
Terkadang, kata-kata yang terdengar begitu sederhana bisa menjadi sebuah belati tajam di hati beberapa orang.
***
Kedua mata Estelle berkaca-kaca saat dirinya tidak bisa membuka pintu kamar Axelle. Kakaknya itu pasti masih marah dengan kejadian tadi, terbukti dengan Axelle yang mengunci pintu kamarnya rapat-rapat seperti sekarang.
Estelle mengetuk pintu beberapa kali seraya memanggil sang kakak, “Kak Axelle!”
“Kaa i-ini Estelle. Kaa!” suara Estelle sedikit bergetar karena Axelle tak kunjung membukakan pintu untuknya.
Axelle yang berdiri tepat di belakang pintu pun menghembuskan napas panjang saat mendengar suara Estelle yang bergetar seperti kambing. Gadis itu pasti sedang menahan tangisnya, tebaknya yang tepat sasaran.
Tatapan Axelle kini tertuju pada paperbag yang ada di atas meja belajarnya.
Estelle yang sudah memutuskan untuk kembali ke kamarnya pun berbalik saat mendengar suara pintu terbuka. Kedua bola matanya berbinar saat melihat wajah datar Axelle. Ia sudah sangat senang karena kakaknya itu masih mau membukakan pintu untuknya.
Dengan perlahan ia mendekati Axelle dan melingkarkan kedua tangannya di tubuh sang kakak. “Sorry. I’m really sorry. Aku tadi cuma gak mau Kak Axelle kena marah daddy karena mukul kak Adam.”
Axelle hanya berdehem pelan, ia melepaskan pelukan Estelle dari tubuhnya dan menggiring adiknya itu masuk ke dalam kamarnya. Estelle mengerutkan dahinya bingung saat Axelle menyodorkan sebuah paperbag padanya.
“Ini apa, Kak?” tanyanya.
Axelle mengangkat kedua bahunya. “Buka aja sendiri.” Setelah berkata seperti itu, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur. Dia tersenyum tipis saat mendengar ******* kagum Estelle.
Namun yang tidak ia sangka adalah Estelle langsung melompat, melemparkan tubuhnya tepat di atasnya. “Estelle! Kamu mau bunuh-”
Bentakannya terpotong dengan kecupan-kecupan ringan yang Estelle torehkan di seluruh wajahnya. “Thank you. I I love you so so much!” seru Estelle yang begitu senang dengan hadiah yang diberikan Axelle padanya.
Axelle mau tidak mau jadi tersenyum. Dia mengusap kepala Estelle lembut. “Do you like it?”
Estelle mengangguk antusias. “Eum! I love it! And I love you too!” ujarnya yang kembali memberikan kecupan di pipi kiri Axelle.
Axelle tertawa. Bagaimana ia bisa marah jika adiknya saja seperti ini?
Ponsel Axelle berdering, membuat perhatian keduanya teralih pada benda persegi panjang yang tergeletak asal di lantai. “Sana!” perintah Axelle seraya menyingkirkan tubuh Estelle dari tubuhnya.
“Bang Jacob,” terang Axelle tanpa diminta.
“Estelle mana?! Dari tadi dihubungin gak diangkat-angkat. Anaknya kemana sekarang?!”
__ADS_1
Axelle sedikit menjauhkan layar ponsel dari telinganya yang berdengung karena teriakan sang abang di seberang sana. Estelle mendekat penasaran.
“Nih nih ngomong langsung aja sama bocahnya,” ujar Axelle yang langsung memberikan ponselnya pada Estelle. Ia memilih untuk membersihkan tubuhnya, membiarkan Estelle berbicara berdua dengan Jacob.
“Halo, Bang?” sapa Estelle takut-takut.
“Kamu kemana aja sih?! Kamu tahu gak Abang panik seharian gak bisa hubungin kamu?!”
“Maaf,” cicit Estelle. Setelah itu terdengar hembusan napas kasar dari seberang sana. Sepertinya ia harus mengubah kebiasaannya yang selalu kabur dan menghilang setiap memiliki masalah.
“Abang cuma mau kasih tahu, abang belum bisa pulang besok. Jangan sampe telat makan ya, pokoknya gak boleh diet-diet lagi! Handphone harus selalu stand-by! Awas aja kalau besok-besok gini lagi!”
Estelle terkekeh mendengarnya. “Iya, Abaang. Tenang aja.”
“Kamu mah iya iya aja! Yang bener! Serius ini Abang!”
“Iyaa, Estelle janji!”
“Awas aja kamu!”
“Oh iya. Abang! Estelle dapet baju loh dari ka Axelle. Bajunya sama kaya punya Jimin lagi. Stelle seneng banget!”
“Okidoki, ay ay kapten!”
“Oh iya, ada yang mau Estelle omongin sama Abang,” ujarnya seraya tersenyum malu. Axelle yang baru saja keluar kamar mandi bergidik geli melihatnya. Mood sang adik benar-benar tidak bisa ia prediksikan. Bahkan dengan wajah yang masih ada jejak air mata begitu, Estelle bisa tersenyum girang sampai kedua matanya menyipit.
“Oh ya? Apa?”
“Estelle sayang sama Abang, saayaaang banget. Cari duit yang banyak ya, tapi harus ada waktu juga buat Estelle.” Jacob yang berada di seberang sana langsung tersenyum lembut saat mendengar suara Estelle yang sangat diimut-imutkan itu. Mungkin orang lain akan merasa jijik … tapi tidak untuk dirinya, ini adalah moodbooster baginya.
