Cheerleader

Cheerleader
29


__ADS_3

Sesulit itu meruntuhkan ego dan mulai mendengar kata hati?


***


"Gimana keadaan adek lo? Dia udah bisa makan?" tanya Adam pada Axelle. Sesekali ia melihat Estelle yang tertidur dengan Januar yang setia menunggu di sampingnya dari kaca pintu. Axelle ikut melirik apa yang sedang dicuri-curi pandang oleh temannya itu.


"Demamnya udah agak turun, tapi makanan belom bisa masuk. Makanya diinfus juga tuh bocah." Adam hanya mengangguk mengerti.


Axelle tersenyum smirk. "Lo sebenernya tertarik 'kan sama adek gua?" todongnya tanpa basa-basi.


"Dih, ga jelas banget lo tiba-tiba," balas Adam yang tentu saja enggan mengiyakan perkataan Axelle.


"Lo yang gak jelas. Kalau tertarik sama adek gua, kenapa lo bertingkah coba pas kemarin-kemarin?" cecar Axelle karena mengingat kelakuan temannya terhadap sang adik.


Adam menghindari tatapan tajam Axelle. "Gua b aja tuh. Itu kan karena adek lo nyebelin, makanya gua paprak mulu," dalihnya benar-benar terdengar merasa tidak bersalah sama sekali. Axelle berdecih kesal, lalu menghela napas kasar mendengar perkataan Adam yang terdengar sangat menyebalkan di telinganya.


Tatapan Axelle kini beralih pada pintu ruang inap sang adik. "Gengsi lo, Dam. Kalau lo emang tertarik sama adek gua, mending terang-terangan aja. Jangan sampe nasib lo kaya tuh bocah." Adam mengikuti arah pandangan temannya. Bisa ia lihat, Januar masih setia menatap Estelle yang bahkan masih tertidur pulas.


Dahi Adam mengerut dalam setelah berhasil mencerna maksud perkataan Axelle tadi.


Axelle melirik ke sebelahnya untuk melihat reaksi Adam dan akhirnya memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan mereka saat melihat wajah tegang Adam. "Lo beneran gak mau masuk?" tawar Axelle untuk ke-sekian kalinya. Dan lagi-lagi Adam menolak seperti sebelum-sebelumnya.


"Gua udah bilang, 'kan? Gua ke sini cuma mau tau keadaan adek lo aja, bukan mau ganggu dia. Kalau gitu gua pamit ya?" ujar Adam seraya mengecek jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya.


"Ya udah, hati-hati lo ya."


"Jijik, Xelle."


"Heh kalau lo kenapa-napa adek gua bisa makin drop."


"Apa hubungannya sama gua? Ngaco lo! Dah ah gua balik!" Setelah itu, Adam benar-benar pergi dari sana. Kini perhatiannya kembali tertuju pada dua sejoli di dalam sana. Dia tidak bodoh seperti adiknya. Ia mengerti, Januar memiliki perasaan yang lebih dari seorang sahabat terhadap Estelle.

__ADS_1


Entah Estelle menyadarinya atau tidak. Yang jelas ia merasa sedikit kasihan dengan Januar. Laki-laki itu pasti merasa serba salah. Ditambah dengan adanya perjodohan adiknya dengan Adam, pasti ini membuat posisi laki-laki itu menjadi lebih sulit lagi dari sebelumnya.


"Kok lo di sini? Gak masuk?" Suara Jacob tadi langsung menyadarkan Axelle dari lamunannya. Sebelum abangnya itu masuk ke dalam, Axelle menarik Jacob pergi dari sana.


Jacob yang tidak mau pun sempat berontak saat Axelle mendorong-dorong tubuhnya menjauh dari ruang inap Estelle. "Apaan sih nih bocah?! Itu si Estelle sama siapa di sana kalau kita pergi?!"


"Bang suara lo!" desis Axelle memperingatkan Jacob saat orang-orang melirik-lirik ke arah mereka.


"Di sana ada Januar. Si Estelle juga lagi tidur. Kalau lo di sana, si Estelle bisa kebangun karena lo berisik," lanjutnya yang langsung mendapat jitakan di kepala dari Jacob.


Axelle meringis kesakitan. Jacob benar-benar menjitak kepalanya dengan sepenuh hati.


*


*


*


Pintu kamar Adam diketuk pelan dari luar. "Adam? Kamu sudah pulang?" tanya Elena di balik pintu sana. Membuat Adam yang tadinya ingin merebahkan tubuhnya, jadi harus membuka pintu kamarnya untuk meladeni Bundanya terlebih dahulu.


