
"Kak Axelle tuh kenapa sih?!" Estelle menjerit kala langkah lebar Axelle tak lagi bisa ia kejar. Dan jeritan gadis itu berhasil membuat langkah kaki Axelle berhenti sejenak.
"Kamu pikir aja sendiri," ujar Axelle singkat sebelum kembali melanjutkan langkah jenjangnya menuju kamar. Kali ini ia pastikan, ia benar-benar akan mengunci kamarnya.
Estelle menghembuskan napas panjang. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa kakaknya sangat marah setiap ia berdekatan dengan Adam. Padahal kakak tertua mereka juga sudah setuju dan membiarkan semua ini terjadi sesuai dengan permintaannya waktu itu. Lalu apalagi yang Axelle permasalahkan sekarang?
Tidak ingin waktunya terbuang percuma, Estelle pun bergegas ke kamarnya untuk membereskan diri dan menyiapkan barang-barang yang diperlukannya besok.
__ADS_1
Adam menyentuh lembut punggung tangan Estelle hingga gadis itu tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arahnya. "Udah sampe. Nanti kalau mau liat latihan bilang aja ya. Terus kalau mau dijemput juga kamu telfon aja jangan sungkan, ok?" Estelle hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis sebelum keluar dari mobil Adam.
Sebelum benar-benar masuk, Estelle melambaikan tangannya pada Adam yang bersiap akan pergi. Setelah mendapat balasan berupa klakson, barulah Estelle masuk ke dalam rumahnya. Ia menghembuskan napas kasar saat mendapati seisi rumahnya kosong tak ada orang.
Entah kenapa ia merasa rumahnya yang besar ini sangat-sangat kosong semenjak kedua kakaknya terlalu sibuk akhir-akhir ini. Dengan langkah gontai ia langsung masuk ke kamarnya dan menghempaskan dirinya ke kasur begitu sampai di sana.
Gadis itu termenung sambil menatap lurus ke atap kamarnya. "Kangen abang ...," lirihnya.
Kepala Estelle berputar ke arah di mana bingkai fotonya bersama dengan kedua kakaknya berada. Ia jadi teringat dengan percakapan terakhirnya dengan Axelle pada hari itu. Sejak pulang dari rumah Suho, Axelle seperti sedang menghindarinya, laki-laki itu cenderung diam saat bertemu dengannya akhir-akhir ini. Jacob pun sudah hampir seminggu tidak tidur di rumah.
Deg!
Perasaan khawatir dan cemas muncul seketika. Ingatan tentang perpisahan mereka di masa lalu tiba-tiba kembali terputar di kepalanya. Ia kembali merasakan rasa sakit yang dulu pernah ia rasakan. "Aniya ... mereka gak akan tinggalin aku. Mereka sayang aku ...." Estelle bergumam lirih seperti itu berkali-kali pada dirinya sendiri, berusaha untuk meyakinkan dirinya.
Memori tentang pembicaraan mereka terkait rencana keberangkatan Axelle ke Jerman pun melintas di kepalanya, yang mana membuat perasaan gadis itu semakin kacau.
"AARGGGHH!!"
Estelle berteriak seraya melemparkan ponsel yang berada tak jauh darinya ke cermin hingga membuat bayangan itu hancur bersama serpihan cermin yang memantul ke segala arah. "Aniya! Mereka menginginkanku! Aku berharga untuk mereka! Mereka tidak akan pernah meninggalkanku! Ada Ayah, ada Anu, ada ... ada-"
Perkataan Estelle menggantung. Gadis itu terdiam memikirkan kemungkinan ia benar-benar tidak diinginkan oleh semua orang.
Brak!
__ADS_1
Axelle membuka pintu kamar Estelle dengan sangat kencang. Napas laki-laki itu terengah-engah karena berlari setelah mendengar informasi dari petugas keamanan yang ada di luar bahwa terdengar suara pecahan dan teriakan yang cukup keras dari dalam rumah.
Hal pertama yang dilihatnya adalah kondisi Estelle yang terdiam dengan tatapan mata kosong. Gadis itu bahkan tidak menoleh untuk melihat kedatangannya.
"Stelle, are you okay?" Axelle berjalan mendekati Estelle yang masih terdiam di atas kasur. Bisa ia lihat cermin dan ponsel adiknya hancur berkeping-keping di sana. Dengan perlahan ia meraih tubuh Estelle dan membawanya ke dalam dekapannya.
Axelle melepas pelukannya karena merasa ada yang janggal dengan adiknya. "Stelle, lo denger gua, 'kan?" tanyanya berusaha mendapatkan respons dari sang adik. Bola matanya bergetar saat menyadari tatapan mata Estelle yang kosong. Panik, ia langsung mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Jacob.
Berkali-kali Axelle menghubungi Jacob, namun tak kunjung diangkat oleh pria itu. Hal ini membuat Axelle semakin panik. Ia melempar ponselnya asal dan fokus dengan keadaan adiknya. "Estelle, pleasee!" Axelle menepuk-nepuk kedua pipi Estelle cukup kencang.
"Estelle," panggilnya.
Estelle bergerak, kedua mata gadis itu bergerak liar tak tentu arah. Bibirnya terus bergumam pelan. "gak. Semua itu gak bener. Semua orang sayang aku. Mereka sayang aku. Aku gak akan dibuang lagi, ak-aku gak akan ditinggalin lagi."
"Hei, siapa yang mau buang kamu?" Dengan nada bergetar Axelle bertanya pada Estelle seraya membingkai lembut wajah adiknya itu. Dan sayangnya Axelle tidak direspons sama sekali oleh Estelle. Gadis itu seakan tidak bisa mendengar dan menyadari keberadaan Axelle sekarang. Gadis itu terlalu larut dalam isi pikirannya yang begitu kacau.
Axelle frustrasi, ia khawatir dengan keadaan Estelle. Tapi di sisi lain ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.
"Estelle," panggil Axelle, berharap kali ini Estelle akan meresponsnya. Namun lagi-lagi ia harus menelan pil pahit. Karena nyatanya Estelle semakin tidak karuan. Gadis itu kini justru malah berkali-kali memukuli kepalanya sendiri sambil terus berteriak 'berisik'. Entah apa yang terputar di kepala gadis itu sekarang, tapi yang jelas Axelle benar-benar merasa sesak melihat keadaan adiknya yang seperti ini. Ia sekuat mungkin menahan kedua tangan Estelle yang ingin menyakiti dirinya sendiri.
Tidak tahu harus bagaimana menenangkan Estelle, Axelle memilih untuk menahan kedua tangan Estelle sambil mendekap erat tubuh yang lebih kecil itu dari belakang sampai gadis itu berhenti sendiri karena kelelahan.
Setelah Estelle memejamkan kedua matanya, barulah Axelle kambali mengambil ponselnya untuk mengabari teman-temannya, ia tidak bisa keluar bersama mereka saat ini. Ia juga memperingatkan Adam untuk tidak ke rumahnya dulu dan memberinya waktu berduaan dengan sang adik sebagai dalih.
__ADS_1
Axelle juga mengirim pesan singkat pada Jacob untuk segera pulang dan memberitahu keadaan Estelle saat ini seperti apa. Tak hanya itu, ia juga menghubungi Januar untuk segera datang ke rumahnya, tentunya dengan menjelaskan keadaan Estelle sebelumnya.
From, Januar: I'll be there ini 10 minute.