cewek introvert

cewek introvert
khawatir


__ADS_3

Aku pun turun untuk membukakan pintu depan untuk Mba Narti. Sepertinya Om Edi masih tertidur, karena aku tak melihat sosok Om Edi dibawah.


"Mba Narti, kenapa lama sekali kesininya?" tanyaku ketika akan membukakan pintu untuknya.


"Biasa Mba Narti kesini jg jam segini koq, Neng." kata Mba Narti beralasan karena takut jika kena marah.


"Iya, aku cuma kesepian ja Mba, makanya terasa lama Mba Narti gak datang-datang." kataku menenangkan Mba Narti.


"Oh begitu, Mba kira karena mba memang datang terlambat," kata Mba Narti. Memang Mba Narti sedikit datang terlambat tapi tetap saja aku merasa aman ada Mba Narti di rumah ini. Ingin rasanya malam ini Mba Narti tidur disini menemaniku. Aku tidak berani membayangkan kembali jika hanya berduaan dengan Om Edi.


Aku dan Mba Narti pun masuk kedalam rumah, Mba Narti memulai semua tugas-tugasnya dan akupun mulai sibuk menyiapkan sarapan. Seperti yang Tante Ida pesankan, aku harus membuat sarapan dan bubur untuk dinda. Tak butuh waktu lama untukku membuat sarapan, mungkin pepatah yang mengatakan bisa karena terbiasa itu benar adanya. Aku semakin mahir dalam urusan dapur.

__ADS_1


Ketika aku sedang menata meja makan, aku mendengar suara pintu kamar Om Edi terbuka. Aku pun secara refleks, menoleh ke arah kamar Om Edi. Khawatir jika Om Edi melakukan hal-hal yang mesum kepadaku.


Tetapi kekhawatiranku sepertinya sia-sia saja, Om Edi bahkan tak mengindahkanku didepannya. Ia mengabaikanku dan berlalu pergi meninggalkanku, "Apakah ini hal baik yang patut ku syukuri sekarang? Atau ada sesuatu rencana lain dari Om Edi?" begitu banyak pertanyaan dalam benakku.


******


"Mba Narti, malam ini mau gak kalau tidur disini saja?" tanyaku saat ada kesempatan mengobrol dengan Mba Narti.


"Memangnya kenapa?" tanya Mba Narti penasaran.


"Bagaimana ya Neng, Mba Narti dirumah juga kan ada suami dan anak-anak yang harus Mba Narti layani." jawab Mba Narti menolak ajakankanku.

__ADS_1


Aku merasa putus asa karena aku tidak bisa memaksa Mba Narti untuk tinggal bersamaku disini untuk beberapa hari. Alasan yang diberikan Mba Narti memang masuk akal, ia juga kehidupan sendiri yang harus ia urusi.


"Mba Narti, bagaimana kalau Mba minta izin ke suami Mba dulu?" kataku mencoba menahan Mba Narti saat Mba Narti akan pulang kerumah sore hari.


"Ada apa sih Neng?" tanya Mba Narti semakin penasaran.


Aku bingung, apakah aku harus menceritakannya pada Mba Narti atau tidak. Tetapi jika aku tidak ceritanya Mba Narti mungkin tidak mau untuk tinggal disni sementara waktu.


"Begini Mba Narti, hubungan aku dan Om Edi kan memang Om dan keponakan, tetapi kami kan tetap bukan muhrimnya Mba. Aku merasa tidak nyaman berada serumah dengan Om Edi. Aku mohon ya Mba Narti bisa mengerti keadaan aku," jawabku masih berusaha menutupi perbuatan Om Edi dengan memasang wajah yang menyedihkan.


"Oh ya sudah, Mba Narti coba telpon izin ke suami dulu ya Neng," kata Mba Narti sedikit memberiku ruang untuk bernapas.

__ADS_1


"Oh iya tentu, Mba Narti harus minta izin ke suami Mba dulu," jawabku sedikit bernafas lega.


Aku memperhatikan Mba Narti dari kejauhan yang sedang mencoba menghubungi suaminya, dalam hatiku tak pernah berhenti berdoa semoga suami Mba Narti memberikan izin Mba Narti untuk tinggal sementara waktu disini.


__ADS_2