
Ciuman yang Om Edi berikan membuatku hanyut kedalamnya. Nafas kami saling memburu, saling bergelut dan memberikan rangsangan untuk melakukan hal yang lebih dari sebuah ciuman.
"Crekk," suara pintu kamar mandi terbuka. Kami yang sedang bergelut pun mendengarnya dan segera menghentikan ciuman panas kami. Niatan untuk melakukan yang lebih dari ciuman pun harus kami urungkan.
Aku segera mendorong tubuh Om Edi agar menjauh dariku. Dan berdiri merapihkan penampilanku.
"Nurul, kamu sudah selesai. Ini perkenalkan Om Edi, suaminya Tante Ida," kataku memperkenalkan Om Edi kepada Nurul dengan sedikit gugup.
"Semoga Nurul tidak menyadarinya," doaku dalam hati. Aku sangat takut jika Nurul sampai melihat apa yang kuperbuat bersama Om Edi.
"Aku Nurul, Om," kata Nurul mengulurkan tangannya untuk menyalami tangan Om Edi.
"Iya, ya sudah kalian lanjutkan belajarnya. Om tinggal dulu ya," ujar Om Edi memberikan tangannya dan pergi meninggalkan kami.
"Om Edi umur berapa sih?" tanya Nurul penasaran.
"Kenapa memangnya?" kataku berbalik bertanya.
"Mau tahu saja," ujar Nurul.
"Mungkin sekitar empat puluh dua," pikirku memperkirakan umur Om Edi. Aku merasa menjadi pacar yang tidak perhatian, bahkan tidak mengetahui tentang umur Om Edi.
"Om Edi ganteng banget, Na. Koq bisa ya padahal umurnya sudah ga muda lagi, tapi masih awet muda. Kelihatannya umurnya masih tiga puluh tahunan Na," puji Nurul terpesona dengan Om Edi.
"Masa sih?" tanyaku heran karena Nurul begitu memuji Om Edi.
"Na, mata kamu tuh harus diperiksa ke dokter deh. Setiap ada cowok ganteng yang deketin kamu saja, kamu selalu saja menolak mereka," saran Nurul.
"Yang ada kamu yang diperiksa. Masa setiap cowok kamu bilang ganteng. Memangnya kamu ga punya standart kegantengan apa?" tanyaku heran.
"Iya lah, semua cowok ganteng. Kalau cowok cantik kan jadi berabe," ujarnya sambil tertawa.
"Didunia ini, saingan cewek cantik saja sudah banyak. Kalau ditambah cowok cantik lagi, semakin berat saingannya," sambung Nurul.
"Iya juga sih, hahaha." kataku ikut tertawa.
Kami pun melanjutkan tugas kami yang masih menunggu untuk kami kerjakan.
"Bilangin ke Tiar bab tiga dia yang menyusunnya sendiri, kalau ga mau nanti dilaporannya kita coret saja namanya," ujarku marah.
"Asiiap," kata Nurul menirukan gaya youtuber yang membuat marahku mereda.
"Ohh, ada Nurul disini," kata Tante Ida saat naik ke lantai atas. Nurul yang mendengar namanya dipanggil Tante ida pun segera bangkit dari duduknya dan menyalami tangan Tante Ida.
"Iya, Tante. Lagi kerjain laporan praktek kerja lapangan harus diserahkan sebelum kenaikan kelas," sahut Nurul.
"Koq cuma berdua, kemarin kayanya bertiga?" tanya Tante Ida.
"Tiar lagi ada acara sama keluarganya, Tante," ujar Nurul.
"Ohhh, kalian kenal ga sama Ani, dia juga sekolah disana?" tanya Tante Ida.
__ADS_1
"Kenal, cuma beda jurusan saja Tante," jawab Nurul.
"Memang rumah Ani dimana sih, Tante? Koq aku ga pernah lihat Ani," tanyaku penasaran.
"Di blok B35, sekitar dua gang lagi dari sini." kata Tante Ida.
"Ohhh, pantesan aku jarang lihat. Bedanya dua gang," gumamku dalam hati.
"Ajak Nurul makan siang dulu, Na." ajak Tante Ida yang membuatku melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul sebelas siang.
"Iya nanti saja, Tante. Tadi aku sudah makan puding buatan Qiana, enak banget sampai habis dua mangkuk," kata Nurul memujiku.
"Ohh iya, Tante. Aku juga bikin puding buat Tante koq, ada dikulkas," kataku. Tantepun pergi meninggalkan kami.
"Kita main ke rumah Ani dulu yuk," ajak Nurul saat akan pulang.
"Ayo!" kataku semangat.
