edi pun baru kembali dari kerjanya. Hatiku semakin tak karuan, ketakutanku kembali menderaku. Tetapi masih ada Dinda disini, setidaknya Om Edi tak akan berani melakukan sesuatu jika aku bersama Dinda. Tetapi bagaimana jika Dinda sudah tidur, apa yang akan terjadi padaku. Begitu banyak kekhawatiranku didalam benakku.


Benar saja, saat aku sudah menidurkan Dinda, aku keluar kamar Om Edi. Dan Om Edi sudah menungguku di depan pintu. Betapa terkejutnya aku melihat Om Edi.


"Om, Mau bicara sebentar," kata Om Edi sambil menyuruhku untuk duduk dikursi di dekatnya. Tetap aku memilih untuk duduk sedikit menjauh darinya.


"Om, sayang sama kamu." kata Om Edi membuka percakapan kami.


"Om, aku ini kan keponakan Om, seperti Om salah mencurahkan kasih sayang Om, Om seharusnya lebih sayang terhadap Tante Ida dan anak-anak Om. Om gak seharusnya seperti ini sama aku," kataku yang ingin meluapkan semua emosi yang selalu berada dibenakku.

__ADS_1


"Iya, kamu benar. Tapi rasa sayang dan suka itu tidak bisa Om atur. Dulu, sebelum kamu hadir, Om sangat menyayangi Tante Ida. Entah kenapa, setelah kehadiran kamu Om merasa perasaan Om untuk Tante Ida kian hari semakin menipis. Apalagi kamu tahu sendiri, Tante kamu itu sibuk sekali. Padahal Om sudah kerja, tetapi kenapa Tante kamu itu masih harus kerja keras lagi," kata Om Edi menerangkan perasaannya.


"Om, mungkin Tante ida bekerja menjadi guru bukan untuk mencari uang. Tetapi semata-mata karena Tante Ida memang ingin membagikan ilmunya kepada murid-murid di sekolah," kataku menjelaskan. Aku memang tak begitu dekat mengenal Tante Ida, tetapi Selama setahun ini aku bisa merasakan jika Tante Ida sangat menyukai profesinya sebagai guru.


__ADS_2