
Liburan ku terlewati begitu saja di dalam rumah, dan tak terasa dua minggu telah berlalu. Kini aku pun disibukkan kembali dengan sekolah, betapa senang hatiku menyambut hari pertama ke sekolah berjumpa dengan teman-teman dan sahabat ku.
Aku yang kini masuk ke semester dua pun harus disibukkan dengan laporan Praktek Kerja Lapangan. Selama masa PKL, aku sudah dibantu oleh staf kantor yang mengingatkanku tentang laporan ini, sehingga ketika PKL telah usai, aku telah menyiapkan beberapa materi untukku dibahas.
Tetapi berbeda dengan Nur dan Tiar, mereka bahkan tak memikirkan akan membuat laporan yang seperti apa, aku pun harus kembali disibukkan dengan membantu laporan PKL mereka. Ingin rasanya aku mengeluh dan marah kepada mereka, kenapa mereka begitu santainya ketika PKL. "Sebenarnya apa yang mereka lakukan selama PKL," keluhku dalam hati.
Kami bertiga pun masih harus kembali ketempat PKL untuk mendapatkan beberapa materi untuk Nur dan Tiar. Sebenarnya aku tak harus ikut dengan mereka, tetapi mereka memaksaku untuk ikut bersama mereka menemui pimpinan mereka selama PKL.
Selesai mendapatkan beberapa materi, kami pun pamit untuk pulang. Ketika ingin pulang, aku tak sengaja berpapasan dengan Pak Alex.
"Qiana, ada disini? sudah selesai kan PKL nya?" tanya Pak Alex.
"Iya pak, ini mau ambil beberapa materi buat laporan PKL saja, ini juga sudah mau pulang Pak," kataku singkat.
"Padahal aku pernah janji mau traktir nonton film ya, tapi maaf ya aku masih sibuk, jadi belum bisa," kata Pak Alex yang pernah berjanji mengajakku menonton film di bioskop karena aku telah banyak membantunya menginput data selama masa PKL ku.
__ADS_1
"Aku saja sudah lupa Pak, kalau gak bisa gak jadi juga gak apa-apa Pak?" kataku sedikit berbohong, sebenarnya aku sangat ingat dengan janji-janji manisnya yang akan mengajakku menonton di bioskop.
Selama aku PKL, seluruh staff banyak yang menjodohkan kami. Ketika Pak Alex mengajakku menonton di bioskop, sedikit membuatku merasa berbunga-bunga. Tapi sekarang ketika Pak Alex yang seakan-akan tak ingin menempati janjinya membuatku berpikir, "Apakah Pak Alex tidak suka aku yang masih anak sekolah?" kataku dalam hati sedih.
"Sekali maaf ya Qiana," kata Pak Alex.
"Iya, aku pamit pulang dulu Pak," kataku meninggalkan Pak Alex.
******
"Qiana, kenapa sih kamu ngelamun saja?" tanya Nur.
"Hm, gak apa-apa cuma tadi ketemu sama Pak Alex saja ketika mau minta cap perusahaan," kataku.
"Kamu menyukai Pak Alex ya?" tanya Nur.
__ADS_1
"Aku kira cuma gosip-gosip anak PKL saja?" sambung Nur tak percaya, jika aku menyukai seseorang. Selama ini aku tidak pernah jujur kepadanya jika menyukai seseorang. Entah kenapa kali ini aku jujur, jika aku menyukai Pak Alex.
"Na, kamu dapat salam dari Kak Andi?" celetuk Tiar ditengah-tengah perbincanganku bersama Nur.
"Kak Andi yang mana?" kataku yang asing dengan nama itu.
"Kak Andi kan gebetan kamu kan Tiar," kata Nur bersemangat yang membuatku sedikit terkejut mendengarnya.
"Iya," kata Tiar dengan memasang muka cemberutnya.
"Maaf Tiar, tapi Kak Andi itu aku gak pernah melihatnya bahkan namanya pun terlalu asing buatku," kataku berusaha menghibur Tiar.
"Kata Kak Andi, dia suka lihat kamu diam-diam, dia bertanya-tanya siapa nama kamu, tadi ketika dia lihat kamu sama aku, jadi dia tanya-tanya kamu terus dan akhirnya jujur padaku jika dia menyukai kamu," kata Tiar sedih.
Kata-kata Tiar membuatku tak bisa berkata-kata lagi. Aku tidak bisa memaksa seseorang untuk berhenti menyukaiku.
__ADS_1
********