cewek introvert

cewek introvert
harapan palsu


__ADS_3

Malam hari ini terasa begitu panjang, ketika aku yang terlelap pulas tanpa mengunci pintu. Om Edi yang setiap malam melakukan pemeriksaan keamanan setiap pintu sebelum pergi tidur pun menyadari. Om Edi melihat lampu kamar ku yang masih menyala dan sepertinya aku memancing om edi untuk masuk ke dalam kamarku.


"Creekk," suara pintu kamarku terbuka. Yang Om Edi lakukan ternyata dia merapihkan buku-buku yang ada di atas ranjangku, dia pun membelai rambutku yang panjang, mendaratkan ciuman dikeningku dan menarik selimut untukku. Untuk sesaat Om Edi terdiam hanya memandangiku dan kemudian mematikan lampu dan pergi keluar dari kamarku.


aku sebenarnya terbangun saat om edi merapihkan buku-buku ku. Aku memilih untuk diam ingin mengetahui saja apa yang akan dia lakukan padaku. Tapi perilakunya tadi membuatku semakin bingung, apakah aku harus membencinya atau tidak. Karena dia yang mesum bahkan tidak mencuri kesempatan saat aku tertidur.


******


Setiap hari kak Trisna selalu datang menghampiriku ke kelas saat istirahat dan saat akan pelajaran usai untuk pulang bersama tetapi justru membuat rumor kalau aku dan Kak Trisna sudah menjalin kasih. Aku ingin menepis rumor tersebut tetapi sepertinya percuma karena tidak mungkin aku menjelaskan kesetiap orang.


"Udah ngaku saja kalau sudah jadian!" ledek Arin di dalam kelas.


"Beneran belum koq." jawabku


"Kalau Kak Trisna nembak, kamu mau terima jadi pacarnya?" tanya Selvi.


"Entahlah." jawabku bingung karena selama ini aku hanya menganggap Kak Trisna murni sebagai seorang teman, aku hanya ingin memiliki seorang teman laki-laki. Bahkan sikap Kak Trisna yang dewasa membuatku nyaman dan menganggapnya sebagai kakak laki-laki yang tak pernah kumiliki.


"Sudah terima saja." kata nur kegirangan.


"Apaan sih? Aku ga begitu suka sama Kak trisna, aku hanya anggap murni sebagai teman saja," jawabku jujur.


"Ga apa-apa, lama kelamaan juga nanti kamu bakal suka sama Kak Trisna." kata Nur menyemangatiku untuk pacaran dengan kak trisna.

__ADS_1


"Kak trisna itu sangat baik buat aku, aku ga mungkin tega kalau harus bohongi dia." jawabku yang mampu membungkam mulut mereka untuk diam.


"Kalau kamu memang ga suka, jangan beri harapan palsu dong ke Kak Trisna," celetuk Neni yang membuatku berpikir sejenak.


"Memangnya aku memberi harapan palsu ya?" tanyaku polos.


"Iya lah." sahut yang lainnya kompak.


"Tapi kan aku ga enak hati, kalau dia kesini mau ketemu sama aku, masa aku bilang ga mau, aku harus bagaimana?" tanyaku bingung.


"Ya kalau bisa kamu menghindar pelan-pelan, nanti juga Kak Trisna merasakan penolakan kamu." terang Neni yang menurutku pemikirannya sangat bijaksana.


Ketika akan pulang sekolah, aku memikirkan kata-kata Neni. Tapi bagaimana aku menolaknya untuk pulang bersama. Akupun mengeluarkan ponselku.


"Tante, aku pulang jam 4. Nanti pulang bareng ya." pesanku kirim ke Tante Ida.


"Iya ada tugas tambahan jadi pulang agak sore." balasku lagi.


"Ya sudah." balasnya cepat.


"Kak Trisna, maaf ya hari ini aku ada tugas tambahan bareng temen-temen, jadi aku ga bisa pulang bareng Kakak hari ini," kataku saat bertemu Kak Trisna yang sudah menunggu di depan kelas.


"Ya sudah, Kakak tunggu kamu saja. Kamu selesaiin saja tugas kamu, kakak tunggu diluar," kata Kak Trisna.

__ADS_1


"Ga usah kak, nanti pulang sore dan aku juga akan di jemput Tanteku," kataku memberikan alasan.


Sebenarnya tidak ada tugas tambahan, jadi sembari menunggu Tante Ida menjemput dua jam lagi, aku memutuskan pergi ke perpustakaan sekolah yang selalu buka hingga petang karena banyak siswa yang pulang hingga petang.


Aku memilih-milih buku yang akan aku baca. ketika aku sedang melihat-lihat buku, pandanganku teralihkan saat aku melihat Kak Fian juga sedang serius membaca buku sambil berdiri. Sinar matahari, kak fian dan posisi berdiri saat membaca membuat komposisi yang membuatku terpesona. dengan sinar matahari yang menyinari kak fian dari luar, sosok kak fian agak menjadi kabur, gelap dan wajah yang serius memberikan kesan yang misterius. Aku terus memandangi pemandangan indah ini. Kak Fian pun menyadari jika ada sepasang mata yang terus menatapnya, ia menoleh ke arahku dan tersenyum.


"Koq belum pulang?" tanya Kak Fian.


"Iya belum kak, mau cari buku dulu." jawabku sekenanya.


"Oh iya, maaf ya kamu ga lulus jadi pengurus Osis," kata Kak Fian menyesal.


"Oh iya, Kak. Lagian juga aku ga terlalu berniat ikut, visi dan misi aku saja tidak jelas karena belum mempersiapkannya. Aku juga saat itu sangat gugup kak ditonton banyak orang. Jadi Kakak tidak usah merasa menyesal karena itu," kataku menjelaskan.


"Iya, Kakak sudah mencoba agar Fajar mau menerima kamu, tapi dia berkata kamu ga memiliki kepercayaan diri. Entah visi dan misi itu bagus atau tidak, tapi seseorang harus memiliki kepercayaan diri dengan idenya. Jika dia saja tidak percaya diri mengungkapkan idenya, bagaimana kita bisa percaya dengan kata-katanya," ungkap Kak Fian menjelaskan.


"Iya kak, ga apa-apa koq. Beneran aku terima keputusan ketua Osis," kataku menghibur Kak Fian yang sepertinya terus merasa menyesal.


"Oh iya, kamu mau cari buku apa? biar Kakak bantu carikan." tanya Kak Fian.


"Buku apa saja Kak." aku pun bingung mau cari buku apa, karena niat ke perpustakaan hanya untuk menghabiskan waktu menunggu Tante Ida menjemput.


"Koq begitu?" tanya Kak Fian.

__ADS_1


"Iya kak, buat iseng baca-baca saja." jawabku dan Kak Fian pun memberikan buku yang sedang ia baca padaku.


"Ini juga bagus buat di baca." memberikan sebuah buku padaku.


__ADS_2