
Tangis dan tawa itu selalu beriringan dan tak pernah terpisahkan.
***
Pandangan mata Estelle terus mengikuti pergerakan Axelle yang sedang bersiap untuk pergi nongkrong dengan teman-temannya. “Kak Axelle ikut,” pinta Estelle untuk ke-sekian kalinya. Axelle melirik adiknya lewat pantulan cermin dan lagi-lagi menggelengkan kepala tegas sebagai jawaban.
“Janji gak nyusahin,” bujuk Estelle lagi dengan muka memelas.
Lagi, Axelle kembali menggeleng tegas. “Kamu di rumah aja. Udah malem nanti kamu masuk angin.”
Estelle merengut kesal. “Pelit!” Gadis itu langsung keluar dari sana. Axelle hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli. Apa pun yang terjadi ia tidak akan membawa Estelle pergi bersamanya malam ini.
Karena hari ini ia tidak hanya akan bertemu dengan Adam, Wildan, dan Suho. Tetapi juga rekan-rekan tim basketnya yang lain. Intinya ia tidak akan membiarkan mereka sampai mengambil kesempatan untuk mendekati adik kesayangannya itu.
Estelle sendiri sedang mengadu pada Jacob lewat telepon sambil nangis sesegukan. “Stelle mau ditinggal hiks sendirii!! Si pelit itu gak mau ajak Stelle!” adunya menggebu-gebu.
“Sayang, adek kesayangan Abang … udahan ya nangisnya. Nanti mata kamu bengkak terus sakit loh. Gapapa ya, Estelle gak usah ikut, mending temenin Abang kerja sambil videocall gini aja. Abang kangen banget sama Estelle.”
Estelle menarik ingusnya dan menghapus air mata yang ada di kedua pipinya. “Kalau kangen pulang dong harusnya! Abang juga sama aja, nyebelin! Estelle benci Abang!” Setelah berkata seperti itu, Estelle langsung
memutuskan panggilan video.
Jacob menghembuskan napas lelah melihat layar menu tab-nya.
Dengan cepat ia mengetikkan pesan untuk memperbaiki suasana hati adik kesayangannya itu.
To, My Lovely: Kamu bakal tetep benci Abang meskipun besok Abang pulang?
Dan tidak lama setelah Jacob mengirimkan pesan singkat tersebut, Estelle kembali meneleponnya lewat panggilan suara.
“Beneran besok pulang?” Dari suaranya, Jacob tahu jika adiknya itu kembali menangis. Ia menghela napas panjang sebelum mengiyakan pertanyaan Estelle. Setelah itu, Estelle dan Jacob melakukan panggilan video sampai tengah malam.
__ADS_1
Bahkan sampai Axelle kambali lagi ke rumah, keduanya tak kunjung mengakhiri panggilan video tersebut. Barulah saat Estelle tertidur, Jacob memutuskan panggilannya.
*
*
*
“Imagine your face, say hello to me~”
“Na na na na na, na na na na na … tut tut rurut, trululululut~”
Wajah Joyceline berubah masam setelah mendengarnya seharian ini. Mungkin akan terasa lebih baik kalau Estelle menyanyikannya dengan benar tapi gadis itu hanya mengulang bagian itu dan setelahnya tersenyum-senyum sendiri seperti orang tidak waras.
Bahkan saat di kelas pun Estelle juga seperti itu. Gadis itu sampai mendapat teguran beberapa kali dari guru bahkan ancaman dikeluarkan dari kelas karena cukup mengganggu konsentrasi yang lainnya.
“Imagine your face, say hello to me~”
“Na na na na na, na na na na na … tut tut rurut, trululululut~”
Estelle tertawa lepas. “Oke oke aku akan berhenti. Maafin aku, aku lagi seneng banget hari ini.”
“Kamu menang undian lotre?” tanya Januar dengan alis yang terangkat sebelah. Ia tahu sahabatnya ini memang agak-agak tapi biasanya tidak separah ini.
Estelle mendekatkan dirinya pada Januar dan berjinjit untuk berbisik di telinga laki-laki itu. “Jadi gini ….”
“Gak jadi deh,” lanjut Estelle main-main.
Wajah Januar sudah masam sekali, namun tidak protes ataupun mengeluh dengan kelakuan sahabat anehnya itu. Ia hanya bisa mengelus dada, berusaha untuk tetap sadar dan mempertahankan kewarasannya selama ia berada di samping Estelle.
Joyceline langsung memukuli Estelle dengan buku tulis yang ada di pangkuannya untuk mewakili Januar. “Dasar!” Ia tahu kalau laki-laki itu tak akan sanggup melakukannya, jadi biar dia yang melakukannya. Pikir gadis bermulut tajam itu.
