Cheerleader

Cheerleader
11


__ADS_3

Berbohong demi kebaikan memang tidak bisa dibenarkan, namun terkadang kita harus bisa menyembunyikan kebenaran agar tidak memperkeruh suasana.


***


“Abang gak nyariin ‘kan, Pak?” Satpam kediaman Harrison termangu melihat penampilan anak majikannya. Topi hitam dan kacamata hitam, sebenarnya anak majikannya itu habis dari mana dan melakukan apa?


“Pak?” panggil Estelle lagi karena si pak satpam malah terdiam tidak mengindahkan pertanyaannya.


“Tadi sempet nanyain, Neng. Cuma si aden cuma diem aja trus masuk lagi ke dalem.” Estelle mengangguk paham, ia pun langsung permisi masuk ke dalam. Ia bersyukur saat masuk ke dalam ia tidak berpapasan dengan Jacob ataupun Axelle.


Namun ia terkejut setengah mati saat memasuki kamarnya, di sana sudah ada Jacob dengan laptop dan beberapa berkasnya yang berserakan di atas kasur. “Udah pulang?” tanya Jacob seraya menurunkan kacamatanya.


Jantung Estelle sudah berdebar kencang, kakinya lemas hingga ia tidak berani bergerak dari posisi berdirinya saat ini.


“Habis darimana, hm?”


Glup!


Estelle ingin mati saja rasanya, bahkan untuk menelan ludah sendiri pun ia kesusahan. Jacob sudah bangun dari duduknya dan berjalan pelan menghampiri Estelle. Tubuh gadis itu seketika tegang saat Jacob menariknya dalam pelukan pria itu. Meski terlihat manis, pria itu nyatanya sedang mengintimidasi sang adik.


“Janji ini yang terakhir?” bisik Jacob yang diangguki setuju oleh Estelle. Gadis itu kembali menangis namun dalam diam.


Meskipun Jacob tidak bisa melihat wajah sang adik, ia masih bisa merasakan basah di bahunya. Karena tidak tega sekaligus merasa pegal dengan posisinya, Jacob mengangkat tubuh Estelle dalam gendongannya dan menenangkan gadis itu dengan mengelus-elus punggung serta sesekali menepuk-nepuk pelan bokong Estelle.


Saat dirasa-rasa sang adik sudah tertidur, Jacob menyingkirkan berkas-berkas yang bertebaran di kasur untuk tempat berbaring adiknya. Dengan hati-hati ia membaringkan Estelle dan melepas kacamata, topi, serta sepatu yang dipakai Estelle.


Ia juga dengan telatennya membasuh wajah dan tangan Estelle menggunakan tissue basah sebelum benar-benar melanjutkan pekerjaan yang ia bawa dari kantor.


Paginya, Estelle kembali mengenakan topi dan kacamata hitam yang ia kenakan semalam hingga Axelle yang tak tahu mengenai kejadian semalam pun menatap sang adik dengan penuh kecurigaan selama sarapan berlangsung.


Saat di mobil pun Estelle hanya diam dan memalingkan wajah. Axelle yang gregetan pun segera memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Tanpa berbicara ia menarik paksa topi dan kacamata yang dikenakan Estelle hingga ia bisa melihat mata bengkak gadis itu.


“Kamu nangis? Sama siapa? Mom?” Estelle langsung menggeleng cepat menanggapi pertanyaan Axelle.


“Terus siapa, Januar?”


Estelle menggeleng seraya mengucek kedua matanya yang terasa tidak nyaman. “Bukaaann.”


“Oh, sama bang Jacob?”


“Bukaann lohh,” jawab Estelle setengah merengek.


“Ya terus sama siapa? Bilang aja, inget ‘kan apa yang pernah gua bilang ke lo?”


“Gak mau kasih tau, aku mau selesaiin masalah ini sendiri,” ujar Estelle seraya memalingkan wajahnya lagi, menghindari tatapan Axelle.


Axelle menghembuskan napas panjang. “Oke, kalau gitu gak usah. But look at me, please?” bujuk Axelle dengan nada lembut yang tentu saja dituruti oleh Estelle. Gadis itu langsung menoleh ke arah Axelle dan mengalihkan seluruh perhatiannya pada laki-laki itu.


Axelle memajukan wajahnya dan mengecup kedua mata Estelle lalu mengusapnya dengan lembut dan hati-hati. Estelle hanya bisa tersenyum saat diperlakukan seperti itu oleh kakak keduanya itu.


“Kak Axelle, aku harus piket hari ini.” Axelle mengangguk mengerti, ia langsung melajukan kembali mobilnya. Sesekali ia menoleh ke arah Estelle untuk memastikan keadaan adiknya itu. Terlihat sekali dari ekspresi wajahnya bahwa Axelle benar-benar khawatir dengan keadaan Estelle.


