cewek introvert

cewek introvert
sabar


__ADS_3

Aku mencari Mba Narti, tapi sepertinya sudah pulang. Aku ingin pergi mandi tapi aku ketakutan karena dirumah hanya ada aku dan Om Edi saja, akhirnya aku memutuskan untuk naik ke atas kamar saja dan mengunci pintu.


Selang beberapa lama, terdengar suara Tante Ida mengucapkan salam, yang berarti Tante Ida sudah pulang mengajar.


"Qiana, bangun!" suara tante mengentuk pintu kamarku mengira aku sedang tidur.


"Iya" jawabku dan akupun bergegas bangun dan membuka pintu kamarku.


"Ya ampun, anak gadis jam segini baru bangun, cepet mandi sana," kata Tante Ida dan tak menunggu lama akupun mengambil handuk untuk mandi.


********


"Bagaimana hari pertama sekolah?" tanya Tante Ida saat makan malam bersama.


"Biasa saja, Tante" jawabku jujur.


"Oh iya, Tante. Aku boleh ikut kegiatan ektra kurikuler ga?" tanya ku meminta izin karena sehari tadi banyak kakak-kakak kelas yang mempromosikan beragam kegiatan ektra kurikuler.


"Ga usah," jawab Tante Ida datar dan membuatku sedikit kecewa.


"Kenapa?" lagi -lagi aku dibuat penasaran dengan Tante Ida.


"Kamu nanti sering keluar rumah, sering latihan yang bikin nilai pelajaranmu jelek, dan Tante ga mau kamu bergaul dengan orang yang salah, pergaulan di jakarta itu Tante mah ngeri," jelas Tante Ida.


"Kenapa Tante sangat ketat sekali menjagaku dari pergaulan yang bebas, sedangkan bahaya pergaulan yang Tante takut menimpaku, justru ada di dalam rumah." bathinku ini ingin memberitahu keadaan yang sebenarnya tapi tak ada daya untuk mengatakannya, Tante Ida terlalu baik untukku dan aku tak ingin membuatnya sedih.


Akhirnya akupun memutuskan tidak mengikuti satupun kegiatan ektrakurikuler seperti kemauan Tante Ida. Sebagai seseorang yang sudah diberikan makan, tempat tinggal dan sekolah gratis bukankah harus sadar diri dan tak berhak melawan perintahnya.


*********


Teman sebangku ku, Nur. Dia adalah anak yang cantik dan periang. Tak heran nama satu kelas saja dia sudah hafal semua nama mereka. Bahkan dari kelas lain pun dia sudah mempunyai banyak kenalan. Sebagian memang adalah temannya semenjak SMP dan teman di rumahnya. aku sangat iri melihat nurul yang cepat akrab dengan semua orang, terbuka tentang perasaannya. berbanding terbalik dengan diriku yang pendiam dan introvert. Dalam anganku sepertinya sangat menyenangkan jika kita memiliki banyak teman, bisa pergi bermain saat libur sekolah dan menghabiskan waktu bersama-sama dengan melakukan banyak hal, tetapi itu hanya ada dalam benakku karena jelas tidak mungkin Tante Ida memberikanku pergaulan yang bebas seperti itu. Terlalu banyak yang Tante Ida khawatirkan untukku.


Nur selalu memaksaku untuk bercerita tentang hidupku tetapi aku tidak ingin membahas hal pribadiku dengannya. Aku hanya takut dia akan menceritakannya lagi ke teman-temannya. Aku tidak ingin cerita kehidupanku menjadi bahan obrolan untuk teman-temannya.


"Kamu tinggal dimana sih?" tanya Nur saat aku hendak meletakkan tasku di meja.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyaku balik tanpa memberikan jawaban sebelumnya.


"Tadi kata Ani, dia lihat kamu jalan kaki di daerah deket perumahannya," jelas Nur mengingat perkataan Ani.


"Memang Ani tinggal dimana?" tanyaku tanpa kembali menjawabnya.


"Perumahan elok sentosa," jawab Nur.


"Iya sama dengan tempat tinggal Tanteku. Tapi aku ga pernah lihat Ani."


