
Om Edi pun melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan pelataran parkir yang menjadi saksi bisu perbuatan Om Edi kepadaku. Sepanjang perjalanan, ingin rasanya aku kembali memejamkan mata tetapi memikirkan perbuatan Om Edi yang tak mengantarku pulang, membuatku memutuskan untuk tetap terjaga.
"Kalau lelah, istirahat saja," ujar Om Edi memberi saran kepadaku, mungkin aku menampakan paras yang sangat kelelahan.
"Ga mau, nanti Om Edi ga antar aku pulang lagi. Nanti Om membawa aku ke tempat lain lagi." kataku kesal.
"Ke tempat lain? maksudnya bagaimana?" tanya Om Edi pura-pura tidak mengerti. "menyebalkan," gumamku dalam hati.
"Ya jangan-jangan nanti Om Edi malah belok ke Hotel lagi." jawabku asal.
"Ke Hotel? boleh juga ide kamu. Jadi sekarang kita ke Hotel saja." kata Om Edi serius.
"Jangan, Om. Aku ga mau. Sekarang sudah hampir jam empat, sebentar lagi Tante Ida pulang kerumah." kataku memelas dan memohon Om Edi tidak melakukan apa yang ia ucapkan. Ia menyesal telah sembarangan berucap dan semakin memprovokasi Om Edi untuk melakukan hal yang lebih kepadaku.
"Hahaha," Om Edi malah tertawa mendengar perkataanku.
"Kenapa Om?" tanyaku bingung dengan tawanya yang sangat menggelikan itu.
"Om cuma bercanda saja. Lihat ekspresi kamu sungguh lucu dan menggemaskan sayang, hahaha." kata Om Edi dan melanjutkan tawanya dengan puas.
Akhirnya kami sampai dirumah, Tante Ida belum sampai di rumah.
"Uhh, selamat," bathinku menghela nafas saat mengetahuinya.
"Kak Ana, koq pulangnya lama sekali. Dinda kan mau bobo siangnya bareng kakak Ana saja," rengek Dinda saat aku memasuki rumah.
__ADS_1
"Jadi Dinda belum bobo siang?" tanyaku.
"Sudah." jawabnya dengan gaya memanyunkan mulutnya yang membuatnya semakin lucu dan menggemaskan.
"Maafin Kak Ana ya, tadi Kak ana ada tugas dari guru." ucapku berbohong.
"Bagaimana kalau Kakak mandiin Dinda saja," kataku memberi saran.
"Baiklah, aku mau mandi sama Kak Ana saja." kata Dinda.
"Kakak naik ke kamar sebentar ya, nanti kakak turun lagi. Oke," kataku dan pergi meninggalkan Dinda.
******
Hari minggu, seperi biasa aku ditinggal dirumah sendirian, karena Tante Ida, Om Edi dan Dinda pergi ke car free day. Dan Mba Narti libur bekerja di hari minggu.
Aku membuat puding coklat dengan vla vanilla dan membuat camilan yang sederhana lainnya. Setelah selesai membuat camilan dan menyimpannya di kulkas, kudengar ada seseorang yang memanggil-manggil namaku dari luar rumah.
"Ohh, Nur sudah datang." gumamku dalam hati dan segera keluar untuk membukakan pintu untuknya.
"Tiar dimana?" tanyaku karena kami berjanji kerja kelompok bersama Tiar juga.
"Tiar ga bisa ikutan." jawab Nur.
"Bagaimana sih Tiar, mau enaknya saja. Pokoknya aku ga mau tahu, bab tiga harus dia yang menyusunnya," kataku kesal.
__ADS_1
Aku dan Nur pun langsung naik ke lantai dua untuk mengerjakan tugas pkl yang sudah harus dikumpulkan sebelum ujian kenaikan kelas tiga.
"Wah cantik banget pudingnya," puji Nur saat aku membawakan puding buatanku.
"Tante kamu repot-repot banget bikinin aku puding." sambung Nur merasa terharu.
"Aku yang membuatnya, Tante aku mah pergi ke car free day dari pagi.
"Beneran kamu yang bikin, enak banget ini." puji nur saat mulai menyantapnya.
"Iya memang ga percaya kalau aku yang membuatnya?" tanyaku ketus.
"Iya, jarang kan anak-anak seusia kita bisa memasak." kata Nur memberikan alasan.
"Memang ga boleh kalau seusia kita bisa memasak?" tanyaku lagi.
"Bukan ga boleh. Justru aku bangga dan membuatku iri ingin belajar memasak seperti kamu juga." kata Nur.
"Tapi aku malah ingin seperti kamu Nur, bisa main dan kumpul-kumpul sama teman-teman yang lain sepuas hati." kataku iri.
"Janganlah, enak jadi kamu koq. Tante kamu tuh sayang banget sama kamu makanya ga mau kamu terjerumus pergaulan yang bebas." kata Nur menghiburku.
"Iya sih."
Selesai menyantap camilan-camilan yang aku buat, kami pun melanjutkan mengerjakan laporan praktek kerja lapangan.
__ADS_1
"Aku sakit perut nih, aku numpang ke kamar mandi ya." kata Nur sambil memegang perutnya. Aku pun menunjukan kamar mandi dan ia pun bergegas dengan cepat menuju kamar mandi.