Cheerleader

Cheerleader
31


__ADS_3

Sudah dua hari sejak kepulangan Estelle dari rumah sakit, namun Axelle tak kunjung membiarkan adiknya itu berangkat ke sekolah sampai saat ini. Alasannya? Laki-laki itu enggan mengambil resiko dan berniat menunggu keadaan Estelle benar-benar pulih dahulu.


“Abang ke mana sih? Udah dua hari Estelle gak liat abang dan denger suaranya. Kangen,” keluh Estelle. Axelle tidak merespons apa pun saat mendengar keluhan Estelle tadi untuk ke-sekian kalinya hari ini.


Gadis itu menghembuskan napas panjang sebelum kembali melimpahkan seluruh perhatiannya pada Axelle. Merasa ditatap lamat-lamat oleh sang adik, Axelle pun melirik sekilas pada Estelle sebelum akhirnya kembali tenggelam pada tugas-tugas yang ada di hadapannya saat ini.


Dengan enggan Estelle beranjak dari tempat tidur sang kakak untuk menghampiri laki-laki itu. Estelle melingkarkan kedua lengannya, memeluk Axelle dari belakang. Dagunya ia tumpu pada bahu tegang milik Axelle.


“Ka Axelle,” panggil Estelle yang hanya ditanggapi Axelle dengan deheman pelan.


Cup! Estelle mencium pipi Axelle secepat kilat.


“Kaa … aku besok sekolah, ya?” pinta Estelle setengah merengek.


Axelle menggeleng tegas. “Tiga hari lagi. Kita liat kondisi kamu tiga hari lagi. Kalau aman, baru boleh sekolah.” Perkataannya barusan tentu mendapat respons negative dari Estelle. Gadis itu berdecak kesal seraya melepaskan pelukannya pada Axelle. Hal ini membuat Axelle melimpahkan seluruh perhatiannya pada Estelle alih-alih melanjutkan tugasnya.


“Sini dulu deh,” perintah Axelle seraya menarik Estelle mendekat ke arahnya.


“Apa sih!” protes gadis itu. Meski begitu, Estelle tidak memberontak saat Axelle menariknya ke atas pangkuan laki-laki itu.


Estelle menatap lurus pada kedua mata Axelle yang kini memandangnya dengan tatapan yang sangat lembut. Membuat rasa kesalnya yang tadi mengepul tinggi hilang tak berbekas. Senyum tipis laki-laki itu muncul saat menyadari adiknya yang sudah sedikit tenang sekarang.


“Kakak ngerti kamu bosen … tapi kamu gak mau ‘kan liat kakak sama abang kamu ini mati muda karena digerogotin rasa khawatir?” Estelle spontan menggelengkan kepala saat mendengar itu semua.

__ADS_1


Rasa bersalah gadis itu naik ke permukaan saat memikirkan bagaimana cemas dan khawatirnya kedua kakaknya terhadap kondisinya. Harusnya ia mengerti dan mematuhi apa yang keduanya katakan. Toh semuanya demi kebaikannya juga. Bukan malah merengek dan membuat rasa letih keduanya bertambah karena sikap kekanak-kanakannya.


Kepala Estelle menunduk memikirkan itu semua, kedua matanya sudah berkaca-kaca siap menumpahkan bulir bening dari sana. “Sstt jangan nangis. Lagian kenapa nangis coba? Ada yang sakit memang?” Axelle mengusap bulir bening yang kini sudah meluncur bebas di kedua pipi sang adik.


Estelle menggeleng dengan kepala tertunduk. “Engga ada. Stelle cuma sedih.”


“Sedih kenapa?” tanya Axelle penuh kesabaran. Hal ini semakin membuat rasa sedih sekaligus haru dalam diri Estelle semakin membludak. Gadis itu langsung memeluk Axelle tanpa bilang apa-apa terlebih dahulu.


Axelle tidak bertanya lagi dan membiarkan Estelle memeluknya dengan erat. Tangan besarnya tak berhenti mengusap lembut punggung sempit milik Estelle untuk menenangkan gadis itu.


*


*


*


Estelle kembali dibuat terkejut saat melihat keberadaan Adam di depan pintu sana. Laki-laki itu pun sama terkejutnya dengan Estelle, ia tampak terkejut melihat pakaian Estelle yang terlalu pendek. Selama ini ia tidak pernah melihat gadis itu mengenakan celana yang panjangnya di atas lutut sampai paha mulus gadis itu terlihat seperti saat ini.