"Nanti aku chat Ani dulu supaya tunggu depan rumahnya," sambung Nurul.
"Itu Ani," seru Nurul saat melihat Ani yang sudah menunggu depan rumahnya. Kami pun menghampirinya.
Rumah Ani terbilang sangat sederhana, jauh berbeda dengan rumah milik Tante Ida. Bangunannya pun sepertinya sudah lama tidak tersentuh renovasi.
"Maaf ya rumahku jelek," kata Ani menyadari mimik wajah kami yang merasa kasihan dengan keadaan rumah Ani.
"Ayo, masuk." ajak Ani kepada kami. Kami pun masuk ke dalam rumahnya, dan berkenalan dengan orang tuanya yang sudah tua.
"Iya," jawab Ani sedih.
"Sakit apa, Ni?" tanyaku.
"Ya batuk-batuk saja, tapi sudah lama ga sembuh-sembuh," cerita Ani.
"Sudah berobat belum Ani?" tanyaku.
"Belum, ayah dari kemarin diajak berobat tapi tidak menolak terus," kata Ani yang mulai meneteskan air matanya. Kami pun menghibur Ani dan tak terasa waktu berjalan dengan cepat dan menunjukan waktu sudah sangat petang. Kami pun pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.
*******
Senin pagi selalu menjadi awal hari yang menyebalkan bagi sebagian orang, karena harus kembali dengan rutinitas mereka yang membosankan. Tetapi berbeda denganku, aku selalu bersemangat pergi ke sekolah, karena hanya di sekolah aku memiliki sahabat-sahabat yang baik dan terkadang sedikit konyol.
"Selamat ulang tahun," ujar Nurul saat aku akan duduk dibangkuku.
"Selamat ulang tahun," sambung Adel dan bersamaan dengan teman yang lainnya.
"Ihh, kalian koq inget ulang tahun aku," ujarku terharu.
"Inget dong, masa ulang tahun sahabat sendiri kita lupain," ujar Adel.
"Terima kasih ya, kalian memang sahabat terbaikku," ujarku hampir menangis.
__ADS_1
"Kita cuma bisa kasih ini ya," sahut Nurul memberikan kado sebuah boneka babi pink yang besar.
"Ini kan kesukaanku, terima kasih ya," kataku memeluk mereka.
"Traktir dong makan-makan," celetuk sevia.
"Makan dirumah Tanteku saja ya," ajakku.
"Ga mau ah, mau makan diluar," kata mereka kompak.
"Tapi aku kan ga boleh keluar rumah?"
"Na, kamu tuh jangan polos-polos banget lah, bilang saja ada tugas atau mau jenguk temen yang sakit atau apalah," saran Nurul.
"Kamu ngajarin aku berbohong ya?"
"Iya, jangan pinter di pelajaran saja, sekali-kali pinter berbohong juga," sahut Adel. Aku pun terdiam memikirkan saran gila mereka.
"Ya, nanti kalau aku dapat izin dari Tante Ida aku kasih tahu ya," kataku.
*****
"Na, ini bab tiga dari Tiar," kata Nurul memberikan beberapa lembar kertas.
"Tiar dibantu Kak Fian lho," sambung Nurul.
"Terserah yang penting aku ga menyusun bab tiga," kataku memeriksa hasil ketikan Kak Fian.
"Bagaimana dong? ini salah semua. Masa bab tiga dikasih nomor halaman satu. Sudah sana minta filenya saja ke Tiar, biar aku yang memperbaikinya dan mencetak ulang," kataku karena merasa tidak enak hati ke Kak Fian jika ternyata hasil ketikannya salah.
"Tiar, kenapa kamu sudah dicetak dulu, sekarang kan buang-buang uang kamu saja kalau salah begini," kataku saat Nurul memanggilnya.
"Ga buang-buang uang juga. Kak Fian yang menyetak koq," kata Tiar.
"Tapi ini salah semua, ya sudah aku minta datanya saja, nanti aku yang benerin," kataku.
*******
Saat akan pulang sekolah, aku dan Ani yang sudah mulai akrab akhirnya memutuskan untuk pulang bersama. Ternyata mempunyai teman perempuan yang sejalan sangat menyenangkan.
"Ni, main dulu kerumah," ajakku pada Ani saat sudah sampai depan rumah Tante Ida.
"Ga ahh," kata Ani menolakku.
"Kenapa?"
"Aku takut sama Tante dan Om kamu, Tante kamu kan terkenal galak di daerah sini dan Om kamu...?kata Ani tak meneruskan perkataannya.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Ehh, ga kenapa-napa. Aku pulang ya, dah!" kata Ani kini pergi meninggalkanku penuh dengan rasa penasaran.
__ADS_1