
"Sudah sore, mandi sana," kata Om Edi.
"Iya, nanti," jawabku karena bagaimana mau mandi, kaki saja masih sedikit nyeri.
"Apa perlu Om bantu?" tanya Om Edi tersenyum mesum.
"Apaan sih? Aku bisa mandi sendiri!" seruku sambil berusaha untuk berdiri.
"Tuh kan aku sudah sembuh," sambungku memamerkan aku bisa berdiri sendiri, walaupun masih sedikit sakit.
"Ya sudah, sana mandi," ujar Om edi,
akupun bergegas mengambil handukku dan menuju kamar mandi karena malas lebih lama berdebat dengan Om Edi.
Selesai mandi, aku melupakan sesuatu.
"Ya, aku lupa bawa baju ganti, cuma bawa handuk saja. Bagaimana kalau Om Edi masih ada diluar?" gumamku dalam hati.
Akhirnya aku memilih untuk memakai handuk dan melilitkannya ditubuhku. Ketika keluar kamar mandi, aku merasa lega karena tidak melihat keberadaan Om edi.
Saat makan malam, Tante Ida harus menyuruh Om Edi mengantarkan makan malam untukku, karena kakiku masih terasa sakit jika untuk naik turun tangga. Tante Ida juga karena sedang repot mengurus dinda yang sedang rewel sedari tadi.
"Makan dulu, yang." kata Om Edi ketika masuk ke dalam kamarku. Dan tanpa meminta izin dariku, Om Edi pun duduk di samping ranjangku.
"Sini, Om suapin." kata Om Edi menyendokkan nasi dan ingin menyuapi kedalam mulutku.
"Om, yang sakit kaki aku bukan tangan aku. aku bisa makan sendiri," kataku lantang.
"Ga apa-apa, Om mau suapin kamu biar romantis," kata Om Edi yang membuatku sedikit kesal karena perilakunya membuatku selalu berdebar jika berdekatan dengannya.
__ADS_1
"Ga usah, trima kasih," kataku sembari mengambil piring yang berisi nasi dan lauk pauknya.
"Aku bisa makan sendiri," kataku ketus untuk menutupi jantungku yang terus berdebar jika bersama Om Edi terus.
"Lebih baik Om keluar saja, nanti Tante Ida kesini lho kalau Om Edi kelamaan disini," sambungku.
********
Beberapa hari setelah aku menjauhkan diri dari Kak Trisna, dan selalu menghindar bertemu dengannya. Tetapi saat akan memasuki kelas, Kak Trisna sudah menungguku di depan kelas.
"Hai, kak!" sapaku ketika melihat Kak Trisna.
"Na, kakak mau ngomong sebentar saja sama kamu," kata Kak Trisna.
"Ya sudah, ngomong saja Kak," kataku mempersilahkan Kak Trisna untuk berbicara.
"Tapi ga disini," ujar Kak Trisna.
"Mau ngomong apaan sih Kak?" tanyaku ketika langkah Kak Trisna berhenti.
"Na, kenapa kamu sekarang terus menghindar? setiap aku ajak pulang bareng tidak mau, setiap kakak kekelas kamu tidak ada, dan chat juga tidak pernah dibalas?" tanya Kak Trisna.
"Ga kenapa-napa kak?" jawabku singkat.
"Kakak sayang sama kamu, kamu mau ya jadi pacar kakak?" kata Kak Trisna yang membuatku terkejut karena pernyataan cintanya padaku.
"Kak, Kakak kan tahu aku tinggal disini bersama dengan Tante ku yang protektiv banget. Kalau sampai dia tahu aku pacaran, pasti nanti Tanteku marah besar" jawabku.
"Jangankan pacaran, aku pergi keluar hari minggu bareng temen-temen perempuan saja ga boleh," sambungku lagi.
__ADS_1
"Ya sudah, kita pacaran di sekolah saja," saran Kak Trisna.
Aku semakin bingung mencari alasan untuk menolak Kak Trisna. Karena aku hanya menyukainya sebagai teman saja.
"Kak, aku cuma anggap kakak murni sebagai teman, alasanku menghindar juga tak ingin memberi harapan palsu ke kakak," kataku akhirnya memilih jujur lebih baik.
"Maafin aku kak, tapi aku benar-benar tidak ingin membohongi perasaanku. Aku hanya menyukai kakak sebagai teman,"sambungku lagi.
Kak Trisna hanya diam mendapat penolakan ku dan kulihat rasa kecewa dari raut wajahnya.
"Aku izin balik ke kelas ya, kak." kataku pamit dan pergi meninggalkan Kak Trisna sendiri.
"Tadi ngobrol apaan sama Kak Trisna?" tanya nurul saat aku sudah masuk kedalam kelas.
"Tahu nie, sekarang ngobrolnya sembunyi-sembunyi," sahut Adel menimpalinya.
"Hmmm," aku menghela nafas.
"Tadi tuh Kak Trisna nembak aku," jawabku kembali menghela nafas.
"Terus aku tolak," sambungku lagi.
"Yahhh kenapa ditolak?" tanya Nur.
"Kan aku sudah bilang, aku ga suka sama Kak Trisna!" jawaku kesal karena merasa dipojokan telah menolak Kak Trisna.
Hari-hari berlalu setelah penolakan, aku tak pernah melihat Kak Trisna datang menghampiriku ke kelasku lagi, melihatnya berlalu-lalang di sekolah pun tak pernah sekalipun, dan saat pulang sekolah pun aku tak pernah berpapasan dengannya.
"Ingin rasanya aku meminta maaf," gumamku dalam hati. Tapi bahkan Kak Trisna pun tak pernah mengirim kabar lewat chat lagi. Aku pun mengerti sakit hatinya kepadaku. Aku juga tak pernah mengirim pesan ke Kak Trisna lagi agar kak trisna lekas sembuh dari sakit hatinya dan cepat melupakanku yang telah menolaknya.
__ADS_1
*****