__ADS_1
“Hahahaha, maaf maaf. Bang Jacob balik malem ini setelah berapa hari dia di luar kota. Jadi, ya aku excited banget!” seru Estelle begitu bersemangat.
Itulah yang terjadi pada siang hari tadi dan sekarang Estelle menyesal karena merasa terlalu bahagia untuk menyambut kepulangan Jacob yang tidak benar-benar terjadi malam ini. Gadis itu tidak berhenti menangis sejak setengah jam yang lalu karena pria itu belum juga tiba, padahal pria itu berjanji akan sampai rumah sekitar setengah jam yang lalu.
“Abang pulangnya baru besok kali. Kita masuk kamar yuk tidur di dalem,” bujuk Axelle untuk ke-sekian kalinya. Namun sayangnya selalu ditolak oleh gadis itu mentah-mentah.
Sang mommy keluar dari kamar karena mendengar suara tangis putrinya yang terdengar sampai ke seluruh penjuru rumah. “Estelle udah jam berapa ini?” Kedua kakak beradik itu lantas menoleh secara bersamaan.
Estelle langsung menahan tangisnya seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam saat mendapati wajah sang mommy yang terlihat marah dan juga lelah. Ia jadi merasa menyesal telah berisik malam-malam. Axelle menatap Agatha tajam, Agatha yang ditatap seperti itu pun tersulut emosi.
“Apa? Mom benar, ‘kan? Jam berapa sekarang, kalian sadar gak? Jangan terlalu memanjakan adikmu, Axelle.”
Baru Axelle akan membalas perkataan sang mommy, Estelle langsung menahan Axelle dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Axelle dan menenggelamkan wajahnya di cerukan leher laki-laki itu. Tentu saja Axelle langsung refleks mengusap-usap punggung Estelle dengan lembut alih-alih mendebat sang mommy.
“Maaf, Mom. Estelle janji gak akan berisik lagi,” ujar Estelle penuh penyesalan. Agatha langsung balik ke kamarnya tanpa berkata apa pun lagi.
Kini perhatian Axelle seluruhnya kembali tertuju pada sang adik. “Kita masuk, yuk. Tunggu abangnya di dalem kamar aja …,” bujuk Axelle lagi yang tetap mendapat penolakan dari Estelle seperti yang sudah-sudah.
“Ayo dong, Stelle. Nanti kamu bisa sakit kalau nunggu abang semaleman di sini. Yuk masuk.” Lagi dan lagi gelengan kepala yang Axelle dapatkan dari Estelle.
Menyerah, Axelle memilih untuk mengambil selimut dan bantal dari kamarnya untuk tidur mereka di sofa ruang tamu. Awalnya Axelle merasa tidak masalah ikut menemani sang adik di ruang tamu. Namun lama-lama ia merasa
pegal karena kakinya harus menjuntai saat tidur di sofa. Sangat berbeda dengan Estelle yang memiliki tubuh mungil dan sangat pas saat tidur di sofa.
Axelle menghembuskan napas kasar. Ia memutuskan untuk pindah ke kamar nanti setelah Estelle tertidur pulas.
Jam berjalan dengan sangat lambat, itulah yang ada di pikiran Axelle. Sampai pukul dua dini hari, Jacob tak kunjung datang. Estelle pun sudah tertidur meringkuk di atas sofa. Setelah memastikan bahwa Estelle sudah tertidur pulas, Axelle dengan sangat hati-hati mengangkat tubuh sang adik, berencana untuk memindahkan Estelle diam-diam.
Namun sayang beribu sayang, kedua mata Estelle langsung terbuka lebar saat Axelle berhasil mengangkat tubuhnya dari sofa. Gadis itu meronta dan bersikeras untuk tetap menunggu Jacob di ruang tamu.
“Gak mau! Kalau Ka Axelle mau masuk kamar, masuk aja sendiri! Estelle mau tetep di sini!” Dengan suara berbisik, Estelle ngotot tidak ingin dipindahkan ke kamar.
__ADS_1
Karena sudah terlalu lelah dan Axelle sangat kesal karena sang adik yang begitu keras kepala, Axelle pun meninggalkan Estelle sendiri di ruang tamu. “Terserah lo deh, capek gua!” ujar Axelle sebelum benar-benar kembali ke kamarnya sendiri.
Meski begitu, Axelle sengaja tidak menutup pintu kamarnya agar jika sewaktu-waktu Estelle berubah pikiran, gadis itu bisa dengan mudah masuk ke dalam kamar.