
Aku terus memikirkan kata-kata Ani yang menurutku ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.
"Tiiiin," suara klakson mobil yang membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh ke suara, "Bikin orang kaget saja, mau lewat ya lewat saja segala membuat orang jantungan," umpatku dalam hati.
Aku pun bergegas melangkah masuk kedalam rumah yang sudah disambut oleh Dinda yang telah lama menanti kepulanganku.
"Kak Ana bawa apa?" tanya Dinda heran melihat aku membawa bungkusan besar.
"Ini, kado dari teman-teman Kak Ana," kataku menjelaskan.
"Aku mau lihat Kak," rengek Dinda.
Aku pun membuka kado didepannya, "Kak, bagus banget. Buat Dinda saja ya!" pinta Dinda.
"Yah, ini kan kado dari temen-temen kakak, nanti kakak beliin ya buat Dinda yang lebih bagus lagi," kataku menghiburnya.
"Neng Ana lagi ulang tahun ya?" tanya Mba Narti yang sedari tadi memperhatikan kami.
"Iya, Mba."
"Oh iya, Mba. Bagaimana ya, teman-temanku minta ditraktir makan-makan? tapi aku kan tidak bisa keluar rumah," keluhku ke Mba Narti.
"Ya sudah pergi saja, Mba Narti nanti ga bilang-bilang ke Ibu koq," kata Mba Narti.
"Memang ga apa-apa kalau aku pergi diam-diam Mba Narti, nanti kalau ada yang lihat terus lapor ke Tante Ida bagaimana?" tanyaku takut memikirkan Tante Ida jika tahu aku keluar rumah tanpa izin.
"Kalau takut ya minta izin saja ke Ibu, mungkin Ibu memberi izin. Kan Neng Ana jarang keluar rumah," kata Mba Narti memberi sarannya.
"Mana mungkin Tante Ida memberikanku izin keluar rumah, tujuan belajar bersama saja tidak diberikan izin, apa lagi ini tujuannya hanya untuk bersenang-senang bersama teman-teman," gumamku dalam hati.
Akupun pergi meninggalkan mereka, melangkah menuju kamarku. Memikirkan betapa terkekangnya hidupku disini, hanya untuk keluar rumah saja sangat sulit dan takut jika Tante Ida akan marah.
"Sepertinya, aku harus mengurungkan niatku untuk merayakan ulang tahunku," gumamku dalam hati.
Terlintas dalam pikiranku untuk pergi meninggalkan rumah Tante Ida dan mencoba memikirkan untuk hidup mandiri, tetapi aku urungkan niatan itu dan memantapkan hati untuk tetap bertahan disini hingga lulus sekolah. Mungkin jika aku sudah lulus dengan bekal ijazah SMk, aku bisa mendapatkan pekerjaan dan tak bergantung lagi kepada Tante Ida.
********
__ADS_1
"Maaf ya, sepertinya aku ga bisa traktir kalian makan-makan diluar nih, kalau mau makan di rumah Tanteku saja. Nanti aku siapin banyak makanan deh," ajakku kepada teman-teman saat menagih janjiku.
Sebenarnya aku belum meminta izin keluar ke Tante Ida, tapi aku sudah menebak jika aku pasti akan mendapatkan penolakan. "Mungkin jika makan-makan dirumah, Tante Ida akan mengizinkannya," gumamku dalam hati.
"Yahh," kata mereka bersamaan terlihat raut kecewa dari wajah mereka.
"Tapi ga apa-apa dirumah Tantenya saja, masakan Qiana enak koq," celetuk Nurul.
Kulihat merekapun sepertinya sedang memikirkan tentang saranku.
"Oke deh!" akhirnya kami sepakat untuk makan-makan dirumahku minggu depan.
"Ani, minggu depan teman-teman mau pada main kerumahku, kamu ikut gabung ya," pintaku saat pulang bersama Ani.
"Maaf ya, Na. Tapi aku ga bisa datang. Ayah aku masih sakit, jadi aku dirumah bantu-bantu Ibu mengerjakan pekerjaan dari konveksi yanh dibawa kerumah," ujar Ani.
"Oh ya sudah tidak apa-apa, tapi bukan karena Tante dan Om aku kan?" ujarku.
"Hmmm...!" hanya itu yang keluar dari mulut Ani.
"Ani, soal perkataan kamu yang kemarin tentang Tante dan Omku, cerita dong apa yang kamu ketahui, jangan membuat aku penasaran," sambungku.
