
Januar duduk kaku di antara kedua kakak-beradik Harrison. Di hadapannya terdapat Adam yang menatap tajam lurus ke arahnya. Sampai detik ini, Januar masih tidak mengerti kenapa ia harus berada di sini. Setahunya ia tidak memiliki keterkaitan dengan perjodohan sahabatnya itu. Lalu kenapa ia ikut terseret ke sini sekarang?
Lain halnya dengan Januar yang kebingungan, Estelle terlihat cukup tenang dengan dessert yang masih disantapnya saat ini.
“Jadi gimana? Gua ada latihan sore ini,” ujar Adam yang terlihat sangat tidak nyaman di tempatnya.
Mendengar suara temannya yang sedikit naik oktaf, Axelle langsung menatap nyalang temannya itu. “Gua juga latihan. Kita satu team kalau lo lupa,” balasnya tak kalah nyolot.
Januar menyenggol pinggang Estelle dengan sikut tangannya pelan, menyadarkan sang sahabat akan suasana yang mulai tidak bersahabat ini. Estelle menoleh ke arah Januar dan bertanya lewat tatapannya.
Januar pun menggerakkan matanya ke arah Adam dan Axelle berada, lalu memejamkan mata seraya menggerakkan kepala pelan. Entah apa maksudnya, tapi Estelle langsung menyadari ketegangan yang tidak ia sadari sebelumnya.
Estelle langsung berhenti menyantap dessert-nya yang masih tersisa sedikit, lalu berdehem sebentar sebelum berbicara, “maaf ya … kalian pasti nungguin lama. Jadi, kenapa, Kak?” tanyanya pada Axelle karena ia sendiri juga tidak mengerti kenapa sang kakak memintanya untuk bertemu di sini sekarang.
“Kamu lanjutin aja makannya. Kakak tungguin. Abis itu baru kita ngobrol.” Mendengar nada tegas yang enggan dibantah dalam ucapan sang kakak, Estelle pun buru-buru menghabiskan makanannya.
“Gah,” ujar Estelle tidak jelas karena makanan di mulutnya belum tertelan sempurna.
“Stelle.” Axelle memanggil nama sang adik memperingati.
“Lanjut aja, Kak,” ujar Januar mewakili sang sahabat. Estelle yang berada di samping Januar pun mengangguk setuju.
Axelle menghembuskan napas kasar. “Yaudah. Jadi kalian maunya gimana? Lanjut atau engga?” tanyanya seraya menatap Adam dan Estelle bergantian.
Kedua orang yang ditanya itu terdiam dan saling memandang dalam keheningan. Sampai akhirnya Estelle memutuskan kontak mata mereka seraya berkata, “mungkin kalau misalnya kak Adam seenggaknya suka sama aku, aku bakal tetep lanjut. Tapi karena kak Adam gak suka sama aku … aku gak mau ini semua berlanjut, Kak.”
Tatapan Axelle sekilas tertuju pada tangan Estelle yang menggenggam erat tangan Januar. “Lo sendiri gimana, Dam?” tanyanya beralih perhatian pada Adam yang saat ini menatap lurus ke arah sang adik berada.
Entah adiknya itu bodoh atau tidak peka, jelas-jelas Adam tertarik dengannya. Akan tetapi gadis itu malah membakar sumbu Adam yang panjangnya tidak seberapa itu dengan mempertontonkan interaksinya dan Januar yang terlihat sangat intens.
“Lo mau ngomong kaya gitu buat ngebatalin perjodohan ini? Lo sadar gak apa yang lo omongin itu bakal berdampak buruk buat gua? Kesannya kaya gua gak ada usaha buat deket sama lo, padahal lo sendiri yang bikin gua ilfeel duluan.”
Axelle sekali lagi menatap nyalang Adam. “Omongan lo-”
“Kak, udaahh!” rengek Estelle menyela perkataan Axelle yang terlihat akan meledak karena ucapan Adam padanya. Demi apa pun ia tidak ingin melihat kedua laki-laki yang tadinya sangat dekat itu berkelahi di depan matanya langsung.
Adam sendiri tetap santai. Karena menurutnya, tidak ada yang salah dari perkataannya.
__ADS_1
Tatapan datar Januar tertuju pada Adam yang ada di hadapannya. Meski otaknya berpikir bukan ranahnya atau saatnya ia ikut campur, tapi hatinya merasa ia tidak bisa diam saja melihat sahabatnya itu dihina di depan matanya seperti ini.
“Kak, sorry kalau gua kesannya ikut campur. Tapi bisa gak … lo itu bersikap lebih lembut sama Estelle? Dia perempuan loh … kak Adam punya bunda ‘kan di rumah? Kalau misalnya bunda kak Adam diperlakukan seperti itu sama-”
“Lo jangan samain nyokap gua sama dia. Kelas mereka berbeda.”
Estelle langsung menundukkan kepalanya dalam. Demi apa pun pernyataan Adam barusan benar-benar sangat menyakitinya. Ia benar-benar tidak bisa menahannya lagi, tatapan Adam yang terlihat begitu jijik padanya benar-benar membuat dadanya sesak tiada tara.
“Jadi, lo ngajak ketemu di sini cuma untuk gini doang? Sekarang gua udah bisa pergi, ‘kan?” tanya Adam pada Axelle namun tatapan matanya tertuju pada Estelle yang masih menunduk dalam sambil memegang erat tangan Januar di sampingnya.
