
Hari Minggu untuk sebagian orang, akan dipergunakan untuk bermalas-malasan. Tetapi itu tidak berlaku untukku, aku justru akan lebih sibuk dari pada hari-hari biasanya karena Mba narti libur bekerja setiap hari minggu.
Aku melakukan semuan pekerjaan rumah mulai dari memasak, menyapu, mengepel, mencuci pakaian dan menyetrikanya saat sudah kering. Tante Ida tidak membantuku karena setiap hari Minggu Tante Ida, Dinda dan Om Edi pergi olahraga pagi bersama ke car free day pagi-pagi.
Akhirnya semua pekerjaan rumah telah selesai aku kerjakan. Aku bisa beristirahat sejenak sambari menonton tv.
**********
Senin pagi, mulai lagi dengan aktifitas-aktifitasnya masing-masing. Tante Ida pergi mengajar dan mengantarkanku ke sekolah terlebih dahulu. Om edi pun harus berangkat kerja ke departemen pajak. Dan Dinda bermain bersama Mba Narti.
Ketika didalam kelas, seseorang bernama Ayu memanggilku. Ayu yang memiliki paras paling cantik di gang dinamit itu terus melambaikan tangannya kearahku.
"Qiana sini deh," panggilnya. Akupun menurut pergi ke arahnya walaupun bingung juga sih kenapa dia memanggilku. Dia mengajakku keluar kelas, disana ada dua orang laki-laki.
"Ini kenalin temanku, namanya Kak Trisna dan Kak Rama." Ayu memperkenalkanku ke teman laki-lakinya. Aku menjabat uluran tangan mereka dan mengucapkan namaku dengan suara kecil dan wajah yang tersipu malu.
__ADS_1
"Kak Trisna katanya suka sama kamu lho." bisik Ayu ke kupingku yang membuatku semakin malu dan wajahku pasti sudah memerah.
Karena aku seorang yang introvert, aku hanya menjawab apa yang Kak Trisna tanyakan, tidak ada keinginan untuk mengetahui tentang Kak Trisna. Walau sejujurnya kak trisna juga tampan dan tinggi, memiliki alis tebal dan rahang yang tegas, memakai seragam dengan rapi sesuai kriteriaku. Entah kenapa aku tak menyukainya.
Ketika kami sedang mengobrol di depan kelasku yang berada dilantai dua, aku melihat Kak Fian sedang melihat kearah kami dari bawah. Aku pun tak mengindahkannya karena kupikir mungkin Kak Fian sudah memiliki seorang kekasih.
Ketika bel pulang sekolah, Kak Trisna sudah menungguku didepan kelas.
"Qiana, aku antar kamu pulang ya." kata Kak Trisna.
"Kak, nanti dimarahin Tante aku kalau lihat aku pulang bareng laki-laki." sambungku.
"Jangan sampe Tante kamu lihat dong," kata Kak Trisna terus menawariku untuk pulang bersama.
Akhirnya akupun menyetujui karena kehabisan alasan untuk menolaknya, tetapi berjalan kaki bersama Kak Trisna sedikit mengurangi kesepian juga dan jika memikirkan jalan sendirian akan membuatku terlihat menyedihkan.
__ADS_1
"Kak, sampai sini saja ya. Soalnya aku disini tinggal sama Tanteku yang galak kalau lihat aku sama laki-laki, aku pasti nanti kena marah," kataku ketika sampai di sepertigaan jalan dekat rumah.
"Oke. Kakak pulang dulu ya." kata Kak Trisna.
"Besok kita pulang bareng lagi ya." pinta Kak Trisna.
Aku memilih untuk tak menjawabnya. dan justru melambaikan tanganku dan memberikan isyarat untuk memaksanya agar segera pergi dari penglihatanku.
Dan aku memikirkan tentang ajakannya untuk setiap hari pulang jalan kaki bersama. Ternyata berjalan kaki bersama Kak Trisna tidak seburuk yang aku bayangkan, membuat jaraknya lebih dekat jika ada yang menemani.
Malam hari, aku sibuk mengerjakan tugas-tugas akuntansi sambil tengkurap diatas ranjangku. Tugas akuntansi yang membuatku kepalaku pusing, dimana kredit dan debit harus balance. Dan ketika tidak balance harus putar otak lagi untuk mencari dimana letak aku melakukan kesalahan.
Tak terasa aku terlelap disaat-saat mengerjakan tugas akuntansi yang menumpuk tanpa mematikan lampu dan mengunci kamarku. Sungguh kesalahan yang sangat fatal.
**********
__ADS_1