Elena tersenyum lembut, tangannya terulur untuk mengusap kepala putra satu-satunya. Adam pun sedikit membungkukkan tubuhnya agar sang bunda bisa menjangkau kepalanya dengan mudah.


"Hari ini gimana hari kamu? Ada kejadian apa aja?" tanya Elena setelah berhenti mengusap kepala Adam.


"Bunda sibuk?"


Elena menggeleng seraya tersenyum hangat. "Engga, Sayang. Kamu mau cerita sama Bunda?" Setelah mengangguk, mengiyakan perkataan sang bunda, Adam menarik lembut tangan Elena untuk masuk ke dalam kamarnya.


Laki-laki itu menggiring Elena untuk duduk nyaman di kasurnya. Sedangkan dia sendiri menggeret kursi belajarnya mendekat. "Pagi tadi Adam jemput Estelle sesuai perintah Bunda waktu itu. Tapi begitu sampai sana ternyata bocahnya lagi sakit, demam."


"Hah, Estelle sakit? Kamu kok gak ngabarin Bunda? Terus gimana keadaannya sekarang? Parah sakitnya?"

__ADS_1


"Estelle di bawa ke rumah sakit tadi. Harus diinfus karena kayaknya makanan juga belom bisa masuk ke perutnya. Waktu pagi sih Adam liatnya dia muntah pas dipaksa makan sama abangnya," jelas Adam terdengar santai. Tentunya hal ini menimbulkan tanda tanya di kepala Elena.


"Kamu gak khawatir?"


Adam menggeleng. "Engga kok. Kan udah ditanganin dokter, ada Axelle juga di sana." Elena hanya tersenyum mendengarnya. Putranya itu sangat mirip sekali dengan suaminya, benar-benar fotocopy-annya.


"Kemarin Bunda ketemu sama Estelle. Dia masih imut seperti biasa." Adam hanya diam karena tidak tahu harus merespons perkataan bundanya tadi seperti apa.


"Bunda sebenernya agak sedikit merasa bersalah. Kayanya Bunda ikut andil atas sakitnya dia sekarang," terang Elena yang membuat bola mata Adam hampir keluar dari matanya.


"Bunda ketemu Estelle? Bunda apain sampai dia sakit gitu?"


"Bunda ngobrol sebentar sama dia di cafe, abis itu Bunda tanya dia sukanya apa. Dan Estelle bilang, kalau dia suka sekali sama es krim. Ya udah Bunda bawa dia ke kedai es krim yang pernah direkomendasiin temen Bunda ..."


Adam mengernyitkan dahinya karena Elena tidak melanjutkan perkataannya dan menatapnya takut-takut. "Bunda??" Suara laki-laki itu terdengar menuntut sang bunda untuk kembali melanjutkan perkataannya.


"Di sana kita coba banyak es krim, hampir semua rasa yang ada di sana," cicit Elena.


Adam langsung memijit pangkal hidungnya karena tiba-tiba kepalanya berdenyut nyeri setelah mendengar pengakuan bundanya. Jika Axelle tahu bundanya lah yang membuat adiknya terbaring di rumah sakit saat ini, laki-laki itu pasti semakin gencar untuk membatalkan perjodohannya dengan Estelle.


"Adam, besok kamu izin aja ya ga usah berangkat sekolah. Temenin Bunda jengukin Estelle. Mau ya?" pinta Elena yang benar-benar tidak bisa ditolak oleh Adam.


"Ok."


"Ya udah kalau kaya gitu kamu istirahat aja. Bunda mau kabarin ayah kamu dulu."


"Iya, Bun." Adam benar-benar tidak bisa mengatakan tidak, meskipun dalam hatinya ia berteriak untuk melarang bundanya mengabari sang ayah perihal kondisi Estelle pada malam ini.


"Sleep tight, Sayang."


"You too, Bun." Bahkan setelah pintu kamarnya tertutup, Adam tidak bisa mencegah atau melarang sang bunda untuk mengabari sang ayah. Tidak terlalu ingin ambil pusing, Adam memilih untuk langsung saja menghempaskan tubuhnya saja ke kasur daripada mempertimbangkan kembali apakah ia harus menghentikan bundanya atau tidak.

__ADS_1


Matanya memandang lurus plafon kamarnya. Memikirkan perkataan Axelle di rumah sakit tadi. Benarkah ia tertarik dengan Estelle? Rasanya tidak mungkin karena ia selalu merasa kesal saat melihat gadis itu. Apalagi gadis itu centil sekali. Ia benar-benar tidak suka.


Dan ... pergolakan hati dan pikiran Adam ini berlangsung cukup lama sampai akhirnya laki-laki itu tertidur karena pusing dengan semua kemungkinan yang ia pikirkan.


__ADS_2