cewek introvert

cewek introvert
aku mah apa atuh


__ADS_3

Tak terasa sudah hampir satu bulan aku tinggal bersama keluarga Tanteku.


Suka duka harus aku lalui karena aku tidak mempunyai pilihan lain, dan ini adalah proses pembelajaran untuk diriku menjadi mandiri karena kelak aku harus mengandalkan kemampuan diriku sendiri, tidak mungkinkan jika terus menggantung hidupku seumur hidup seperti benalu yang akan terus merugikan hidup orang lain.


Ketika aku akan berangkat sekolah, Tante memberikan uang bulanan kepadaku, "Ini dua ratus ribu buat jajan kamu satu bulan, dan ini seratus lima puluh ribu buat bayar bulanan sekolah," jelas Tante Ida.


Aku pun hanya bisa mengangguk dan menerimanya, walaupun dua ratus ribu jauh dari kata uang jajan yang dulu Ibuku berikan.


Aku melihat ke arah jam tanganku, "Ya ampun aku hampir terlambat!" kataku. Aku pun pamit dan mencium tangan Tante Ida dan cepat-cepat turun dari mobil tanteku, karena gerbang sekolah hampir tertutup.


Aku berlari dengan cepatnya dan hampir menambrak seseorang yang juga sama-sama berlari.


"Maaf," kataku bersamaan dengannya karena sama-sama merasa bersalah.


Akhirnya aku selamat karena dapat masuk ke sekolah sebelum gerbang sekolah tertutup. Kulihat banyak siswa-siswi lain yang datang terlambat. Mereka yang datang terlambat akan dihukum dengan melakukan push up sebanyak dua puluh kali bagi siswa laki-laki kali dan yang perempuan dihukum dengan melakukan squat jam sebanyak lima belas kali.


Aku pun beruntung karena terbebas dari hukuman yang menurutku sangat menyiksa murid-murid sekolah ini. Tetapi aku pun merasa kasihan kepada mereka yang datang terlambat harus melaksanakan hukuman yang sangat berat. Dan aku pun bertekad agar tak datang terlambat ke sekolah.


Ketika aku akan memasuki kelas, ku lihat Kak Fian keluar dari kelasku. Aku pun menyapanya sambil menundukan kepalaku karena tak mampu menatap matanya langsung.


"Kamu Qiana kan?" tanya Kak Fian yang kukira akan melupakan namaku tapi ternyata dia mengingat namaku dengar benar.


"Iya, Kak" jawabku pelan.


"Tadi Kakak dari kelas kamu, buat ngumumin seleksi pengurus Osis yang baru, kalau kamu berminat nanti istirahat datang saja ke ruangan Osis." Jelas Kak Fian yang aku jawab dengan anggukan dan pergi meninggalkannya untuk masuk kedalam kelasku.


"Ada seleksi pengurus Osis, Na?" tanya Arin ketika aku akan duduk di kursiku.


"Sudah tahuuuu." jawabku panjang memonyongkan bibirku.


"Koq bisa, kamu kan tadi belum dateng, tahu dari mana?" tanya Arin penasaran.


"Tadi dijalan berpapasan sama Kak Fian, kemudian Kak Fian yang menjelaskan nanti istirahat ada seleksi pengurus Osis" jelasku sambil tersenyum.


"Cieeee... Cieeee..." ledek Arin.


"Apaan sih." jawabku kesal karena malu.


"Jadi bagaimana mau ikutan ga seleksinya?" tanya Arin lagi penasaran.

__ADS_1


"Hmmm, aku mah apa atuh? pasti nanti Tanteku ga setuju." jawabku menghela nafas.


Saat aku SMP, aku sangat rajin mengikuti berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler, mulai dari pramuka, palang merah remaja dan olahraga softball yang sangat aku sukai. Tetapi aku harus mengerti dengan keadaanku sekarang, aku harus bersyukur karena masih ada keluarga Tante Ida yang mau menyekolahkanku dengan gratis, walaupun menurutku tidak gratis karena aku merasa menjadi seorang pembantu dan baby sitter disana.


"Kamu mau ikutan, Rin?" tanyaku.


"Mau sih tapi kalau ga ada temennya males ahh." jawabnya sambil memonyongkan mulutnya.


"Memang ga ada yang ikutan dari kelas kita?"


"Ada banyak tapi aku maunya salah satu dari kita ada yang ikut biar ada temennya," jawabnya.


"Nanti kalau istirahat, kita nonton kesana saja yuk," ajak Arin dan akupun mengangguk menyetujuinya.


Selang tak lama guru pun mulai memasuki kelas dan memulai pelajarannya dengan mengumpulkan pekerjaan rumah yang ditugaskan dari minggu kemarin.


"Kumpulkan pekerjaan rumah yang Ibu tugaskan minggu kemarin, yang belum kerjakan pekerjaan rumah, cepat berdiri di depan kelas," ucap Bu Yuni tanpa belas kasihan.


