
Sesampainya dirumah, Tante Ida yang sebelumnya sudah mendapatkan kabar yang menimpaku pun penasaran dengan apa yang terjadi padaku.
"Bagaimana sih kamu bisa kecopetan begitu?" tanya Tante Ida. Pertanyaan yang aku sendiri juga tidak tahu jawaban. Dan akupun hanya menggeleng lemas.
"Kenapa kamu bawa uang banyak sekali? kamu dapat uang dari mana?" tanya Tante Ida lagi.
"Itu uang tabungan aku Tante," jawabku.
"Kok bisa kamu punya uang, padahal Tante jarang kasih kamu uang kan," Tante Ida yang tak percaya padaku.
"Benar Tante, itu uang yang aku simpan selama setahun ini," jawabku menyakinkan keraguan Tante Ida.
Tante Ida pun tak mempermasalahkannya lagi dan menyuruhku untuk beristirahat.
****
"Tok,,, tok,,," suara pintu diketok. Akupun memeriksa siapa yang bertamu malam-malam begini.
"Siapa ya?" tanyaku pada sosok wanita didepanku. Dia bersama anak perempuannya yabg berusia delapan tahunan dan seorang laki-laki yang tengah sibuk memarkirkan motornya.
"Kamu siapa?" tanya balik wanita itu.
"Aku keponakan Tante Ida," jawabku.
__ADS_1
"Oh, aku adik iparnya Tante Ida," jawabnya. Tante Ida yang mendengar pun segera menghampiri kami dan menyuruh mereka untuk masuk kedalam rumah.
"Na, tolong buatkan mereka minuman dan bawakan juga kue-kue yang ada ya," pinta Tante Ida.
"Iya," jawabku dan bergegas pergi. Entah mengapa aku memiliki perasaan yang tak suka padanya.
"Ini minumnya, Tante," kataku saat menyungguhi minuman.
"Na, ini Tante Rini, dia ini adiknya Om Edi yang paling bungsu," terang Tante Ida.
"Iya, Tante," aku pun mencium tangannya adik Om Edi. Setelah selesai mengantarkan minuman dan beberapa makanan ringan, aku pun pergi menuju kamarku dan memilih untuk memejamkan mataku.
Aku yang tengah terlelap pulas, tiba-tiba harus terbangun karena pintu kamarku diketuk oleh Tante Ida.
"Na, karena sudah larut malam Tante Rini malam ini akan bermalam disini, kamu tolong bersihkan kamar Adit ya," pinta Tante Ida.
Ingin rasanya mengeluh kepada Tante Ida tapi apa daya Tante Ida disini hanya menganggap aku hanyalah sebagai pembantunya yang harus patuh dengan semua perintahnya. sekarang aku mengerti, segala bentuk perhatiannya kepadaku hanya semata-mata agar aku bisa merasa nyaman disini. Aku seharusnya tak patut memiliki perasaan jika Tante Ida juga menganggapku sebagai anaknya.
*****
Karena minggu pagi ini ada tamu, membuatku lebih sibuk dari hari minggu-mingu lainnya. Bukan hanya mempersiapkan sarapan yang lebih banyak tapi aku juga harus membuat beberapa kue dan disukai Tante Ida dan Tante Rini.
Selesai memasak, aku pun membersihkan rumah dengan memulai menyapu dari lantai atas. Aku membersihkan bahkan merapihkan kamarku dan kamar Adit yang ditiduri oleh Tante Rini. Selesai menyapu lantai atas akupun mengepelnya, dan turun membersihkankan lantai bawah.
__ADS_1
Aku menyelesaikan semuanya hingga menjelang siang, rasanya badanku sudah dipenuhi dengan keringat. Aku pun memutuskan untuk pergi mandi.
"Na, Na," suara Tante Ida memanggilku. Aku yang telah selesai mandi pun bergegas berpakaian dan turun kebawah.
"Ada apa Tante?" tanyaku.
"Tante Rini kehilangan uangnya di dompet, kamu lihat gak?" tanya Tante Ida.
"Gak Tante, aku tadi cuma merapihkan tempat tidurnya, menyapu dan mengepel saja Tante," jawabku polos.
"Oh ya sudah," jawab Tante Ida. Aku pun pergi dan meninggalkan mereka yang kembali asyik berbincang.
Pada sore hari, Tante Rini dan keluarga pun pamit pulang. Rasanya lega mereka pulang, ada mereka disini sedikit membuatku merasa tidak nyaman.
Tapi kepergiannya, ternyata meninggalkan masalah untukku.
"Na, kamu jujur saja sama Tante, kamu yang ambilkan uang Tante Rini? kamu kan kemarin habis kecopetan, jadi kamu butuh uang kan?" tanya Tante Ida yang membuatku sangat sedih.
"Tante, aku benar-bebar gak tahu, aku juga gak ambil uang Tante Rini," jawabku masih bersabar dengan kata-kata Tante Ida.
"Tapi kata Tante Rini, yang ambil uangnya itu kamu," kata Tante Ida yang menyulutkan emosiku.
"Tante, memang Tante Rini punya bukti apa kalau aku yang ambil? dan Tante Ida harusnya lebih paham kan kenapa memfitnah itu lebih kejam dari pembunuhan?" kataku sedikit meninggikan suaraku karena amarahku yang untuk pertama kalinya difitnah melakukan sesuatu yang tak aku lakukan.
__ADS_1
"Ssstt!" Tante Ida menyuruhku untuk mengecilkan suaraku karena takut terdengar Adit atau Om Edi
******