“Beneran gak mau cerita?” tanya Axelle untuk sekian kalinya.


Saat ini mereka sudah sampai di parkiran sekolah. Axelle yang masih merasa khawatir pada Estelle memaksa untuk mengantarkan gadis itu sampai ke kelasnya dan tentu saja Estelle tidak bisa membantahnya.

__ADS_1


“Engga loh, aku gapapa.”


“Stelle!” panggil Januar yang membuat Estelle membalikkan tubuhnya.


“Aku kira kamu gak bakal masuk karena kejadian semalem,” ujar Januar yang masih belum sadar dengan keberadaan Axelle di samping Estelle.


Estelle hanya bisa pasrah saat sang kakak langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah laki-laki itu. “Semalem kenapa? Cerita sekarang! Masa kamu cerita ke dia tapi gak cerita sama Kakak sendiri?” todong Axelle tidak terima karena Januar mengetahuinya padahal ia sendiri tidak diberitahu.


Januar yang sadar sudah keceplosan pun langsung menangkupkan kedua tangannya meminta maaf pada sang sahabat.


“Itu-” Saat Januar akan menjelaskan perihal masalah semalam, tangan Axelle langsung terangkat mengisyaratkan bahwa ia tidak ingin mendengar penjelasan dari Januar.


“Tapi Kak Axelle janji gak boleh ngamuk abis ini,” ujar Estelle yang akhirnya memutuskan untuk memberitahu kakaknya itu.


“Apa dulu!” tuntut Axelle tak sabar.


Estelle terdiam sejenak karena masih ragu untuk mengatakannya pada Axelle, ia takut kalau kakaknya itu akan langsung berlari dan memukuli sahabatnya sendiri setelah ia memberitahukan perihal ciuman Adam semalam.


“Kak Adam nyium aku semalem.” Tangan Axelle yang bertengger di bahu Estelle langsung meluruh. Estelle sempat bingung melihat reaksi Axelle yang terdiam, tapi ia bersyukur karena sang kakak tidak-


Baru saja ia akan bersyukur, Axelle sudah menghampiri Adam yang ternyata berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Refleks gadis itu menjerit seraya mengejar kakaknya itu diikuti Januar di belakangnya.


Tentu saja hal ini menyita perhatian siswa-siswi yang berada di koridor itu.


“Kak Axelle! Aduh! Huaaaa!” Estelle langsung menangis saat pantatnya mencium lantai koridor cukup keras. Januar yang memang posisinya paling dekat dengan Estelle langsung menghampiri Estelle.


Axelle juga yang tadinya sudah dekat dengan Adam langsung balik lagi menghampiri Estelle yang sudah terduduk di lantai sambil menangis. Ia langsung menyingkirkan tangan Januar yang sudah memegang pergelangan kaki sang adik.


“Jangan pegang-pegang!” Axelle menepis tangan Januar dari tubuh adiknya.


“Bawa!” Axelle memberikan tasnya dan tas milik Estelle pada Januar, lalu langsung membopong tubuh Estelle untuk dibawa ke ruang kesehatan.


Adam yang menyaksikan itu semua pun hanya mengangkat sebelah alisnya dan memilih tidak peduli lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas.


*


*


*


Estelle menggoyang-goyangkan kakinya bosan karena menunggu Axelle yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Dia begitu semangat ketika mendengar suara notifikasi pesan dari ponselnya, namun senyum gadis itu luntur karena pesan itu bukan dari sang kakak melainkan dari operator yang mengingatkannya untuk segera mengisi saldo pulsa.


“Hhh … pengen cepet-cepet rebahaann. Aish, jinjja!” Estelle langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat seorang siswi melihatnya dengan tajam. Dia merutuki Axelle yang tak kunjung datang. Sebenarnya kemana sih tuh orang? pikirnya kesal.


Estelle sedikit merasa menyesal karena menolak tumpangan Januar tadi. Ia harus bagaimana sekarang? Estelle mendongak ketika ada mobil yang berhenti tepat di depannya. Orang itu menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum hangat pada Estelle.


“Oppa!” seru Estelle begitu antusias saat melihat Suho.


“Bareng sini,” tawar Suho yang tentu langsung disetujui oleh Estelle. Tanpa disuruh lagi, ia langsung masuk dan duduk di kursi penumpang sebelah Suho.


“Aku kira oppa belum masuk hari ini, aku juga gak liat oppa seharian di sekolah.” Suho hanya tersenyum menanggapi ocehan Estelle karena ia tidak bisa mengatakan jika seharian ini ia sibuk menahan Axelle yang terus ingin menghajar Adam pada Estelle.


“Oppa sekelas sama kak Axelle?” tanya Estelle penasaran.


