Cheerleader

Cheerleader
10


__ADS_3

Kesalahpahaman yang dibiarkan begitu saja akan mengusut dengan kesalahpahaman-kesalahpahaman yang selanjutnya.


***


Baru saja ia selesai mandi, Estelle sudah mendapat pesan dari Januar untuk ikut balapan liar malam ini. Estelle bingung tentu saja. Bagaimana ia bisa keluar untuk balapan jika orang tua dan kedua kakaknya berada di rumah semua saat ini.


Terlebih lagi akhir-akhir ini ia tidur bersama dengan Axelle. Laki-laki itu pasti merasa curiga jika tiba-tiba malam ini ia tidak minta tidur bersama. Belum lagi Jacob yang selalu memeriksa kamarnya sebelum pria itu tidur.


Lalu bagaimana ia bisa keluar malam ini?


“Kenapa?” tanya Jacob yang rupanya menyadari kegelisahan Estelle. Sebenarnya ia tahu jika adik perempuannya itu beberapa kali mengikuti balap liar beberapa tahun ini lewat laporan anak buahnya kemarin. Bahkan ia mendapatkan beberapa informasi mencengangkan lainnya mengenai adik bungsunya itu.


“Engga, cuma pusing sedikit aja,” bohong Estelle. Jacob hanya menganggukan kepalanya saja dan memilih untuk kembali ke kamarnya.


“Nanti kalau misalnya mau tidur sama Kakak langsung masuk aja pintunya gak dikunci. Kakak mau tidur duluan,” ujar Axelle sebelum benar-benar masuk ke dalam kamarnya.


Estelle menghembuskan napas kasar begitu muncul satu pesan lagi di layar ponselnya.


From, Anu: Ayo dong, Stelle. Aku butuh kamu banget nih sebelum balapan. Lawannya raja balap wilayah sini ‘king ice’.


Melihat isi pesan itu, Estelle langsung masuk ke dalam kamarnya dan memakai hoodie-nya dengan cepat. Sebelum keluar ia meminta tolong pada mba Nini untuk mengatakan jika ia pergi ke mini market sebentar saat kedua kakaknya itu mencarinya nanti. Ia juga mengatakan hal serupa pada satpam rumahnya.


Setelah berjalan kaki cukup jauh dari rumahnya, Estelle melihat mobil hitam yang sangat familiar untuknya dan langsung memasukinya begitu saja.


“Mobil kamu udah siap?” Estelle mengambil topi hitam dari kursi belakang lalu memakainya. Laki-laki di sampingnya langsung melajukan mobilnya setelah Estelle selesai memakai sabuk pengamannya.


“Semuanya udah siap kaya biasanya, lo tinggal jalan aja.” Estelle hanya mengangguk. Namun setelahnya ia langsung tersadar dan menatap Januar bingung.


“Kok aku yang jalan?”


Januar menyeringai menyebalkan. “Kenapa? Takut?” tanya laki-laki itu balik.

__ADS_1


Estelle hanya menggeleng. “Cuma sedikit gugup aja, aku udah lama gak balapan,” akunya tidak bisa berbohong.


Estelle memainkan jari-jari tangannya gelisah dan laki-laki di sampingnya itu mengerti jika Estelle hendak mengatakan sesuatu namun ragu untuk mengatakannya. “Ngomong aja,” ujarnya membuat Estelle menoleh ke arahnya.


“Tau dari mana coba kalau pengen ngomong tapi takut-”


“Perlu gua ingetin kalau gua yang selama ini selalu nemenin lo?” ujar Januar kesal. Demi apa pun Estelle selalu melupakan kontribusi yang sudah ia lakukan untuk gadis itu.


Estelle tersenyum manis mencoba membuat laki-laki di sampingnya ini tidak marah lagi. “Ok, I’m sorry. Aku tadinya mau nanyain apa ada kabar dari-”


“My honey, Estelle Harrison, perlu kuingatkan padamu sekali lagi. Orang yang pertama kali akan dihubungi itu kamu, kalau dia belum menghubungimu tentu ia juga belum menghubungiku, Sayang.” Dari suara Januar, Estelle bisa tahu kalau laki-laki itu sudah gregetan padanya dan karena itu juga Estelle tidak berani bertanya lagi.


Begitu sampai di sana, Januar meninggalkannya sendiri karena laki-laki itu harus memeriksa kembali mobil yang akan dipakai Estelle nantinya. Dan Estelle pun berjanji tidak akan pergi kemana-mana dan akan tetap menunggu laki-laki itu.


Mata Estelle bergerak liar di balik topi yang ia kenakan, berusaha mencari sosok King Ice yang Januar maksud. Namun matanya membola sempurna saat mendapati keberadaan Adam di tempat ini. Tidak ingin ketahuan, Estelle kembali masuk ke dalam mobil Januar. Jantungnya berdetak lebih cepat karena Adam sempat melirik ke tempatnya.


Januar kembali, ia membuka pintu kursi penumpang dan berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan Estelle yang masih duduk di kursi penumpang seraya menundukkan kepalanya dalam.


“Jangan bilang kalau King Ice itu dia?” tanya Estelle seraya menunjuk Adam dengan dagunya. Januar ikut melihat ke arah yang ditunjuk Estelle dan kedua matanya langsung membola kala menemui Adam yang dikelilingi banyak wanita di sana.