“Kalau harus luangin waktu buat Estelle juga, duitnya jadi gak bisa terlalu banyak loh,” goda Jacob. Di seberang sana ia tersenyum geli karena membayangkan ekspresi wajah sang adik yang pasti sedang merengut kesal sekarang.
Dan bayangannya sangat tepat, Estelle merengut kesal mendengarnya. “Ih gak mau tau! Pokoknya harus bisa bagaimana pun caranya. Dapet duit banyak tapi masih harus bisa luangin waktu buat Estelle!”
“Oke oke, ada lagi?” Jacob memilih untuk mengalah.
“Pokoknya walaupun gak pulang, jangan sampe begadang tidurnya! Bye muah!” Setelah mengatakan hal itu, Estelle langsung memutus sambungan teleponnya. Seketika ia sadar dengan kehadiran Axelle yang ternyata mengamatinya sejak tadi.
“Gue mau dong digituin juga,” ujar Axelle yang semakin membuat Estelle enggan menatap wajah sang kakak. Wajahnya memanas dan pasti sudah memerah sekarang.
__ADS_1
Axelle mengusak rambutnya dengan handuk kecil. “Kamu mah pilih kasih. Padahal yang ngerawat kamu selama ini-”
“Ayah Ryan,” potong Estelle dengan wajah cemberut.
Axelle langsung terdiam. Ucapan adiknya itu tidak sepenuhnya salah karena memang mereka baru tinggal bersama lagi dua tahunan ini. Dan dari cerita yang ia dapat dari mulut adiknya sendiri, Ryan –ayahnya Januar- selalu membantu gadis itu saat tinggal bersama nenek mereka.
“Kata siapa Estelle pilih kasih? Selama Estelle balik ke rumah ini, emangnya Estelle meluk siapa kalo gak bisa tidur? Trus siapa yang cium-cium muka Estelle kalau penyakit gemesnya kambuh?” cerca Estelle membuat Axelle menyengir seraya menunjukkan dua jarinya pada sang adik sebagai tanda damai.
Melihat ekspresi wajah Estelle yang masih merengut kesal, Axelle menarik Estelle untuk duduk di pangkuannya. “Maaf deh. Kakak cuma cemburu kamu manja banget sama abang. Kamu jarang manja ke Kakak tanpa alasan, Estelle.”
“Perasaan Kak Axelle aja kali,” gerutu Estelle.
Axelle membiarkan kedua lengannya melingkari pinggang Estelle dan menaruh dagunya di bahu sang adik. “Gini, kamu selalu minta peluk cuma setiap mau tidur … itu karena apa? Itu bukan karena kamu butuh Kakak, tapi butuh pelukan. Dan kebetulan cuma ada Kakak yang bisa kasih itu ke kamu.”
“Ish jangan ngomong gitu!” protes Estelle yang langsung memutar tubuhnya agar bisa melihat ekspresi wajah Axelle.
“Apa karena Kakak bukan-”
Estelle langsung menutup mulut Axelle dengan kedua tangannya. “Diem gak!” Kedua mata Estelle kembali berkaca-kaca.
“Aku aduin abang kalau Kak Axelle ngomong jelek gitu!” Bibir bawah Estelle sudah mencebik sedih. Lubang hidungnya kembang-kempis menahan isakan tangis. Membuat senyum terukir di wajah Axelle.
Axelle melepaskan kedua tangan Estelle dari mulutnya lalu memeluk gadis itu dengan erat.
“Janji gak ngomong kaya gitu lagi?” Senyum Axelle semakin lebar mendengar suara Estelle yang bergetar seperti kambing. Ia pun berdehem pelan dan menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan adiknya itu.
Estelle membalas pelukan Axelle tak kalah erat. Demi apa pun ia merasa sesak setiap Axelle mengungkit status mereka. Menurutnya, Axelle itu kakaknya dan sampai kapan pun akan selalu menjadi kakaknya. Tidak ada yang bisa mengubah kenyataan itu.
Cukup lama mereka terdiam sampai Axelle kembali membuka suara. “Oh iya, emang handphone kamu di mana?” tanya laki-laki itu tanpa mengubah posisi mereka.
“Rumah Celine,” lirih Estelle.
Mengerti jika sang adik sudah mulai mengantuk, Axelle membawa Estelle yang masih ada di pangkuannya ke tengah kasur lalu melepas pelukannya. “Tidur, ya?” tanyanya yang langsung mendapat anggukan kepala dari Estelle.
Axelle membenahi posisi tidur sang adik dan menyesuaikan suhu ruangan kamarnya untuk Estelle. Setelah memastikan kenyamanan sang adik, Axelle ikut berbaring di sebelahnya. Dengan tatapan yang terus tertuju pada Estelle yang kini sudah terlelap, Axelle tenggelam dalam lamunannya.
Laki-laki itu memikirkan beberapa masalah yang terjadi belakangan ini, mulai dari perselisihannnya dengan Adam sampai perjodohan Estelle yang sudah ada di depan mata. Orang tuanya pintar sekali karena membuat sang abang pergi dari sini agar bisa memulai perjodohan ini tanpa ada masalah. Entah apa yang akan terjadi nanti saat Jacob pulang, ia hanya berharap yang terbaik untuk semuanya.
Satu hal yang bisa ia pastikan begitu Jacob pulang nanti. Pria itu akan mengamuk sejadi-jadinya jika mengetahui perjodohan Estelle dengan Adam yang terus dilanjutkan tanpa persetujuannya.
__ADS_1