Suho mengangguk. “Iya. Aku, Axelle, Gio, dan Adam ada di kelas yang sama.”

__ADS_1


“Ouh. Terus liat gak kak Axelle kemana?” tanya Estelle lagi.


“Gak tahu ya. Tadi dia langsung pergi begitu kelas selesai.” Mendengar penjelasan Suho, Estelle sedikit merasa janggal namun ia hanya mengangguk paham seraya tersenyum manis untuk menutupi kecurigaannya.


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan di antara keduanya. Estelle sibuk dengan pemikirannya sendiri dan Suho pun tak berani memulai pembicaraan karena ia takut Estelle akan kembali membahas Axelle.


Suho tidak ingin Estelle sampai tahu mengenai perang dingin antara Axelle dengan Adam yang semakin parah karena disebabkan oleh gadis itu. Estelle pasti akan langsung sedih saat mengetahuinya nanti.


“Makasih ya, Kak. Hati-hati di jalan,” ucap Estelle dengan cepat sesampainya mereka di depan rumah gadis itu. Suho menghembuskan napas panjang begitu Estelle memasuki gerbang rumahnya.


Estelle terlalu sibuk dengan pemikirannya sampai-sampai ia tidak sadar dengan keberadaan Jacob di sofa ruang tamu.


“Udah pulang?” tanya Jacob santai seraya melonggarkan dasi yang melilit lehernya.


“Astaga! Ahh, waee?” rengek Estelle lemas karena terlalu terkejut.


Jacob mengernyit bingung mendengar perkataan sang adik. “Ngomong apaan sih kamu?”


“Lagi dikagetin, aku kan jadi refleks.”


“Lagi kamu ngapain ngelamun di depan pintu gitu? Axelle mana?” Estelle merengut sebal mendengarnya, alih-alih menjawab pertanyaan sang abang, gadis itu malah menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dan langsung memejamkan kedua matanya.


Jacob berdecak kesal, dia menggeser duduknya di samping gadis itu dan memencet-mencet hidungnya. “Ahh abaaaang!” rengek Estelle karena merasa terganggu.


“Axelle mana?” tanya Jacob lagi.


“Gak tau.”


Estelle langsung beranjak dari sana dan masuk ke dalam kamarnya. Jacob hanya bisa menghembuskan napas kasar melihatnya. Mau tak mau dia harus menghubungi Axelle langsung.


Dahinya berkerut dalam saat panggilannya tak kunjung dijawab. Namun tak lama ia mendapatkan sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.


Drrtt! Drrrt!


From\, +628**********: Gue lagi ada urusan\, Axelle.


“Dasar bocah kurang ajar, awas aja kalau udah sampai rumah!” desis Jacob pelan.


Sudah hampir tengah malam, namun batang hidung Axelle belum juga muncul. Jacob sudah bersiap saat mendengar suara mobil Axelle yang memasuki perkarangan rumah. Niat awal ingin memukuli sang adik karena pulang terlalu larut, Jacob justru malah terpaku saat melihat keadaan Axelle yang sangat berantakan.


“Sorry, Bang.”


Jacob menatap sang adik datar. “Langsung masuk kamar lo dan jangan sampe Estelle ngeliat muka lo.” Axelle mengangguk patuh dan berjalan lemas ke kamarnya.


Baru akan bernapas lega karena adiknya sudah pulang meskipun babak beluar di bagian tertentu, Jacob malah dibuat terkejut dengan Estelle yang tiba-tiba keluar dari kamarnya. Ia sampai menahan napas saking terkejutnya.


“Loh! Kak Axelle baru pulang?” Mendengar itu Axelle langsung berhenti melangkah, namun langsung mempercepat langkahnya saat mengingat perkataan sang abang.


“Loh kok malah kabur gitu aja? Kak Axelle!” Estelle berniat mengekori Axelle ke kamarnya namun dengan cepat Jacob menahan gadis itu.


“Gak usah ngurusin Axelle. Kamu sendiri ngapain jam segini belum tidur?” Estelle kembali merengut sebal mendengar omelan Jacob.


“Marahnya sama siapa, yang kena semprot siapa,” gerutu Estelle sebal. Akhirnya Estelle kembali ke tujuan awalnya; dapur.


Axelle mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, dia menghembuskan napas lega karena Jacob membebaskannya malam ini. Padahal ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi semprotan abangnya itu. Dan di luar dugaan, abangnya malah langsung menyuruhnya masuk kamar.

__ADS_1


Dia menghempaskan tubuhnya ke kasur tanpa berniat mengganti pakaiannya, bahkan sepatu yang dipakainya belum ia lepas. Masa bodoh jika ia mendapat semprotan Jacob setelah ini, dirinya benar-benar membutuhkan kasur ini sekarang.


__ADS_2