Beberapa murid yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah akhirnya maju dan berdiri di depan kelas. Dari jumlah empat puluh murid di dalam kelas, hampir setengahnya berdiri di depan kelas dan hampir semua anggota gang dinamit termasuk didalamnya.


"Ya ampun, kelas ini banyak sekali yang tidak mengerjakan tugas. Apa sesulit itukah sampai kalian tidak mengerjakaan pekerjaan rumah," keluh guru akuntansi.


"Banyak juga yang nonton ya," ujarku saat melihat sekeliling dipenuhi dengan penonton pendukung temannya yang mengikuti seleksi pengurus Osis.


"Itu Kak Fian," tunjuk arin menguncang-guncangkan bahuku.


"Iya," kataku pelan saat mataku dan mata Kak Fian bertemu.


Kak Fian yang melihatku pun menghampiri kami.


"Kenapa ga masuk?" Tanya Kak Fian saat tepat berada di hadapan kami.


"Kami cuma mau nonton saja, Kak." sahut Arin.


"Kenapa ga ikutan seleksi? ga berminat ya?" tanya Kak Fian lagi.


"Minat koq Kak, ini Qiana tadi bilang katanya mau ikutan seleksi Kak, cuma katanya malu saja," sambung Arin.


"Buat apa malu, yuk masuk sebentar lagi dimulai acaranya," ajak Kak Fian memegang tanganku tanpa izin. Jantungku berdebar-debar karena untuk pertama kalinya dipegang tangannya oleh Kak Fian. Aku pun mengikuti langkah kaki Kak Fian yang masuk ke dalam ruangan Osis.

__ADS_1


"Seleksi pengurus Osis akan kami mulai dengan mendengarkan visi dan misi kalian untuk sekolah dan Osis," kata Ketua Osis membuka acara, ketua Osis tahun ini bernama Kak Fajar, ia sangat tegas dan berkharisma. Saat Mos banyak teman-teman di kelas yang mengidolakannya.


Aku yang ditarik paksa untuk mengikuti seleksi ini merasa belum melakukan persiapan yang matang dan belum memikirkan jawaban yang tepat untuk didengarkan kepada ketua Osis dan yang lainnya.


"aduh, apa ya visi dan misinya," gumamku dalam hati.


Tiba kini giliranku untuk memberikan visi dan misiku jika aku terpilih menjadi pengurus Osis.


"Perkenalkan namaku Qiana Larasati dari kelas satu akuntansi tiga, visi aku ketika menjadi pengurus Osis akan menjadikan siswa disekolah ini menjadi siswa yang lebih dispilin, berprestasi, kreatif, dan berakhlak mulia. dan misiku Ingin mengadakan lebih banyak kegiatan untuk meningkatkan jiwa yang disipilin, prestasi dan kreatif pada siswa." kataku dengan volume suara yang sangat kecil dan pandangan mataku yang selalu menunduk walau Kak Fian selalu mencoba mengingatkanku ketika mata kami saling beradu.


***********


Ketika pelajaran telah usai, guru menyuruh kami membawa buku paket yang dipinjam dari perpustakaan untuk dikembalikan.


"Baik, bu," jawab aku dan Nur.


Dilorong menuju perpustakaan yang melewati beberapa kelas, Nur yang sangat kecentilan selalu melihat-lihat kedalam setiap kelas.


"Ayo dong," ajakku agar jalan lebih cepat.


"Kenapa sih?" tanya Nur.


"Malu lah lewatin kelas otomotif," jawabku jujur karena banyak murid laki-laki yang menatap kami ketika lewat.


"Kapan lagi disuruh jalan-jalan pas jam pelajaran?" kata Nur.


"Pantat aku bisa-bisa tepos nih." sambungnya lagi. karena kepala sekolah disekolah ini galak sekali, kalau ada murid-murid yang berkeliaran di jam pelajaran tanpa alasan, pasti kepala sekolah akan marah dan berteriak, suaranya akan terdengar dari ujung ke ujung lorong dan tak segan-segan juga memberikan hukuman.


***********


"Hari ini tumben Tante Ida tidak memasak," gumamku dalam hati saat berada dirumah.


"Qiana, kamu siap-siap sana, Tante sama om mau pergi jalan-jalan sekalian makan mal diluar, kamu ikut saja." ajak Tante Ida.


"Dirumah saja boleh ga, Tante?" tanyaku karena malas keluar rumah bersama apalagi ada om edi juga.


"Ikut saja, nanti biar ada yang bantu jagain Dinda." jelas tante ida memaksa.


"Yahhh, cuma jadi baby sitter lagi deh," gumamku dalam hati. Aku pun pergi bersiap-siap untuk ikut pergi bersama keluarga Tante Ida.

__ADS_1


__ADS_2