
Aku pun pergi bersama Tante Ida menuju kediamannya di jakarta. Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya kami sampai dirumah Tante Ida. Aku hanya bisa diam dan tak tahu harus bagaimana bersikap di lingkungan yang masih baru dan asing bagiku.
Aku memasuki rumah Tante Ida yang berada di kompleks perumahan yang cukup mewah di Jakarta. Rumah yang memiliki dua lantai dengan desain minimalis, sesuai dengan kepribadian Tante Ida yang sangat sederhana.
"Qiana, kamar kamu ada dilantai 2," kata Tante Ida membuyarkan kebingunganku. Aku hanya bisa mengangguk tanda mengerti dan aku pun segera menaiki tangga menuju lantai dua, dan lagi aku dilanda kebingungan karena tidak tahu kamar mana untukku, di lantai dua terdapat dua kamar dan satu kamar mandi.
"Qiana, kenapa diem saja. yang itu lho kamar kamu," terang Tante Ida dan menunjuk sebuah kamar yang bersebelahan dengan kamar mandi.
"Ini kamar kamu dan kalau mau mandi, kamar mandi ada disebelah kamar kamu," kata Tante Ida yang menunjukan kamar mandi dan aku pun hanya mengangguk. Entah kenapa mulut ini seperti terkunci dan enggan untuk berbicara.
Setelah memindahkan pakaianku ke lemari pakaian, aku pun menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karna seharian dalam perjalanan jauh dan badan ini penuh dengan keringat. Setelah selesai mandi, aku keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang kulilitkan dibadanku, seperti kebiasanku dulu.
Betapa terkejutnya aku, ketika Om Edi berada di depan pintu kamar mandi, tanpa ada pikiran yg negatif ke Om Edi, aku hanya diam dan berlari ke kamar dan menutup pintu kamar dan menguncinnya.
"Qiana, kalau sudah selesai pakai baju turun kebawah yah buat makan malam," ucap Om Edi dari luar kamar. Entah kenapa aku malas turun kebawah untuk makan malam, jika boleh memilih rasanya aku hanya ingin sediri dan beristirahat. Tapi Om Edi selalu memanggilku dan memaksa untuk makan malam bersama. Dan terpaksa akupun keluar kamar setelah berpakain lengkap.
Rumah Tante Ida terbilang lumayan mewah, karena aku tahu Tante Ida hanyalah guru pns biasa dan Om Edi juga pns tapi di kementrian keuangan bagian pajak negara, mungkin dari penghasilan Om Edi yang besar, sehingga dapat menikmati kemewahan ini. Tante ida memiliki dua orang anak, anak yang pertama laki-laki berumur tiga belas tahun, namanya Adit dan sekarang sedang berada di pesantren.
Anak yang kedua perempuan dan masih balita namanya Dinda.
__ADS_1
Dirumah Tante Ida ada satu orang pembantu rumah tangga itu pun datang hanya dari pagi sampai sore. Karena Tante Ida bekerja menjadi guru sehingga pukul 16.00 tante ida sudah kembali kerumah.
"Koq makan cuma pake tahu?" tanya Tante Ida saat melihatku makan. Karena aku sadar diri dan tidak mau menjadi beban untuk keluarga Tante Ida.
"Ga apa-apa Tante pakai tahu saja sudah cukup," ujarku menjawab pertanyaan tante ida. aku mulai berasa nyaman bersama keluarga Tante Ida.
"Jangan begitu, kan ada ayam kecap tuh, sini tante ambilin ayam kecapnya," Tante Ida pun memberikan ayam kecap kepadaku, yang membuat air mata ini kembali menangis karena mengingat almarhumah Ibu yg selalu melayaniku saat makan.
"kenapa menangis lagi?" tanya Tante Ida.
"Ga apa-apa Tante, cuma lagi inget Ibu saja" jawabku sedih.
"Kalau sudah selesai makan malam, beresin meja makan dan cuci piringnya ya," perintah Tante Ida, karena Tante harus masuk kamar tidur yang sudah dinanti dinda yang rewel dan sudah mengantuk minta tidur.
"Apa? Aku belum pernah mencuci piring," gumamku dalam hati. Karena tidak mau mengecewakan Tante Ida, maka aku berusaha sebisa mungkin untuk melakukannya.
"prankkkk...." suara piring pecah.
"Qiana, ada apa?" tanya tante ida yang langsung keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Piringnya pecah tante," jawabku pelan karena takut kena marah Tante Ida.
"hmmm," suara Tante Ida yang aku sendiri tidak mengerti apa maksudnya.
"Hati-hati kalau cuci piring. Sini Tante bantu." ujar Tante ida kini membantu sekaligus mengajariku mencuci piring dengan benar dan bersih.
Selesai mencuci piring, aku kembali naik ke lantai atas kembali ke kamarku. Aku merasa asing tinggal bersama Tante Ida, walaupun Tante Ida masih saudara denganku, entahlah mungkin hanya perasan aneh di tempat tinggal yang baru dan orang-orang yang baru juga.
Aku merebahkan tubuhku di atas ranjangku, kamarku di desain Tante Ida juga dengan tema minimalis, walaupun kamarnya tidak luas tetapi karena tatanannya yang rapi sehingga menimbulkan efek yang luas.
Aku kembali mengenang Ibu, rasanya baru kemarin aku bersama-sama dengan ibu bercanda gurau, berjalan-jalan di hari libur, dan masih banyak lagi momen kenanganku yang tak terlupakan bersama ibu yang selalu terngiang dipikiranku.
Air mata kembali mengalir dan kesedihan ini haruskah terus aku rasakan, rasanya tidak ada semangat untuk melanjutkan hidupku. Tak butuh lama mataku pun kini terpejam memasuki alam mimpi.
"Ayah, Ibu, kenapa kalian tega meninggalkanku sendiri? Ayah, Ibu, aku mohon izinkanku untuk ikut bersama kalian. Untuk apa aku hidup jika di dunia ini, tidak ada seseorang yang ku sayangi lagi?" rancauanku saat tidur. Dalam tidurku, aku bermimpi bertemu dengan Ayah dan Ibu, mereka hanya diam saja saat aku menangis tersedu-sedu.
Akupun terbangun dari mimpiku dengan masih menangis sesenggukan. Aku melihat jam dindingku, menunjukan pukul dua dini hari.
"Aku mimpi ketemu Ayah dan Ibu, kenapa aku harus bangun? Aku masih ingin terus bersama kalian," kataku menyesali karena harus bangun dari mimpi. Tangisku pun kembali pecah yang membuat mataku sembab karena menangis semalaman dan akhirnya aku pun kembali tertidur.
__ADS_1