Cheerleader

Cheerleader
25


__ADS_3

Saat marah pikiran kita sering tertutup kabut pekat. Karena itulah diperlukan orang yang bisa memberi arahan pada kita di saat-saat seperti itu.


***


“Loh, gua kira lo udah berangkat, Ka.” Axelle mengerutkan dahinya bingung saat Januar terlihat sangat terkejut dengan keberadaannya.


“Ngaco lo. Jelas-jelas gua baru keluar.”


Januar menggerakkan tubuhnya kaku seraya menunjuk pintu keluar rumahnya. “Tapi tadi sekitar setengah jam yang lalu si Estelle udah berangkat. Gua kira bareng lo,” jelasnya. Mendengar itu, Axelle langsung dengan cepat menghubungi sang adik lewat ponselnya.


“Diangkat, Ka?”


“Diem anj-”


“Halo, Kak. Waee?”


Sapaan merdu dari seberang sana langsung memutus makian Axelle pada Januar.


“Lo dimana sekarang? Udah berangkat duluan kok gak bilang? Berangkat sama siapa sampe gak bilang gua dulu?” tanya Axelle beruntut. Ia bisa mendengar helaan napas kasar dari seberang sana, meski begitu ia tidak peduli sama sekali.


“Oke, pertama Estelle minta maaf dulu karena gak bilang. Stelle buru-buru tadi jadi gak sempet bilang. Sekarang Estelle udah di sekolah, tadi bareng sama kak Adam.”


“Adam?”


“Iya, kak Adam temen kak Axelle. Aku juga gak tau kenapa kak Adam tiba-tiba jemput. Aku sendiri juga kaget tadi. Jadi, kak Axelle jangan marah-marah ya, heum?” ujar Estelle dengan nada bicara yang diimut-imutkan.


Januar yang sedari tadi memperhatikan sambil menyantap sarapannya pun mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. Melihat dari ekspresi wajah Axelle yang tidak setegang tadi, ia bisa menyimpulkan dan memastikan dengan sangat yakin bahwa sahabatnya itu sudah mengeluarkan jurus mautnya.


Kakak bucin, ejek Januar dalam hati. Tentu saja ia tidak mengatakan hal itu secara langsung. Ia masih menyayangi nyawanya.


***

__ADS_1


Semua siswa-siswi yang berada di pakiran berbisik-bisik melihat kedekatan Januar dengan Axelle, mengingat keduanya kerap terlihat tidak akur karena Estelle.


“Pokoknya omongan kita di mobil tadi jangan sampe si Estelle tau. Dan makasih buat tumpangannya, gua pasti bakal bales ini semua. Lo tinggal bilang aja kalau lo butuh bantuan gua, gak usah sungkan lagi.”


Januar tersenyum senang. “Oke Kak siap.”


Setelahnya Axelle menepuk bahu Januar akrab sebelum pergi meninggalkan Januar sendiri di sana.


“Wih lampu ijo nih gua liat-liat,” ujar Joyceline yang juga melihat interaksi keduanya tadi. Dia merangkul bahu Januar hingga laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya itu harus memiringkan tubuhnya agar ia bisa merangkulnya.


“Ya lumayan lah. Seenggaknya gua gak akan ketar-ketir lagi setiap main sama si Estelle.”


Joyceline mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban Januar. “Itu doang? Gua kira lo ada rasa sama si Estelle,” ujarnya seraya melepaskan rangkulannya.


“Gua sayang kok sama Estelle … sayaaang-”


Decakan kesal yang keluar dari bibir Joyceline memotong perkataan Januar. “Bukan sayang itu yang gua maksud. Bukan sebagai sahabat, tapi sebagai pria-wanita.” Perkataan blak-blakan Joyceline membuat Januar sukses terdiam.


“Gua lebih setuju dan tenang si Estelle sama lo daripada sama kak Adam. Secara, perlakuan lo dan service lo ke Estelle jauh lebih baik dibanding doi,” ujar Joyceline yang sama sekali tidak mendapatkan respons apa pun dari Januar.


Mengerti kebimbangan yang dirasakan Januar, Joyceline menepuk-nepuk pundak laki-laki itu pelan sebagai dukungan. Lalu berlalu meninggalkan Januar yang masih terdiam di sana.


Di sisi lain, Axelle menatap rekan sepermainannya itu dengan tatapan menuntut. “Jelas-jelas lo siangnya masih ketemu gua sama Estelle, tapi lo gak ngomong apa-apa tentang perjodohan itu ke kita?! Gua gak ngerti mau lo apa. Lo gak suka adek gua, ‘kan? Kenapa masih milih lanjut?! Dan ada maksud terselubung apa lo sampa mau-maunya jemput adek gua pagi-pagi?” Napas Axelle terengah-engah setelah selesai menanyakan itu semua.


Axelle bahkan tidak peduli bahwa rentetan pertanyaannya yang ia utarakan keras-keras tadi berhasil menarik perhatian semua teman-temannya yang ada di ruang kelas saat ini.