"Iya lah kamu kan kuper, makanya ga kenal sama Ani," ledek Nur.


"Nanti pas istirahat, aku kenalin sama Ani ya," sambung Nur.


Didalam kelas kami ada geng murid perempuan yang cantik dan populer di sekolah, mereka menamainya dengan sebutan gengs dinamit. Dan ayu yang paling cantik diantara mereka walaupun semuanya juga cantik-cantik.


"Ada yang namanya Qiana ga dikelas ini?" tanya seseorang dengan berteriak-teriak yang kemudian aku tahu namanya Tiar dari Nur.


"Ada apa, Tiar?" tanya Nur.


Akupun maju menghampirinya keluar kelas ditemani dengan Nur.


"Ada yang nyariin diluar kelas." jelas Tiar mengulang kembali saat aku berada di hadapannya. Aku pun menoleh keluar kelas. Aku melihat ada kak fian bersama seorang guru wanita sedang mengobrol. Ketika Kak Fian melihatku, ibu guru itu ikut menoleh melihatku dan berjalan menghampiriku.


"Kamu Qiana? keponakannya Ibu Ida?" tanya guru wanita yang tadi.


"Iya." jawabku singkat.


"Tante kamu tadi menelepon Ibu suruh jagain kamu, kamu jangan macam-macam ya disekolah, Ibu mengawasi kamu." jelas Ibu Sri sulastri yang kemudian aku tahu namanya dari Nur.


"Iya" jawabku.


"Rok kamu tidak ada yang lebih panjang lagi?" tanya Ibu Sri Sulastri yang melihat rok SMP ku sudah di atas lutut.


"Ga ada, Ibu." jawabku singkat karena memang aku hanya membawa seragam sekolah SMP satu setelan saja. Aku tiba-tiba merasa malu karena disana masih ada kak fian yang sedang memperhatikan kami.

__ADS_1


"Oh ya sudahlah, lagian sebentar lagi sudah pakai seragam baru. pastikan saja panjang rok dibawah lutut ya, kalau di atas lutut siap-siap kamu kena razia guru BK." ancam Ibu Sri.


Ibu Sri Sulastri pun pergi bersama Kak Fian meninggalkanku, disini masih ada Nur yang masih merasa aneh.


"Kenapa kamu dijagai sama ibu Sri? memangnya kamu anak kecil?" tanya Nur yang sangat penasaran.


"Ada deh, mau tahu saja," ujarku dan kembali masuk kedalam kelas.


"Hayoo, aku kebalin kamu sama Ani," ajak Nurul saat bel istrihat berbunyi. Aku pun segera bangkit dari dudukku dan pergi mengikuti Nurul.


"Ani, ini kenalin temanku Qiana," ucap Nur memperkenalkanku padanya.


"Hai, aku Ani. Salam kenal ya." Ani memperkenalkan dirinya.


"Kamu tinggal di blok apa?" sambung Ani.


"Aku tinggal di blok B," jawabku.


"Aku juga blok B, gang yang mana? jangan-jangan kita bertetangga," ucap Ani antusias.


"Yang dekat dengan Rumah Pintar," kataku menjelaskan.


"Sama dong, tuh kan benar kita bertetangga, tapi aku jarang lihat kamu ya," ucap Ani.


"Iya lah, dia kan kuper," ledek Nur.


Jam pulang sekolah pun usai. karena masih MOS maka pulang lebih awal seperti hari kemarin. Ditengah-tengah perjalanan ada seseorang yang menyapaku.


"Hai!"sapa kakak kelas itu membuatku mengalihkan pandangan mataku ke arahnya.


"Hai juga." balasku pelan karena tidak menyangka yang akan menyapaku adalah Kak Fian.


"Pulangnya kemana?" tanya Kak Fian.


"Disana kak sebentar lagi juga sampai," sahutku pelan karena terlalu gugup berduaan dengan Kak Fian.

__ADS_1


"Ohh, oke. Kalau gitu Kakak duluan ya." Dan Kak fian pergi dan berbelok kiri tidak searah denganku.


__ADS_2