
Bagi Raport
"Qiana, kamu sengaja kasih jawaban yang salah ke kita?" tanya Tiar menghadang ku saat aku akan pulang setelah mengambil raport.
"Kan aku sudah bilang kalau aku tidak tahu jawabannya apa, tapi kalian tetap maksa mau tahu jawaban aku. Kan hasil ujian aku juga sama seperti kalian," terang ku sedikit kesal.
"Tapi sekarang lihat raport kamu tetap bagus, tapi kita semua merah?" tanya salah satu teman Tiar.
"Kenapa ya? aku juga gak begitu tahu," jawabku singkat karena sebenarnya aku tak ingin melanjutkan perdebatan dengan mereka.
__ADS_1
"Coba kalian tanya langsung saja ke guru, jangan-jangan guru pilih kasih ke aku," sambung ku ingin membuat mereka emosi.
Sebenarnya nilai-nilai ujian ku yang hancur, aku perbaiki dengan meminta remedial kepada guru.
*****
Suatu hari, di daerah Rumah Tante Ida terkena dampak banjir yang sangat luar biasa tingginya. Air hujan yang biasanya tidak pernah masuk ke dalam rumah, tetapi hari itu air masuk ke dalam rumah.
Seluruh anggota rumah sangat panik dan Tante ida sibuk menyelamatkan surat-surat berharga lainnya. Aku hanya melihat kegaduhan yang terjadi di rumah Tante Ida. Jujur ini adalah pertama kalinya untukku menghadapi banjir yang masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Na, kamu jangan diem saja, bawa Dinda naik ke atas," kata Tante Ida. Aku pun kembali sadar dan bergegas naik ke lantai atas. Air yang masuk ke dalam rumah naik sedikit demi sedikit. Aku yang mengira jika banjir akan membutuhkan waktu lama untuk semakin tinggi, tetapi hanya dalam waktu kurang dari satu jam air tinggi air sudah melebihi paha orang dewasa.
Aku yang sudah berada di lantai atas pun tak memiliki keberanian untuk turun. Hujan deras yang tak berhenti membuat banjir semakin tinggi hingga dada orang dewasa. Ini merupakan banjir pertama untukku sekaligus banjir terparah yang pernah aku alami. Tante Ida dan Om Edi pun akhirnya naik ke lantai atas, bantuan untuk evakuasi telah mereka tolak dengan alasan masih ada lantai dua. Tante Ida dan Om Edi pun tidur di lantai atas dan aku pun tak berani untuk mengunci pintu pada malam itu.
Tetapi membuat kesempatan untuk Om Edi masuk ke dalam kamarku, Entah dimana pikiran Om Edi, didalam musibah banjir juga masih mempunyai pikiran yang mesum kepadaku.
Aku yang tidur dikamar bersama Dinda, terbangun ketika merasakan ada ciuman yang mendarat di bibirku. Aku seketika membuka kedua mataku dengan sangat terkejutnya, aku melihat Om Edi berada di sampingku. Om Edi yang melihatku membuka mata yang hampir melotot pun akhirnya keluar dari kamarku.
Aku yang melihat Om Edi telah keluar dari kamarku sedikit lega tetapi aku tak bisa untuk melanjutkan kembali tidurku. Ketakutan jika jika Om Edi kembali masuk ke dalam kamarku.
__ADS_1