"Iya, Tanteku tuh sayang banget sama anak-anaknya, makanya Tanteku jadi begitu," kataku memberi pengertian ke Ani.
"Iya, tapi saat aku masih kecil tidak ada pemikiran seperti itu, yang aku tahu Tante kamu tuh galak, maaf ya. Tapi aku melihat Tante kamu masih sedikit trauma," Kata Ani menyesal karena menjelekan Tanteku.
"Iya, ga apa-apa koq. Kalau Om Edi kenapa? kemarin kamu tidak menyelesaikan perkataanmu tentang Om Edi.
"Om Edi ya," ujar Ani sembari memikirkan sesuatu.
"Tapi kamu jangan kasih tahu siapa-siapa ya," sambung Ani. Dan akupun tak butuh waktu lama untuk menjawabnya dan mengangguk tanda setuju.
"Kata ayahku, Om Edi tuh termasuk anggota grup bapak-bapak yang mesum di komplek ini, grupnya sekitar ada sepuluh orang anggotanya. Makanya ayahku berpesan agar aku tidak mendekat ke rumah-rumah yang sudah diberi tanda peringatan oleh ayahku," cerita Ani.
"Maksudnya grup mesum tuh bagaimana?" tanyaku benar-benar penasaran.
"Grup mesum seperti apa sih? berarti ada sekitar sepuluh orang seperti Om Edi di komplek ini begitu," gumamku dalam hati.
"Bagaimana ya, ayahku tidak memberi tahu secara detail. Ayahku hanya memperingatiku dengan keras agar aku tidak melangkah kerumahmu," ujar Ani.
__ADS_1
"Kan kamu yang serumah, bagaimana Om Edi kalau sedang ada dirumah? mesum ga?" tanya Ani penasaran.
Seperti mendapat pertanyaan yang sangat mematikan, mampu membuatku diam seribu bahasa dan tak tahu harus memberi jawaban apa kepada Ani.
Apakah aku harus menceritakan semua yang aku alami kepada Ani. Tapi aku terlalu takut jika nanti akan berakibat fatal untukku bahkan untuk keluarga Tante Ida.
"Biasa saja sih," ujarku berbohong. Kami pun melanjutkan perjalanan kami.
******
Tante Ida yang menurutku sangat baik, walau terkadang memang galak tapi aku selalu berpikir positiv kepadanya, mungkin Tante Ida menginginkan yang terbaik untukku.
"Tante, aku sekarang sudah tujuh belas tahun. Teman-temanku yang sudah tujuh belas tahun sudah memiliki KTP," ujarku saat sedang makan malam bersamanya.
"Ya sudah, kamu minta surat pengantar dari Rt dan Rw dulu," ujar Tante Ida.
"Rumah Pak Rt dimana?" tanyaku karena selama hampir dua tahun aku tinggal didaerah sini tidak mengetahuinya.
"Rumahnya ada gang sebelah, lihat saja depan rumahnya ada keterangan ketua Rt," jelas Tante Ida.
Waktu hampir menunjukkan pukul delapan malam, aku pun keluar menuju rumah Pak Rt untuk meminta surat pengantar membuat KTP.
Aku mencari tulisan ketua Rt di setiap rumah sesuai arahan dari Tante Ida.
"Yap, akhirnya ketemu juga," gumamku saat melihat rumah ketua Rt.
"Assalamu'alaikum," kataku memberi salam. Sosok Laki-laki seusia hampir seperti Om Edi pun keluar dari balik pintu, yang kutebak mungkin dia adalah Pak Rt. Pak Rt kini berjalan menuju pagar menghampiriku yang berdiri didepannya.
"Ada apa ya?" tanyanya.
"Ini Pak, saya mau minta surat pengantar untuk membuat KTP," kataku menjelaskan kedatanganku.
Pak Rt membukakan pagarnya dan mempersilahkanku untuk masuk kedalam rumahnya.
"Silahkan masuk," ujar Pak Rt.
Aku melangkah masuk kedalam rumahnya, suasananya sangat sepi. Saat aku akan duduk dikursi yang sudah dipersilahkannya untukku duduki, aku mendapatkan perlakuan yang tak menyenangkan. Ia dengan sengaja mengarahkan tangannya untuk menyentuh dadaku tetapi dengan reflek aku segera menepis tangannya.
Aku memang sedikit ceroboh dengan datang kerumah Pak Rt di waktu yang sudah sepi. Aku yang mengenakan kaos yang ketat sehingga memperlihatkan lekuk tubuhku dengan jelas.
__ADS_1