“Bebas. Gua gak ngelarang,” balas Axelle tanpa melihat ke arah Adam. Dia sedang berusaha untuk tidak menghajar Adam atas pernyataannya yang sangat keterlaluan tadi. Ia tidak ingin membuat Estelle kecewa karena telah mengingkari perkataannya pada sang adik untuk ke-sekian kalinya.
Januar tidak melepaskan pandangan matanya dari punggung lebar milik Adam yang perlahan menjauh meninggalkan mereka. Perhatiannya baru kembali tertuju pada Estelle lagi saat pegangan tangan gadis itu mengendur. “Kenapa, Stelle?” tanyanya yang hanya mendapat gelengan kepala pelan dari sang sahabat.
“Sini. Jangan terlalu mikirin omongannya si Adam. Dia mah emang gak punya otak makanya kalau ngomong suka seenaknya.” Axelle menarik tubuh Estelle dalam dekapan hangatnya. Sesekali ia mengusap-usap lembut punggung sempit milik sang adik guna menenangkan perasaan gadis itu.
“Kak, sering-sering ingetin kak Adam dong. Jangan kasar-kasar gitu ke Estelle. Kalau bukan karena dia temen lo, gua udah nonjok dia tadi.”
Dengan tatapan datar Axelle membalas perkataan Januar, “lain kali lu tonjok aja.”
*
*
*
Keesokannya, setelah pulang sekolah ....
Estelle meremat jari-jarinya gugup. Di hadapannya saat ini sedang duduk ibunya Adam. Setelah pulang sekolah tadi, seorang pria menghampirinya dan berkata ada seseorang yang ingin menemuinya di café yang berada tidak jauh dari sekolahnya.
Setelah mendapat izin dari Axelle melalui telepon, ia pun ke sini diantar oleh pria tadi. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bertanya sama sekali sebelum setuju kemari.
“Tan-”
“Bunda, Sayang. Panggil Bunda,” perintah wanita itu enggan dibantah. Estelle pun mau tidak mau harus mengangguk patuh.
“Bunda … Estelle kenapa disuruh ke sini? Estelle gak ada salah, ‘kan?” tanya Estelle benar-benar cemas.
__ADS_1
Elena tersenyum hangat dan memajukan tubuhnya untuk menggapai tangan Estelle. Digenggamnya lembut tangan gadis yang akan menjadi calon mantunya itu. “Kamu tenang aja, Sayang. Bunda hanya ingin mengobrol dengan kamu. Ga masalah ‘kan kalau kamu harus menghabiskan waktu kamu buat ngobrol sama Bunda di sini?”
Estelle menggelengkan kepalanya panik. “Gak kok enggak. Estelle cuma kaget aja. Estelle kira, Estelle udah ngelakuin kesalahan sampe Tan- Bunda repot-repot nemuin Estelle begini.”
“Gak repot kok. Justru Bunda berterima kasih sekali karena kamu mau ngobrol sama Bunda,” ujar Elena seraya tersenyum tulus.
Estelle ikut tersenyum. Hatinya menghangat diperlakukan selembut ini oleh Elena. Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan hal seperti ini dari orang tuanya. Hal ini tanpa sadar membuat Estelle memandang wajah Elena dengan tatapan rindu penuh sesak.
“Kenapa, Sayang?” tanya Elena penuh pengertian.
“Aku cuma takjub aja sama Bunda. Bunda cantik dan baik sekali seperti bidadari.” Setelah berkata seperti itu, Estelle tersenyum hangat sampai kedua matanya menyipit. Hal ini membuat Elena terkekeh senang. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya pada Estelle.
“Kamu nih bisa aja.”
“Bener kok, Bun.”
Elena tersenyum seraya menatap Estelle cukup lama. “Kenapa, Bun?” tanya Estelle gugup karena ditatap terus seperti itu.
“Kamu mau ‘kan ya dijodohin sama Adam … anak bunda?”
Estelle terdiam, senyum di wajahnya luntur seketika. Ekspresi wajah gadis itu berubah tegang setelah mendapatkan pertanyaan Elena yang terbilang mendadak itu. “Bunda ….”
“Hm?” tanggap Elena masih senantiasa menunggu jawaban dari calon menantunya itu.
“A-aku gak bisa lanjutin perjodohan ini, maaf …,” lirih Estelle seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap mata Elena.
Tepukan lembut di punggung tangannya membuat Estelle kembali mengangkat kepalanya menatap Elena. “Hei, kenapa minta maaf? Bunda cuma mau tanya aja kok. Jadi, bener ya yang dibilang Adam, kalau kamu gak mau lanjut karena kalian ngerasa gak cocok?” Estelle mengangguk pelan mengiyakan.
“Kak Adam gak suka sama aku, Bun. Aku gak mau kalau kak Adam sendiri gak suka sama aku.”
Elena mengerutkan dahinya mendengar perkataan Estelle. “Adam gak pernah bilang kalau dia gak suka kamu. Bahkan setiap hari kalau Bunda tanya tentang kesehariannya dia, dia pasti selalu nyebut nama kamu.”
Jantung Estelle langsung berpacu dengan sangat cepat setelah mendengarnya. Tangannya bahkan sampai refleks meraba dada sebelah kirinya.
“Kenapa, Sayang?” tanya Elena yang langsung bangkit dari duduknya dan pindah ke sisi Estelle.
“Bunda, jantung aku dugun-dugun.”
__ADS_1