
Hari-hariku terus berlanjut di keluarga Tante Ida. Begitu banyak nasehat yang selalu diberikan Tante Ida kepadaku. Mungkin karena profesinya sebagai guru yang mengharuskannya pandai berbicara.
"Kita boleh memanjakan anak, tapi kita juga tidak boleh membiarkan anak kita jadi seseorang yang pemalas yang tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri, setidaknya sebagai anak perempuan masalah dapur harus mereka kuasai." nasehat Tante Ida saat sedang memasak denganku.
"Mungkin karena profesi Tante Ida yang sebagai guru, jadi beliau sangat bijaksana dan sabar mengajari murid-muridnya.
aku pun teringat masalah murid-murid membuatku ingin bertanya ke Tante Ida." gumamku dalam hati.
"Tante, terus kenapa aku tidak disekolahkan di sekolah negeri saja yang lebih murah. Sekolah swasta kan mahal Tante, aku tidak mau merepotkan Tante dengan banyak biaya di sekolah swasta." tanya ku penasaran.
"Hhmmm, karena sekolah sma /smk negeri disini jauh sekali. kamu harus berganti ganti angkutan umum sebanyak tiga kali. kalau pulang pergi jadi jadi enam kali sehari," jelas Tante Ida.
__ADS_1
"kalu dihitung-hitung sehari naik angkutan umum 3x6\=18 ribu, dikali lagi dalam sebulan 18x24\=432 ribu yang kalau di bandingin dengan sekolah swasta yang bulanannya lebih murah hanya 150 ribu." sambung Tante Ida menjelaskan yang membuatku speechless mendengarnya.
"Ohh, jadi alasanya karena sekolah di swasta jauh lebih murah dari pada negeri. Wah, Tante sangat perhitungan ya" gumamku dalam hati tak percaya dengan jalan pikiran Tante Ida. "Walaupun swasta lebih murah tapi kan aku harus jalan kaki," lemas aku memikirkannya.
"Kalau sekolah di swasta itu, disana tante suka karena kedisiplinannya yang sangat ketat, lagi pula kalau kamu sekolah disana tante bisa control kamu disana, disana banyak teman-teman guru Tante." tambah tante ida memberikan alasan, mungkin terlihat jelas dari wajahku yang sedikit kecewa kepadanya.
"Terserah Tante saja lah, yang penting aku sekolah," jawabku pelan. Dan melanjutkan memasak bersama Tante Ida, walaupun masih banyak pertanyaan dibenakku tetapi semenjak mendengar alasan Tante Ida membuat aku tak ingin mendengarnyanlebih lanjut dari pada membuat hati semakin sakit.
"Yang terpenting aku masih bisa sekolah. masih bisa tidur dengan nyenyak disini. masih bisa makan dan minum gratis," bathinku menghibur diri sendiri agar lebih semangat menjalani hari-hari disini.
*************
__ADS_1
Hari-hari aku lalui selalu seperti ini, bangun pagi-pagi, memasak, mengasuh dinda dan tidur. dan besoknya seperti itu lagi. Terasa membosankan karena aku belum masuk ke sekolah kembali. Om Edi dan Tante Ida yang selalu sibuk bekerja, meninggalkan Dinda bersamaku. Mungkin karena terlalu berat untuk Tante Ida membiarkan orang lain untuk mengasuh Dinda, Setidaknya seperti itu yang aku pahami.
Tetapi mengasuh anak kecil itu sungguh susah jika kita tak memiliki hati yang lembut, anak kecil memiliki hati yang sangat peka terhadap orang- orang yang disekelilingnya sehingga ia akan tahu mana orang yang menyayanginya dengan tulus atau tidak.
******
maafkan aku yang telah mengubah sedikit jalan ceritanya....
aku mau sensor atau lebih tepatnya menghilangkan sedikit bagian dewasanya...
tetap dukung aku ya...
__ADS_1