cewek introvert

cewek introvert
adit


__ADS_3

"Iya, Om juga tahu. Menjadi guru merupakan cita-cita Tante kamu dari dulu. Tapi Om kesepian," sambung Om Edi.


"Ya sudah, Om bicara baik-baik saja dengan Tante Ida. Mungkin Nanti Tante Ida mengerti perasaan Om," kataku memberi saran.


"Tolong jaga sikap Om kepadaku. Aku tidak mau merusak rumah tangga Om Edi dan Tante Ida. Aku permisi dulu Om," sambungku kemudian bergegas naik keatas ke kamarku. Sungguh sesak di dadaku jika hanya berdua dengan Om Edi.


******


Esok pagi yang cerah, ketakutanku yang selama mendera ternyata tidak terjadi. Aku merasa lega bisa melewatkan malam ini tanpa ada ganguan dari Om Edi.


Aku pun turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan, dan betapa terkejutnya aku melihat Om Edi yang sudah berpenampilan rapi.


Rasa penasaranku pun kembali menyeruak, tapi aku lebih memilih untuk menahan rasa ingin tahuku dia ingin pergi kemana.


"Om mau pergi dulu. Mau jemput Adit," pamit Om Edi kepadaku. Tanpa aku bertanya Om Edi ternyata memberitahuku. Tanpa menunggu jawabanku Om Edi pun pergi.


Adit, ya itulah anak sulung Om Edi dan Tante Ida. Ia berumur 13 tahun hanya terpaut tiga tahun denganku. Terakhir aku melihatnya saat ia masih Sekolah Dasar.


"Neng, bagaimana kemarin malam? gak terjadi apa-apa kan?" tanya Mba Narti saat datang kembali.


"Ya Mba Narti," jawabku tak ingin membahas yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Bapak, kemana Neng?" tanya Mba Narti.


"Lagi pergi, katanya mau jemput Adit di pondok pesantren," jawabku memberitahu.


"Adit sudah liburan ya, sudah lama gak ketemu adit," kata Mba Narti


"Iya, aku juga sudah lama gak ketemu Adit," kataku.


Karena aku tahu Adit akan pulang, aku sengaja membuat berbagai macam kue untuk Adit. Aku ingin menyambut Adit dengan makanan yang enak dan lezat. Setidaknya ilmu memasakku berguna.


********


Siang hari saat aku tengah asyik bermain dengan Dinda, aku mendengar suara mobil Om Edi didepan rumah sepertinya Om Edi sudah sampai.


"Wa'alaikumsalam," jawaku dan Mba Narti.


Kulihat Mba Narti tanpa komado pun segera bangkit dari duduknya dan bergegas membukakan pintu.


"Ini Kak Ana kan?" tanya Adit saat melihatku yang terlihat bingung untuk menyapanya. Karena Aku dan dia tidak terlalu dekat dan statusku disini yang hanya untuk dibiayai sekolahnya membuatku sedikit rendah diri padanya.


"Iya, bagaimana kabar Adit?" tanyaku berbasa basi.

__ADS_1


"Baik, Kak." kata Adit ramah. Ia pun bergegas membawa tas naik keatas kekamarnya. Kamarnya tepat disebelah kamarku.


*******


Ternyata hanya prasangkaku saja, Adit sangat ramah bahkan tak mempermasalahkanku yang hanya menumpang hidup disini. Seharian kami asyik berbincang dan membuat suasana canggung menghilang menjadi suasana yang hangat. Mungkin usianya masih 13 tahun tapi ternyata pemikirannya jauh lebih dewasa dari umurnya, mungkin karena hampir setahun ini dia berada di pondok pesantren.


"Mama, kapan pulang Kak?" tanya Adit kepadaku.


"Kalau perjalanannya lancar, nanti malam juga sampai," jawabku memberitahu.


"Semoga lancar ya kak perjalanannya, aku sudah lama gak ketemu mama," doa Adit untuk Tabte Ida.


"Aamiin," kataku ikut mendoakan.


******


Sepertinya doa Adit terkabul, Tante Ida sudah sampai rumah sebelum maghrib, lebih cepat dari perkiraanku.


"Mama," teriak Adit saat melihat kembali ibunya yang selalu ia rindukan.


"Anak mama sudah pulang," kata Tante Ida dilanjutkan dengan memeluk adit dan menciumnya.

__ADS_1


Aku yang melihat mereka begitu saling menyayangi, Adit ketika bersama ibunya pun menjadi seorang anak yang manja. Suatu pemandangan keluarga harmonis yang tak akan aku rasakan lagi.


__ADS_2