
Bagaimana cara agar ketulusan hati kita bisa tersampaikan dengan baik? Aku bingung dan hampir gila karenanya.
***
Yang lainnya sudah mulai memakan makanan mereka, namun Estelle belum sama sekali menyentuh bekal yang ia bawa. Hari ini ia sengaja membuat cheesecake untuk Adam sebagai permintaan maafnya karena sudah berbicara yang tidak-tidak pada Adam sebelumnya. Dan ia berencana akan memberikannya sekarang.
Gadis itu terus menatap pintu kantin dan bergerak gelisah. Axelle yang sedari tadi memperhatikan pun gemas sendiri. Karena tidak tahan melihat sang adik yang terus bergerak gelisah, Axelle pun langsung mendekap adiknya itu dari samping. “Aduuuh!” rengek Estelle minta dilepaskan.
“Makanya diem. Bukannya makan malah gak bisa diem … kenapa? Pengen pup?” tanya Axelle asal.
“Enak aja!” Estelle melotot galak dan memukul tangan Axelle yang melingkari tubuhnya karena merasa tersinggung dengan pertanyaan sang kakak.
“Tapi, Kak Axelle ….”
Axelle menaikkan sebelah alisnya menunggu lanjutan dari perkataan sang adik. Ia berdecak kesal saat menyadari keraguan Estelle saat melihat gadis itu memainkan jari-jari tangannya. “Ngomong. Kalau gak mau ngomong gua tinggal nanti pas pulang, liatin aja.” Bibir Estelle langsung mengerucut saat mendengar ancaman sang kakak.
“Kak Adam sama ka Gio … kok dia gak ikut ke sini?” cicit Estelle pelan.
Ekspresi wajah Axelle langsung mendatar dan terdiam. Tidak mungkin ia terus terang pada Estelle bahwa hubungan mereka masih belum juga membaik setelah masalah yang sebelumnya, apalagi adiknya itu terus memaksanya untuk kambali memperbaiki hubungan pertemanan mereka.
“Kaa,” panggil Estelle setengah merengek karena merasa tidak dipedulikan.
Axelle mengangkat bahunya tidak peduli. “Mungkin sekarang lagi pada di rooftop.” Setelah mendengar itu, Estelle langsung berlari sambil memeluk kotak makannya tanpa bicara lagi. Gadis itu bahkan melupakan Joyceline yang tadi datang bersamanya.
“Ditinggal lagi,” keluh Joyceline pelan namun masih terdengar oleh Axelle.
“Maklumin aja ya.” Joyceline mengangguk kaku, dia melanjutkan makannya dengan canggung. Jantungnya berdebar tidak beraturan karena berhasil makan berdua dengan Axelle yang notabenenya adalah bintang sekolah ini. Statusnya sebagai anak pemilik sekolah membuat laki-laki itu dikenal oleh hampir seluruh lapisan warga sekolah.
Di sisi lain ….
Estelle mengatur napasnya yang tidak teratur karena berlarian menuju rooftop, bahkan gadis itu tidak memperdulikan rasa sakit di kakinya setelah beberapa kali tersandung saat di tangga. Alih-alih meringis ataupun menangis, Estelle justru tersenyum senang saat melihat Adam yang sedang bersantai di sana.
“Kak Adam!” panggilnya berhasil membuat Adam menoleh ke arahnya.
Adam mendengus kesal, baru saja dia mendapatkan ketenangannya … gadis itu malah datang sekarang. Estelle berjalan mendekat seraya membuka tas bekalnya. “Kak Adam, cobain cheesecake buatan Estelle deh. Oh iya maaf ya cuma Estelle bawain 5 potong, soalnya tadi pagi kak Axelle, Joyceline, sama Januar udah ambil 3 potong.”
__ADS_1
Adam melihat Estelle dan cheesecake-nya bergantian. “Lu ngasih gue kue sisa?” tanyanya dengan wajah yang sangat-sangat tidak bersahabat.
Estelle menggeleng panik. “Enggak kok, aku bikin buat Kak Adam sebagai permintaan maaf karena omongan aku sebelumnya … tapi tadi pagi kak Axelle-”
“Bawa balik, jangan ganggu gue!” sela Adam tak berperasaan. Laki-laki itu memasang airpod-nya dan mulai memejamkan matanya.
Mata Estelle berkaca-kaca setelah mendengar penolakan kejam Adam, namun gadis itu tetap tersenyum. “Kalau gitu aku pergi ya, Kak …,” ucapnya pelan dan langsung pergi dari sana dengan langkah tertatih. Rasa sakit karena terjatuh tadi tiba-tiba terasa begitu menyakitkan, padahal sebelumnya dia tidak merasakan apa pun.
Estelle menghapus air matanya dan tetap tersenyum manis. Dengan perlahan ia berjalan ke arah toilet terdekat untuk membasuh wajahnya.
“Denger-denger ada anak baru yang deket sama kak Axelle dan kawan-kawan, ya?”
“Iya, padahal anaknya biasa aja. Kalau sama lo, cakepan elo lah.”
Langkahnya terhenti di depan pintu toilet, setelah mendengar hal itu entah kenapa dirinya merasa takut melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam.
Kalau lo gak salah, ngapain takut?