Tatapan datar Adam yang semula tertuju lurus ke depan beralih menatap tajam semua orang yang sedang memperhatikan sekaligus mencuri dengar pembicaraan mereka. “Pertama, gua udah ngomong sama adek lo kemarin sebelum gua ngomong ke keluarga lo, lewat chat. Kalau lo gak percaya, lo bisa tanya Estelle sendiri. Kedua, gua emang gak suka sama adek lo tapi bukan berarti gua bisa membatalkan perjodohan ini semau gua. Dan yang terakhir, gua cuma nurutin permintaan nyokap buat jemput adek lo. Jadi, lo gak usah heboh.”


Axelle tidak lagi membalas perkataan Adam, tetapi kepalan tangan laki-laki itu tidak berbohong. Axelle benar-benar kesal dan ingin sekali melayangkan tinjunya ke wajah datar Adam saat ini. Tetapi janjinya pada Estelle membuatnya berpikir dua kali untuk melakukannya.


Gio yang baru saja tiba dengan selembar roti di mulutnya langsung menengahi keduanya begitu menyadari suasana tegang ruang kelasnya. Kedua matanya bergerak cepat mencari Suho yang biasa membantunya menengahi dua orang yang kini ada di hadapannya.

__ADS_1


“Bro, Chill. Pagi-pagi udah tegang amat. Kali ini ada masalah apalagi sih?” Gio sedikit menjauhkan Axelle dari tempat Adam duduk sekarang.


Karena tidak ada jawaban dari keduanya, Gio berusaha mengajak Axelle pergi dari sana untuk menenangkan dirinya. Karena jelas terlihat di matanya, Axelle lah yang emosinya begitu menggebu-gebu saat ini.


Kini keduanya sudah berada di rooftop, berniat tidak mengikuti mata pelajaran di jam pertama.


“Kenapa lagi sih, My bro? Lo kan udah janji sama adek lo bakal perbaikin hubungan lo sama si Adam. Kalau sampai si Estelle tau lo berantem lagi sama Adam, gua gak kebayang deh sekecewa apa nanti doi sama lo.”


Perkataan Gio barusan rupanya sedikit masuk ke dalam pendengaran Axelle hingga laki-laki itu mau membalas perkataan Gio. “Lo tau, temen lo yang bangsat itu malah ngelanjutin perjodohan dia sama Estelle padahal jelas-jelas dia gak suka sama adek gua. Gimana gua gak kesel setengah mampus?!”


Gio memejamkan kedua matanya seraya mendongak untuk menikmati terpaan angin dan sinar hangat mentari yang dengan lembut menyapa wajahnya. “Lo sama Adam itu sama-sama temen gua. Gua gak bisa disuruh milih salah satu di antara kalian. Emangnya lo udah tanya alasan kenapa dia ngelanjutin itu semua?”


“Udah,” jawab Axelle singkat.


“Terus dia jawab?”


Axelle menghembuskan napas kasar. “Dia bilang dia gak bisa ngebatalin perjodohan ini semau dia,” jelasnya terlihat sangat enggan menjelaskan.


“Itu artinya bukan berarti dia gak pernah berusaha untuk ngebatalin perjodohan mereka, Xelle. Dia pasti pernah ngelakuin itu tapi tetep gak berhasil. Dia gak mungkin ngejelasin itu semua dengan rinci ke lo. Tau sendiri lah si Adam gimana. Intinya lo jangan nyalahin dia aja. Dari adek lo sendiri ada penolakan gak sama perjodohan ini?”


Perkataan Gio barusan membuat Axelle benar-benar terdiam. Pikirannya langsung tertuju pada ingatannya beberapa hari ke belakang. Adiknya itu memang belum menolak dengan berbicara terang-terangan, baik dengan keluarganya maupun keluarga Adam. Gadis itu hanya menyampaikan ketidaksetujuannya padanya dan juga abangnya Jacob.


“Dia cuma sampein penolakannya sama gua dan bang Jacob. Abang sendiri gak ngebiarin Estelle ngomong langsung ke bonyok karena takut dipengaruhin sama mereka buat tetep lanjutin ini semua meskipun dia gak mau.” Axelle terdiam sebentar setelah mengatakan itu semua, lalu menggerang kesal seraya mengusak rambutnya frustrasi saat menyadari kesalahan yang sedang terjadi saat ini.


“Harusnya gua ngarahin dia buat nyampein penolakannya langsung ke keluarga Adam! Gua bego banget sih! Bisa-bisanya gua gak kepikiran! Abang gua juga sama dongonya!”


Gio menyeringai mendengar teriakan rekan sekawannya itu. “Makanya jangan cepet kemakan emosi. Abang lo udah sibuk ngurusin kerjaannya harusnya lo gak nyalahin doi juga. Coba lo bayangin jadi dia, bebannya banyak, perusahaan, bonyok lo, Estelle, lo … banyak yang harus dia pikirin. Lo harusnya ngeringanin beban dia,” nasihatnya panjang lebar.


Axelle berdecak kesal mendengar nasihat panjang sang teman. Meski begitu ia bersyukur bisa memiliki teman seperti Gio di sampingnya saat ini. “Bawel lo! Tapi makasih saran sama nasehatnya, gua bersyukur punya temen kaya lo di hidup gua.”


Gio merinding mendengar ucapan Axelle yang tidak biasanya. “Apaansi lo b*bi!” makinya seraya menendang Axelle.

__ADS_1


__ADS_2