cewek introvert

cewek introvert
who moved my cheese


__ADS_3

Kuambil buku yang Kak Fian berikan padaku. Kulihat buku yang bersampul kuning dengan judul who moved my cheese. Tebalnya yang lebih dari 100 halaman itu mampu menarikku untuk membacanya.


"Sepertinya menarik kak," ujarku ketika aku memulai membaca dengan sinopsisnya.


"Iya, coba saja kamu lanjutkan membacanya." sahut Kak Fian.


Aku pun membaca buku bersampul kuning tersebut. Buku yang menceritakan tentang binantang pengerat, tikus-tikus yang harus menghadapi masalah saat ladang tempatnya mencarinya makanan sudah tidak dapat menghasilkan makanan, tikus harus mampu beradaptasi dengan perubahan itu, atau tikus yang tidak mampu beradaptasi dan hanya diam tidak akan menghasilkan perubahan.


Aku menyelesaikan membacanya kurang dari satu jam, karena bukunya yang tidak membosankan dengan kata-kata yang lebih sederhana dan mudah dipahami.


"Sudah selesai membacanya?" tanya Kak Fian ketika melihatku menutup buku.


"Iya kak sudah, bukunya bagus. Kurang lebih seperti keadaanku yang harus beradaptasi dengan perubahan," kataku tanpa sadar mengatakan kisah hidupku.


"Benarkah?" tanya Kak Fian lagi.


"Ya, kurang lebih begitu kak" jawabku tak ingin Kak Fian mengetahui hidupku yang sudah tak memiliki orangtua lagi dan harus menghadapi perubahan dengan diadopsi keluarga Tanteku yang berbeda sangat jauh dengan pola mendidiknya.


Ponselku berdering dan ketika aku melihat tertera nama Om Edi yang menelepon. Aku pun izin keluar dari perpustakaan ke Kak Fian.


"Hallo," jawabku sedikit ketus meladeni Om Edi.


"Kamu dimana? Om sudah di depan sekolah kamu?" tanya Om Edi.


"Om mau ngapain disekolahku?" kataku malah berbalik bertanya.


"Mau jemput kamu, cepetan Om tunggu diluar sekolah." Om Edi pun menutup teleponnya.

__ADS_1


"Ngapain sih Om Edi kesini?" gumamku dalam hati. Aku pun kembali ke perpuatakaan untuk mengambil tasku yang berada didalam perpustakaan, kulihat Kak Fian yang masih serius membaca disana.


"Kak, aku pulang duluan ya. Aku sudah dijemput," kataku pamit ke Kak Fian.


"Oh, oke." jawabnya singkat.


Ketika akan keluar, aku sempat khawatir jika Kak Trisna akan menungguku diluar sekolah. Aku pun keluar sekolah dengan was-was dan mencari mobil berwarna putih milik Om Edi. Ketika aku melihatnya, aku pun segera menghampirinya.


"Koq Om yang jemput?" tanyaku penasaran saat aku masuk kedalam mobilnya.


"Iya tadi Om ada kunjungan kerja diluar, jadi pulang cepat karena sudah kangen sama kamu tapi sampai rumah kamu belum pulang. Jadi Om kesekolah kamu buat jemput." jelas Om Edi sambil mengelus pipiku yang langsung kutepis tangannya.


"Tadi aku sudah kirim pesan ke Tante buat jemput koq," sahutku.


"Ya sudah sekarang kamu kirim pesan lagi ke Tantemu. bilang kamu sudah pulang." saran Om Edi dan akupun segera mengeluarkan ponselku dari tas dan mengirimi tante pesan.


"Tante, aku sudah pulang dijemput Om Edi," pesanku yang kukirim ke Tante ida.


"Aku bilang, Om Edi sudah jemput aku," kataku.


"Kenapa bilang dijemput Om Edi?" tanya Om Edi.


"Memang kenapa? kan memang aku di jemput sama Om Edi," kataku jujur.


"Ya sudah ga apa-apa," kata Om Edi dan kini melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan aku terus memalingkan pandangananku ke jendela. Tak menanggapi pertanyaaan dan gombalannya lagi. Dan Om Edi pun menyerah, kini disisa perjalanan kami pun sangat hening. Tercipta suasana yang sangat canggung.

__ADS_1


Ketika sampai dirumah, aku memilih langsung keluar dari mobil Om Edi karena takut kejadian terakhir kali saat berada digarasi mobil. Aku yang terburu-buru menaiki tangga pun malah terpeleset dan jatuh dari beberapa anak tangga. Mba Narti dan Dinda yang tidak tahu aku pulang pun terkejut saat mendengar suara aku jatuh.


"Ya Tuhan, Hati-hati neng kalau naik tangga," kata Mba Narti saat melihatku terjatuh.


"Neng, kamu ga kenapa-napa kan?" tanya Mba Narti saat menolongku dan mencoba membangunkanku yang terjatuh di lantai.


"Aduh, sakit Mba?" kataku mengeluh sakit saat berusaha berdiri.


"Ada apa ini?" tanya om edi ketika melihat Mba Narti mencoba membangunkanku, tetapi tak bisa karena sepertinya kakiku terkilir.


"Ini pak, Neng Ana tadi jatuh dari tangga," jawab Mba Narti.


Tanpa perintah, Om Edi pun mengangat tubuhku dan menggendongku lekat di tubihnya. Om Edi membawaku menaiki tangga hingga menuju kamarku. Saat aku berada di gendongan Om Edi, aku menyempatkan melihat Mba Narti dan Dinda yang kembali bermain.


"Mba Narti, kenapa ga ikut aku ke kamar sih? Nanti kalau Om Edi macam-macam sama aku bagaimana ini?" gumamku dalam hati.


Jantungku terus berdebar tak karuan saat digendong Om Edi. Saat sudah sampai kamarku, Om Edi merebahkan tubuhku di ranjang.


"Kamu kalau minta di gendong sama om bilang saja, jangan begini caranya. Sekarang kan kaki kamu jadi terkilir," kata Om Edi mulai mengomel.


"Lain kali, kalau naik tangga harus hati-hati ya," sambung Om Edi.


Aku yang mendengar hanya mengangguk karena melihat wajah Om Edi yang tersirat rasa khawatir kepadaku. Om Edi kini melihat-lihat kakiku yang terkilir.


"Auuwh, sakit om," ketika om edi mencoba memegang kakiku. Dan Kulihat Om Edi keluar dari kamarku dan kembali membawa minyak gosok untuk memijat.


"Tahan sedikit ya," perintah om edi yang kini sedang memijat kakiku yang terkilir.

__ADS_1


*****


maaf ya sebagian aku hapus bagian dewasanya...


__ADS_2