Tiba-tiba perkataan itu terngiang di telinganya. Benar juga, kenapa aku harus takut? Pikir gadis itu yang tanpa ragu-ragu lagi masuk ke dalam toilet. Saat Estelle masuk, kedua siswi yang tadi membicarakannya tersenyum manis padanya. Estelle hanya mengangguk sopan lalu masuk ke dalam salah satu bilik toilet.
Cepat-cepat Estelle mengunci bilik kamar mandi yang saat ini ia tempati. Estelle menghembuskan napas panjang saat mendengar suara pintu tertutup. Gadis itu meringis saat lututnya bergesekan dengan roknya.
“Kalau berdiri keliatan banget gak ya?” tanya gadis itu berbicara sendiri. Dia pun berdiri untuk memastikan.
“Keliatan lagi,” keluhnya.
Estelle membenturkan kepalanya berkali-kali ke tembok, menyesal dengan kecerobohannya yang tidak berkesudahan. “Kalau kak Axelle liat gimana?” ringisnya. Dia bergidik ngeri saat wajah Axelle yang murka terbayang di pikirannya.
“Apa aku minta tukeran rok aja sama Joyceline ya? Dia kan tinggi, pasti roknya lebih panjang dari ini, ‘kan? Tapi dia mau gak ya?” Estelle menggeleng lemah, Joyceline masih beristirahat saat ini, ia tidak ingin merepotkan gadis itu terus.
Estelle mengeluarkan ponselnya saat merasakan getaran di sakunya lalu menggigit bibirnya khawatir saat tahu ia mendapat telepon dari Axelle.
“Jujur aja kali ya kalau aku jatoh, tapi gak usah bawa-bawa kak Adam.” Estelle mengangguk pelan.
Akhirnya dia pun mengangkat telepon dari Axelle. “Halo, Kak.”
__ADS_1
“Kamu dimana?!”
Estelle meringis saat mendengar bentakan Axelle, ia menjauhkan layar ponselnya seraya mengusap-usap telinganya yang sedikit berdengung.
“Aku di toilet,” jawab Estelle sedikit ragu.
“Kok ragu gitu? Bohong ya? Ini udah mau bel masuk, kamu kemana? Mau bolos kemana kali ini?”
Estelle merengut kesal mendengar tuduhan sang kakak. “Ih aku jatoh loh! Ini lagi di toilet mau bersihin lukanya!”
“Aduh. Kamu di toilet mana?”
Suara Axelle langsung berubah khawatir, terdengar grusak-grusuk di seberang sana. Estelle pun memberitahukannya. Setelah tahu toilet yang dimaksud oleh Estelle, Axelle pun langsung berlari ke sana tanpa
memperdulikan bel masuk yang sudah berbunyi.
“Stelle, kamu di dalem?” Mendengar suara sang kakak, Estelle pun keluar dari toilet dengan tertatih.
Axelle menunduk saat sadar dengan cara jalan Estelle yang tertatih-tatih dan dengan sigap Axelle membopong Estelle keluar dari sana. Laki-laki itu berlarian sambil membopong tubuh adiknya tanpa memperdulikan orang-orang yang memperhatikannya dari dalam kelas.
Saat di tangga Estelle memeluk leher Axelle dengan erat karena takut terjatuh. “Tenang, Sayang …,” bisik Axelle berusaha menenangkan saat merasakan ketakutan sang adik.
Sesampainya di ruang kesehatan, Axelle langsung menginterogasi sang adik. “Kamu beneran jatoh sendiri? Kamu gak jadi korban bully, ‘kan?” Estelle menggeleng dengan cepat.
Gadis itu mengucek-ngucek hoodie Axelle yang kini sedang dipakainya. “Beneran kok … aku kesandung tadi …,” lirihnya.
“Kok kamu ada di lantai paling atas?” Axelle kembali bertanya seraya membersihkan luka yang ada di kedua lutut sang adik.
Estelle diam, dia bingung ingin memberikan alasan apa untuk tidak membawa-bawa nama Adam, ia tidak ingin kedua laki-laki itu berkelahi lagi karena dia. “Aku tadi cari ka Gio, ka Adam, sama ka Suho … mau kasih chessecake. Kata kakak mereka mungkin ada di rooftop. Jadi, aku cek lah. Tapi ternyata gak ada. Nah karena tadi buru-buru pas mau turun, aku keselengkat kaki sendiri, trus aku jatoh deh.”
Dalam hati Estelle meminta maaf pada Suho dan Gio karena telah membawa-bawa nama mereka dalam kebohongannya.
Axelle menghembuskan napas panjang mendengarnya. Meski ia sedikit ragu, ia berusaha untuk mempercayai penjelasan adiknya itu. “Kalau gitu mau lanjut masuk kelas atau pulang?” Estelle tak kuasa menahan senyumnya
saat mendapat tawaran emas dari sang kakak.
__ADS_1
Axelle yang mengerti arti senyuman adiknya pun menggeleng heran. “Oke kita pulang. Kamu di sini dulu, Kakak mau urus izin sama tas kamu.” Estelle mengangguk pelan dan menuruti perkataan Axelle untuk tetap di sini. Namun karena kurang tidur demi membuat cheesecake untuk Adam, dia pun memutuskan untuk tidur sebentar setelah melihat Axelle berjalan pergi menjauhi ruang kesehatan.