
Semenjak hari itu aku tidak mau jauh-jauh dari pandangan Dinda dan Mba Narti agar aku terhindar dari pelecehan yang Om Edi lakukan padaku. Sebisa mungkin aku selalu bersama Dinda.
Tak terasa akhirnya hari ini aku masuk sekolah, tapi tetap dengan aktifitas seperti biasa yang harus bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan dan membuat bubur sehat untuk Dinda. Setelah sarapan, aku berangkat ke sekolah bersama dengan Tante Ida.
"Tante pulang mengajar sekitar jam 4 sore, kalau mau bareng tunggu disini saja, kalau mau pulang sendiri ya jalan kaki." kata Tante Ida berada dimobil.
"Iya tante," jawabku. Kemudian aku cium tangan Tante ida dan membuka pintu mobil.
"Jangan lupa kirim pesan kalau mau pulang sendiri ya," sambung tanye ida yang aku balas dengan anggukan dan turun dari mobilnya.
Dan Tante Ida pun melaju mobilnya kembali meninggalkanku.
"Bismillah," kataku memantapkan langkahku.
Berjalan memasuki sekolah yang baru, dan teman-teman yang baru yang masih asing untukku.
Ketika aku memasuki kelas satu akuntansi tiga, terdapat siswi-siswi yang sudah ramai berkenalan. Aku memilih bangku ketiga di pojok samping jendela.
"Hai, aku boleh duduk disini ga?" tanya seseorang yang memecahkan lamunanku.
"Boleh, silahkan." jawabku mempersilahkan dia untuk duduk disebelahku.
__ADS_1
"Namaku Nur, kamu siapa?" tanya Nur memperkenalkan diri.
"Aku Qiana," jawabku dan kami pun melanjutkan sesi tanya jawab seperti wartawan.
Nur mampu membuatku merasa nyaman dengannya. Dan kami pun cepat akrab. Perkenalan berlanjut dengan teman yang duduk di depan kami, ada Nova dan Neni. Dan yang duduk dibelakang kami ada Arin dan Selvia. Kami pun merasa sudah akrab sekali di hari pertama masuk sekolah karena sosok Nur yang sangat periang dan tidak membosankan.
Hari pertama sekolah tidak asing dengan istilah Masa Orientasi Siswa atau MOS. Dan kami pun melewati MOS dengan gelak tawa. tidak ada kakak kelas yang galak ataupun yang mengintimidasi.
Tapi tetap saja kami harus berdandan seperti yang diperintahkan kakak kelas, rambut kami harus dikuncir tujuh dengan warna pita yang berwarna-warni. Membawa tas sekolah yang berbahan plastik hitam dan banyak lagi.
Diam-diam aku memperhatikan kakak kelasku yang menurutku manis, dia bernama kak alfiansyah biasa dipanggil kak fian. Dia memiliki kulit sawo mateng dan lesung pipinya menambah ketampanannya. Dia selalu memakai seragam dengan rapi dan rambut yang disisir rapi. Benar-benar menarik perhatianku. Sekilas penampilan nya mirip Om Edi, sepertinya Om Edi sudah membuatku terpesona, sehingga tanpa sadar aku menyukai tipe laki-laki seperti Om Edi.
Akhirnya sekolah pun usai, kami berhamburan keluar sekolah. aku menatap jam di handponeku menunjukan pukul 12.35 jika aku menunggu Tante Ida pasti masih harus menunggu lama dan aku pun mengirim pesan kepada tanteku.
"Tante pulang jam berapa?" kirim pesanku. ya mungkin saja hari pertama tante ida akan pulang cepat.
"ting" bunyi pesan masuk dan aku pun langsung membukanya. Tante ida membalas pesanku dengan isi kalau Tante masih berada di sekolah dan masih lama pulangnya karena ada rapat dengan guru-guru.
"Ya sudah aku pulang sendiri saja," pesanku.
"Hati-hati di jalan ya," pesan Tante Ida yang aku abaikan karna tak ingin membalasnya lagi.
__ADS_1
Ketika aku berjalan kaki, ternyata banyak juga siswa-siswi yang lainnya yang berjalan kaki. Membuatku merasa tidak kesepian, walaupun aku berjalan sendirian.
"Kak Ana," sambut Dinda kepadaku saat aku pulang sekolah.
"Dinda belum bobo siang?" tanyaku sambil membuka sepatu.
"Belum kak, Dinda mau bobo sama kak Ana saja," rengeknya.
"Ya sudah bentar ya, Kak Ana mau bersih-bersih dulu." jawabku yang membuat dinda kegirangan.
"Iya dari tadi sudah disuruh tidur siang neng, tapi ga mau terus." jelas mba narti kepadaku.
"Iya ga apa-apa Mba Narti, nanti Dinda tidur sama saya saja," jawabku. Kemudian aku masuk ke dalam kamarku untuk mengganti seragamku.
"Dinda, ayo kita bobo!" ajakku. Aku dan Dinda pun masuk kedalam kamar Tante Ida.
"Kak, pakai Ac saja," ucap dinda ketika aku ingin menyalakan kipas angin.
"Ya sudah." aku pun menyalakan Ac di kamar itu karena memang cuaca sedang panas-panasnya. Apalagi aku yang habis panas-panasan dijalan.
Akupun menepuk-nepuk dan kadang mengelus-elus punggung dinda agar cepat tertidur. Dan tanpa sadar akupun ikut tertidur bersamaan dengan Dinda yang juga sudah tidur di kamar Tante Ida.
__ADS_1