Ia memang tidak tahu siapa itu King Ice, tapi keberadaan Adam di sini benar-benar tidak ia perkirakan sebelumnya.


Estelle menggelengkan kepalanya. Mau King Ice atau bukan, Adam tetap akan melihatnya begitu ia masuk ke lintasan nanti. “Batalin aja. Nu! Batalin! Aku pengen pulang aja!!” rengek Estelle yang membuat Januar kelimpungan. Baru kali ini Estelle merengek untuk mundur dari lintasan. Justru biasanya ia malah yang paling enggan mundur meski Januar sudah merayu gadis ini.


“Gak bisa, Stelle. Gue udah ngasih duitnya tadi, kalau lo mundur duitnya ga balik,” ujar Januar.


“Terus gimana dong, Nu? Kalau nanti dia bilang ke kak Axelle atau bang Jacob aku gimana nasibnya?” Januar bingung bagaimana harus menenangkan gadis itu, sedangkan sebentar lagi balapnya akan dimulai. Walaupun ia juga sedikit khawatir setelah mendengar perkataan Estelle tadi.


“Lo ngapain di sini?” Estelle meremas kaosnya dengan kencang saat mendengar suara Adam. Ia terus menunduk tidak berani mengangkat kepalanya. Januar yang mengerti pun langsung berdiri menutupi tubuh Estelle.


“King Ice? Lo kenal sama Mitchell?” Saat Januar mengatakan hal itu, ingin sekali Estelle menghilang saat itu juga. Bodohnya Januar yang malah menyebutkan nama samarannnya yang mana akan menjadi bukti bahwa bukan kali ini saja ia terjun ke arena balap liar semacam ini.

__ADS_1


“Bang Jacob … mana sih kontaknya?” Estelle langsung menahan tangan Adam yang akan mencari kontak abangnya. Bisa repot kalau Jacob tahu dia ada di tempat seperti ini. Dengan cepat ia menarik Adam sedikit menjauh dari Januar.


“Okeh, aku ngaku salah … ini terakhir kalinya aku ikut beginian. Jadi, jangan lapor bang Jacob ataupun kak Axelle.” Estelle mengeluarkan jurus andalannya, yang mana selalu berhasil ketika bersama kedua kakaknya namun tidak pernah mempan pada Adam.


“Oke, mau kak Adam apa?” tanya Estelle dengan nada serius.


“Lo keluar dari lintasan.” Estelle menggeleng dengan tegas. Seperti yang Januar katakan tadi, uang taruhan yang ia keluarkan tidak sedikit.


“Gak mau. Mungkin bisa dipertimbangkan kalau kak Adam cium aku,” ucap Estelle asal. Ia sengaja mengajukan syarat yang tidak mungkin dituruti oleh Adam, mengingat betapa bencinya laki-laki itu padanya. Namun tanpa diduga, Adam sungguh-sungguh mencium gadis itu tanpa memperdulikan orang-orang yang ada di sekeliling mereka. Estelle mematung begitu juga dengan Januar yang sedari tadi memerhatikan dari jauh.


Adam mencium Estelle dengan kasar, ujung bibir gadis itu bahkan sedikit terluka karenanya. Estelle tidak membalas, ia sangat terkejut dan benar-benar membeku di tempatnya. Bahkan saat laki-laki itu sudah melepaskan bibirnya … mata Estelle tetap membola.


“Lo bener-bener murahan. Lo tau itu?” desis Adam penuh kebencian. Tatapan nanar Estelle bahkan tidak membuatnya merasa kasihan sama sekali. Justru ia semakin jijik dengan gadis itu.


“Udah, ‘kan? Sekarang lo pulang,” usir Adam dengan santainya.


Ciuman pertamanya! Bukan cinta yang ia dapatkan, justru malah kebencian. Rasa malu, marah, tidak terima campur aduk menjadi satu.


Ini menyesakkan, eluh Estelle dalam hati.


Kedua tangan Januar sudah mengepal siap memukul Adam, tapi tidak jadi melakukannya saat melihat wajah memerah sahabatnya.


“Sekali lagi gua peringatin, lo keluar lintasan mulai malam ini.” Setelah berkata seperti itu Adam langsung pergi dari sana meninggalkan Estelle yang masih terpaku dengan wajah memerah dan tangan yang terkepal kuat.


Wajah Estelle berubah seperti orang yang ingin menangis, mata gadis itu sudah berkaca-kaca sekarang. “I hate you! Kenapa diem aja coba?!” rengek Estelle mengomeli Januar. Air matanya meluncur deras dan langsung masuk ke dalam mobil dengan membanting pintunya.


Januar panik, ia mengira Estelle menyukai laki-laki tadi makanya ia juga tidak jadi memukuli si Adam meskipun ia ingin.


Januar memutari mobil dan masuk ke bagian pengemudi. “Aku kira kamu seneng karena kamu emang suka dia, ‘kan?” Ia langsung menarik Estelle ke dalam pelukannya dan mengusap-usap punggung gadis itu dengan lembut untuk menenangkannya.


“Pulang!” pinta Estelle yang sudah tidak memikirkan reputasi dan uang taruhannya. Januar pun mengiyakan. Kalau sudah seperti ini mau dipaksa sekali pun hasilnya tidak akan baik, apalagi melihat kondisi sahabatnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2