
Aku paling benci saat diabaikan, namun aku juga merasa tidak nyaman saat menjadi pusat perhatian semua orang.
***
“Estelle udah bangun? Kenapa gak sarapan dia?” tanya Jacob pada Axelle yang baru saja selesai bersiap untuk berangkat ke sekolah.
“Udah bangun kok, paling bentar lagi turun.”
Keduanya terdiam dan sibuk dengan sarapannya masing-masing sampai suara deru mobil terdengar dari luar. “Siapa?” tanya Jacob. Axelle hanya mengangkat kedua bahunya tak ingin ambil pusing.
Tak lama setelah itu, bel rumah berbunyi dan dengan sigap pembantu mereka; Mba Nini, membukakan pintu rumah. “Pagi, Bang, Kak Axelle,” sapa Januar pada keduanya.
“Ngapain?” tanya Jacob enggan basa-basi.
“Estelle masih di atas, lo tunggu aja di depan,” ujar Axelle yang diangguki patuh oleh Januar. Laki-laki itu pun keluar dan memilih untuk menunggu Estelle di kap mobilnya.
Cukup lama ia menunggu, sampai akhirnya teriakan Estelle terdengar dari dalam. Tak lama setelahnya, Estelle keluar dan menghampirinya terburu-buru. “Maaf ya, abang sama ka Axelle emang keterlaluan. Lagian kamu mau aja sih disuruh nunggu di sini.”
Januar hanya tersenyum menanggapi perkataan Estelle.
“Kita berangkat?” Estelle menganggukan kepalanya semangat.
Januar lagi-lagi hanya tersenyum karena sahabatnya ini masih belum berubah. Ia bersyukur karena Estelle sangat mudah dialihkan perhatiannya, ia tidak ingin Estelle merasa canggung karena merasa tidak enak padanya.
Begitu sampai di sekolah, mereka langsung menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak? Estelle yang biasanya berangkat bersama dengan Axelle kini berangkat bersama laki-laki lain dengan mobil yang tak kalah mewah dari mobil yang biasa mereka pakai untuk ke sekolah.
Estelle yang tidak nyaman menjadi pusat perhatian pun memilih untuk bersembunyi di belakang tubuh Januar dan memegang tas punggung laki-laki itu dengan erat agar tidak tertinggal.
Januar mengerti Estelle merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Jadi, ia mempercepat langkahnya menuju ruang tata usaha dan menatap tajam orang-orang yang menatap mereka dengan terang-terangan.
“Aku tunggu sini aja,” cicit Estelle saat mereka sudah berada di depan ruang tata usaha.
Karena mereka sudah tidak menjadi pusat perhatian lagi, Januar berani memegang tangan sahabatnya itu dan memaksanya ikut masuk ke dalam bersamanya. “Anu! Aku bilangin ayah nanti!” ancam Estelle berbisik. Gadis itu tersenyum sopan saat matanya bertemu pandang dengan wali kelasnya.
“Januar ya?” Januar hanya mengangguk mengiyakan.
“Nah kebetulan kamu Estelle ada di sini. Kalian saling kenal?” tanya sang wali kelas saat melihat tautan tangan keduanya.
Estelle tertawa pelan. “Hehe iya, Pak. Dia temen saya.”
“Kalau gitu kamu antar dia ke kelas, ya. Sama tolong sampaikan pada teman-teman kamu untuk mengerjakan tugas yang ada di buku paket halaman 154 sementara bapak belum masuk ke kelas.”
“Oh iya satu lagi, bantu Januar menyesuaikan diri, oke. Bapak ada urusan sebentar, nanti Bapak akan menyusul.”
Estelle hanya bisa mengangguk patuh mendengar perintah wali kelasnya. Dalam hati ia hanya bisa menggerutu karena lagi-lagi ia akan menjadi korban julid teman-teman sekelasnya. Sepanjang jalan menuju ruang kelasnya, Estelle bermain ponsel untuk mengirimkan pesan pada Joyceline.
To, Joyceline: Tolong aku, mereka pasti akan tambah julid padaku **
__ADS_1
Tak lama Joyceline mengirimkan balasannya pada Estelle.
From, Joyceline: Hah??
Karena terlalu sibuk mengetik, Estelle jadi tidak memerhatikan langkahnya. Hampir saja ia terjatuh dan mencium lantai kalau saja Januar tidak sigap menangkap tubuhnya.
“Hati-hati dong, Stelle! Kalau kamu tadi sampe beneran nyuksruk gimana? Njing, jantung gua!”
“Ya maap,” sesal Estelle menunduk dalam. Kedua tangannya memegang ponselnya erat-erat karena merasa bersalah. Ia juga takut Januar marah mengingat panggilannya berubah tadi.
Januar menghembuskan napas kasar. “Lain kali jangan gitu, lo bisa bikin gua mati muda.”
“Iya-iya, maaf ….”
Januar hanya mengangguk dan mengusak rambut Estelle karena gemas. Mereka tidak tahu jika ada seseorang yang melihat semua itu dalam diam.
*
*
*
Hampir seluruh siswi yang masuk pada hari ini berbondong-bondong pergi ke lapangan basket indoor yang letaknya ternyata sebenarnya tidak jauh dari kelasnya Estelle. Estelle yang melihat itu pun mengernyitkan dahinya bingung.
“Celine, mereka pada mau kemana sih heboh banget?”
Joyceline melihat apa yang ditunjuk oleh Estelle. “Oh itu mau pada ke lapangan basket indoor.”