“Ka Axelle ada di kamarnya, Kak. Langsung ke sana aja karena tadi Suho oppa juga langsung ke sana,” terang Estelle yang hanya dibalas anggukan kepala kaku dari Adam. Perhatian Estelle kembali tertuju pada ponselnya, tanpa menghiraukan lagi Adam yang kini terlihat kebingungan.


“Uhm, Estelle ….” Akhirnya, Adam berani memanggil nama gadis itu setelah menimbang-nimbang cukup lama. Estelle mengangkat pandangannya dari ponsel dan memandang lurus ke arah Adam, menunggu laki-laki itu melanjutkan perkataannya.


Adam sendiri takut salah berbicara, ia tidak ingin sampai menyakiti Estelle lagi untuk ke-sekian kalinya karena perkataan tajamnya. Satu sisi ia merasa tidak nyaman dan khawatir, tetapi di sisi lain ia takut perkataannya nanti akan menyakiti perasaan gadis itu.

__ADS_1


“Kak?” panggil Estelle yang berhasil menyadarkan Adam dari lamunannya. Laki-laki itu tersenyum tipis untuk menanggapinya.


“Gua gak tau gua berhak ngomong ini atau engga. Tapi … menurut gua celana lo kependekan, mending lo ganti. Maksud gua-” Adam berhenti berbicara saat melihat ekspresi wajah terkejut Estelle berubah datar saat mendengar perkataannya barusan. Seketika itu pula rasa bersalah menghantamnya.


“Sorry,” ujar Adam tiba-tiba. Hal ini membuat Estelle terkejut, terlihat dari kedua mata gadis itu yang mengerjap cepat.


“Kenapa kak Adam say sorry?” tanya Estelle tidak mengerti kenapa Adam malah meminta maaf padanya. Padahal menurutnya, ia lah yang seharusnya berterima kasih pada Adam karena laki-laki itu sudah mau mengingatkannya.


Axelle yang baru saja datang dengan Suho di sampingnya tiba-tiba menginterupsi dan memperintahkan Estelle untuk mengganti pakaiannya. “Stelle change your clothes! Jangan berani-beraninya kamu pake baju dan celana kayak gitu keluar rumah!” Keduanya –Adam dan Estelle- bertemu tatap. Setelahnya Estelle tersenyum meledek seraya melirik ke arah Axelle, membuat Adam yang tadinya merasa bersalah menjadi sedikit tenang karena tegurannya tadi ternyata tidak menyakiti gadisnya sama sekali.


“Estelle …,” panggil Axelle terdengar seperti peringatan tegas karena Estelle tak kunjung melaksanakan perintahnya.


“Iya-iya.” Estelle tertawa pelan seraya bergegas ke kamarnya untuk melaksanakan perintah sang kakak.


Suho mengecek jam tangannya. “Kita berangkat sekarang?” tanyanya yang mendapat anggukan setuju dari Adam dan Axelle.


“Kalian duluan aja ke mobil, gua mau ke Estelle dulu sebentar,” ujar Axelle pada kedua rekan sepermainannya itu. Suho keluar lebih dulu, meninggalkan Adam yang masih terdiam di tempatnya.


“Xelle, don’t yell at her,” ujar Adam pada Axelle sebelum benar-benar pergi menyusul Suho.


Sebelah alis Axelle terangkat melihat tingkah temannya yang satu itu. Perubahan yang bagus, tapi aneh anjng!* Kira-kira seperti itulah isi hati laki-laki itu saat ini. Meski begitu, kedua kaki Axelle terus melangkah ke arah pintu kamar sang adik.


Axelle mengetuk pintu kamar Estelle sebanyak dua kali sebelum berbicara, “kakak mau pergi sama Adam, Suho. Kalau kamu juga mau pergi … hati-hati ya! Pulangnya jangan malem-malem karena abang pulang malam ini soalnya. Oh iya jangan lupa makan!”

__ADS_1


“Iyaaa,” balas Estelle berteriak dari dalam kamarnya. Setelah mendengar itu pun Axelle pergi menyusul kedua temannya dengan hati tenang.


__ADS_2