cewek introvert

cewek introvert
makan malam bersama


__ADS_3

Sepanjang perjalanan aku bersama dinda duduk di bagian belakang. Om Edi dan Tante Ida terlibat perbincangan yang sangat serius saat mendengar berita tentang politik di radio mobil, aku yang mendengarnya hanya diam dan pura-pura tidak mendengar dan asyik bermain bersama dengan Dinda. Sampai akhinya, mobil berhenti di pelataran parkir sebuah mall. Kami pun turun dan memasuki mall yang ternyata sangat besar.


"Qiana, kita belanja bulanan dulu," ajak Tante Ida menuju ke arah swalayan, aku berjalan mengikuti Tante Ida.


Dinda yang sudah berada digendongan om edi pun menangis.


"Kak Ana," rengek Dinda memanggilku.


Aku sengaja menjauh dari Dinda karena ada Om Edi disampingnya.


"Sini, gendong sama Kak Ana saja," ajakku pada Dinda ketika aku menghampirinya.


"Ga usah, Dinda berat. Kamu saja yang jangan jauh-jauh dari Dinda," kata om edi.


Tante Ida yang sudah berjalan lebih dulu alhirnya menyadari jika ia berjalan sendiri, Tante Ida pun menoleh dan meliha Dinda yang sedang menagis. Tante Ida akhirnya kembali menghampiri kami.


"Ada apa?" tanya Tante Ida ketika berada di belakangku.


"Dinda nangis Tante minta aku temenin terus." sahutku.


"Ya sudah, ajak main saja Dinda di tempat permainan khusus balita." suruh Tante Ida kepadaku.

__ADS_1


"Ya sudah, Ayah antar Dinda dulu ya, mamah ga apa-apa kan belanja sendiri?" Kata Om Edi kepada Tante Ida.


"Iyaa ga apa-apa. Ayah ikut jagain Dinda saja, biar mamah belanja sendiri saja." jawab Tante Ida, yang kemudian pergi untuk melanjutkan berbelanjanya.


Aku dan Om Edi pun juga pergi menuju ke taman bermain untuk balita.


"Bagaimana sekolah kamu?" tanya Om Edi.


"Baik" jawabku singkat.


"Awas, jangan pacaran ya!" ancam Om Edi. aku hanya diam tak ingin menjawabnya.


"Kamu kan pacar Om." sambungnya lagi.


"Om Edi kan sudah punya istri, cantik, pinter, baik, pokoknya paket komplit deh Tante Ida." jawabku membanggakan Tante Ida.


"Tapi ga selucu dan seimut kamu." jawabnya tersenyum lebar.


Aku melihat sekeliling, orang-orang memperhatikan kami yang sangat dekat. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. tapi sungguh, aku hanya menganggap dia hanya pamanku saja.


****

__ADS_1


Akhirnya selesai bermain, kami berjanji bertemu di salah satu restoran yang ada di dalam mall dengan Tante Ida.


"Mau pesan apa yang?" tanya Om Edi, karena Tante Ida belum dateng jadi Om Edi masih berani genit kepadaku.


"Terserah saja, Om" kataku.


"Yang benar terserah? kalau Om mau makan kamu saja bagaimana?" tanya Om berbisik dikupingku. aku hanya menoleh melihat om edi yang kembali dengan kemesumannya dan aku memilih tak menjawabnya mungkin sudah kebal dengan kenakanlan om edi. Capek juga kalo diladenin terus pasti ujung-ujungnya mesum.


Tak selang lama, Tante Ida datang dengan membawa belanjaan yang banyak sekali,


dan tak lama pesanan makananpun juga datang. Kami berempat pun makan, aku harus menyuapi Dinda dulu kemudian aku baru bisa menikmati makananku. "Nasib baby sitter ya begini," gumamku dalam hati.


Dalam perjalanan pulang, Dinda sudah tertidur dalam pangkuanku, kulihat Tante Ida sibuk dengan mengecek ulang struk-struk belanjaannya. Sepanjang perjalanan hening sekali. Hanya aku dan Om Edi saja yang kadang curi-curi pandang dari balik kaca.


Ketika sesampainya di rumah, Tante Ida masuk kedalam rumah dengan membawa semua belanjaannya.


"Nanti Dinda, Om Edi saja yang gendong ya, kasihan kamu, Dinda kan berat," kata Tante Ida saat keluar dari mobil. Aku pun mengangguk dan menunggu Om Edi yang sekarang sedang sibuk memarkirkan mobilnya di garasi dahulu.


Ketika mobil sudah terparkir dengan benar, Om Edi pun keluar dari mobil dan menuju ke pintu belakang dimana aku berada.


Kemudian Om Edi mengambil Dinda dari pangkuanku dan aku pun keluar dari mobilnya. Aku bergegas masuk kedalam kamarku dan merebahkan tubuhku karena sudah sangat kelelahan

__ADS_1


"Padahal besok hari minggu, sudah lama rasanya tidak bangun siang. Tetapi tetap saja Tante Ida pasti bangunin aku pagi-pagi." gerutuku dalam hati.


******


__ADS_2