“Kenapa gak kamu liat sendiri di sana?” usul Joyceline.
Estelle menggeleng. “Engga ah, rame banget.”
Drrtt drt!
Ponsel Estelle bergetar dan ia mengerucutkan bibirnya sebal melihat pesan yang ia dapatkan dari sang kakak.
From, Kak Axelle: Bawain minum ke lapangan basket indoor, gc.
“Kenapa?” tanya Januar.
“Kak Axelle nyuruh bawain minum ke sana,” jelas Estelle setengah hati.
“Kemana?” tanya Januar lagi yang ternyata berhasil membuat Estelle kesal.
“Ke lapangan basket indoor, lah! Pake nanya lagi!” semprot Estelle.
Joyceline menahan tawanya saat melihat ekspresi terkejut Januar. Januar yang merasa sedikit malu pun meraup bibir Estelle yang tengah mengerucut kesal itu dengan gemas. “Ya b aja dong. Orang nanya baik-baik.”
__ADS_1
“Ya lagi! Udah tau tadi lagi ngomongin lapangan basket indoor. Makanya punya kuping tuh dipake!”
“Udah-udah, mending lo cepet bawa minumannya ke sana,” ujar Joyceline menengahi.
“Iya-iya.”
Dengan setengah hati Estelle membawa botol air minumnya keluar kelas. Begitu sampai di lapangan indoor ia langsung menghubungi Axelle supaya tidak perlu bersusah payah mencari keberadaan laki-laki itu.
“Estelle udah di sini, tapi kakak di mana?”
Tak lama Estelle melihat handuk kecil yang pernah ia hadiahkan pada Axelle. “Udah liat? GC ke sini.”
Estelle mendengus. “Gak mau, ah! Kak Axelle aja yang ke sini.”
“Sini, Sayangku, Cintaku. Kalau gak mau ke sini gua bakal bilang ke abang kalau lo megang black card yang gak tau punya siapa di-”
“Duh iya-iya! I hate you!” Setelah mengatakan itu, Estelle langsung memutuskan panggilannya secara sepihak. Dengan perasaan dongkol ia menghampiri Axelle yang sedang sibuk mengelap leher dan wajahnya dengan handuk pemberiannya.
“Kak, Axelle!” panggil Estelle yang berhasil membuatnya jadi pusat perhatian.
Axelle tersenyum puas melihat keberadaan Estelle, dia langsung berlari menghampiri adik bungsunya itu. “Minumnya,” pintanya yang langsung menadahkan tangan.
Tanpa berkata apa-apa Estelle langsung menyodorkan botol minumnya dan mengambil alih handuk yang ada di tangan Axelle. Axelle pun hanya tersenyum puas karena Estelle langsung berinisiatif mengelap keringatnya tanpa disuruh lagi.
Keduanya tidak sadar kalau semua orang terpaku pada mereka.
Axelle mendekatkan mulutnya ke telinga Estelle dan berbisik, “Suho udah balik dan nanti malem bakal ke rumah.”
Estelle yang tadinya cemberut pun langsung semringah mendengar perkataan Axelle, bahkan kedua matanya sampai berbinar-binar senang. “Beneran, Kak? Gak lagi nipu, ‘kan?” Axelle hanya mengusak rambut Estelle gemas sebagai jawabannya dan Estelle membiarkannya karena ia merasa senang setelah mendapatkan kabar baik dari Axelle.
“Tapi ini beneran, ‘kan? Kak Axelle gak lagi bohong atau ngarang supaya Estelle ga kesel, ‘kan?” tanya Estelle lagi karena masih belum percaya.
“Iya. Kalau gak percaya tanya aja mba Nini di rumah.”
“Kok jadi nanya mba Nini?” Dahi Estelle sudah mengerut dalam karena bingung. Apa hubungannya mba Nini dengan Suho, pikirnya.
“Iya, kan mba Nini yang nyiapin semuanya buat nanti malem,” jelas Axelle.
Estelle mengangguk-anggukan kepalanya paham. “Iya juga ya.”
“Kalau gitu Estelle ke kelas lagi ya.” Estelle menjinjitkan kakinya agar bisa mengecup pipi Axelle sebelum benar-benar pergi dari sana. Axelle sih biasa saja karena memang sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya, namun tidak dengan yang lainnya.
“Bagi.” Gio tiba-tiba mendatanginya untuk memalak minum yang diberikan oleh Estelle. Tentu saja Axelle tidak memberikannya. Lagi pula ia tahu Gio tidak benar-benar butuh air minum, laki-laki itu hanya ingin menggodanya saja.
“Adek lo seneng banget kayaknya.”
Axelle menoleh cepat, manyadari kadar jiwa ke-kepoan temannya yang sedang meningkat. “Lagian lo pernah liat bocah itu galau?” balasnya seadanya.
__ADS_1
Gio mengangkat kedua bahunya. Kini perhatiannya tertuju pada Adam yang sedang duduk termenung dengan tatapan menerawang. “Kalau temen lo yang satu lagi itu kenapa dah? Main juga gak fokus tadi.”
Kali ini Axelle yang mengangkat kedua bahunya tidak peduli. Namun sesekali ia ikut memperhatikan Adam seperti yang dilakukan Gio saat ini. Biar bagaimanapun Adam juga salah satu rekannya selama ini. Rasa khawatir pasti ada untuk kawannya yang sangat tertutup itu.