
Rasa khawatir dan cemas yang berlebihan tidak akan menghasilkan akhir yang baik.
***
Estelle menunggu kedatangan Suho sampai ketiduran di ruang tamu tepatnya di pangkuan Jacob. Axelle yang baru saja pulang pun menghampiri keduanya. “Udah tau gak bisa nunggu, sok banget! Akhirnya malah ketiduran, pfft!” Axelle menahan tawanya takut Estelle terbangun.
“Ampe dia kebangun, lo yang gua tonjok!” desis Jacob memperingatkan Axelle.
“Ye segitunya,” balas Axelle berbisik.
“Mom sama Dad udah pulang?” tanya Axelle lagi.
“Udah,” balas Jacob enggan menjelaskan lebih. Axelle yang mengerti pun hanya mengangguk paham dan memilih untuk segera masuk ke dalam kamarnya.
Jacob membalas beberapa e-mail lewat ponselnya sambil sesekali mengusap kepala Estelle yang masih tertidur di pangkuannya. Tak lama bel rumahnya berbunyi, ia terkejut karena Estelle tiba-tiba bangun dan berlari cepat ke arah pintu. Gadis itu bahkan sampai berebut dengan mba Nini yang juga akan membukakan pintu.
Estelle tersenyum lebar begitu pintu terbuka. “Oppa!” sambut Estelle heboh.
Jacob yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya pelan, ia menyuruh mba Nini untuk memberitahukan orang tuanya jika Suho sudah datang dan menghampiri Estelle yang saat ini sudah memeluk Suho dengan erat.
“Kamu dateng sendiri?” tanya Jacob yang diangguki pelan oleh Suho.
“Stelle,” panggil Jacob memberi peringatan pada Estelle untuk tidak membuat Suho kerepotan.
Suho yang mengerti itu pun hanya menggeleng sambil tersenyum, mulutnya bergerak berbicara tanpa suara pada Jacob. “Gwenchana,” ujarnya yang tidak merasa keberatan sama sekali.
Estelle pun melepaskan pelukannya, senyum bahagia tidak lepas dari wajah gadis itu. “Oppa, apa oppa akan bersekolah di tempat yang sama denganku?” tanyanya penuh harap.
“Disuruh masuk dulu dong Suhonya,” interupsi sang daddy yang langsung dijalankan oleh Estelle. Gadis itu menggiring Suho untuk duduk di sofa sebelahnya.
“Gimana kabar eomma dan appa-mu?” tanya sang mommy.
“Baik, Tan. Mereka belum bisa balik ke sini karena masih ada beberapa urusan yang belum selesai di Korea.”
__ADS_1
Obrolan itu pun berlanjut dengan makan malam bersama di kediaman keluarga Harrison.
*
*
*
Seisi sekolah dihebohkan kembali dengan Estelle yang kali ini berangkat bersama dengan Axelle dan Suho. Para murid sangat penasaran dengan Suho yang memiliki wajah khas bintang Korea Selatan yang sedang digandrungi oleh banyaknya lapisan masyarakat terutama gadis muda.
Estelle meringis saat menyadari dirinya kembali menjadi pusat perhatian hari ini. Dalam hati, Estelle sedikit menyesali keputusannya yang menerima ajakan berangkat bersama yang ditawarkan Suho padanya. Kalau saja ia tidak lemah dengan wajah rupawan, sesalnya dalam hati.
Bukannya membantu sang adik, Axelle justru menambahkan kehebohan dengan sengaja memeluk pinggang Estelle mesra sepanjang perjalanan mereka ke ruang tata usaha. Estelle menunduk malu, enggan bertemu tatap dengan para murid yang tengah memperhatikannya.
“Relax,” ujar Axelle menenangkan sang adik.
Begitu sampai di ruang tata usaha, Estelle memilih untuk menunggu di luar. Bel masuk sebentar lagi berbunyi, Estelle pun memutuskan untuk pergi duluan ke kelas setelah mengirimkan pesan singkat pada Axelle.
Di perjalanan menuju kelasnya, Estelle berpapasan dengan Adam yang baru saja keluar dari toilet. Namun satu hal yang membuat Estelle refleks melangkah mendekat adalah adanya luka di sudut bibir laki-laki itu. “Kak, itu kenapa?”
Estelle tidak menyerah, ia mengejar langkah kaki Adam yang lebar dengan berlari kecil. Mulutnya tidak berhenti memanggil Adam dan mengajak laki-laki itu ke ruang kesehatan. “Kak Adam! Itu harus diobatin kalo engga nanti bisa infeksi! Kak Adam, ish!”
Sampai di depan kelas Adam, mereka berpapasan dengan Gio yang sedang duduk santai di koridor kelas. “Bilangin dia buat gak usah sok peduli sama gua,” ujar Adam cepat-cepat masuk ke dalam kelas lalu menutupnya tepat sebelum Estelle hendak masuk.
Kalau saja gerak refleksnya buruk, mungkin wajahnya sudah berciuman dengan pintu besar yang ada di hadapannya. Merasa kasihan, Gio mendekati Estelle yang masih diam terpaku depan pintu.
“Udah biarin aja, nanti juga baik sendiri. Mending lo balik ke kelas lo, bentar lagi jam mata pelajaran pertama di mulai.”
Kedua mata Estelle berkaca-kaca, Gio sampai terkejut dibuatnya. “Ta-tapi, Kak. Bibirnya kak Adam luka gitu, pipinya juga lebam. Kalau gak diobatin takutnya nanti malah tambah parah. Hiks kasian … pasti sakit.”
Gio gelagapan begitu Estelle terisak di depannya. Ia sudah celingak-celinguk takut nanti Axelle mengira ia yang membuat sang adik menangis. Demi Tuhan ia ingin kedamaian hari ini!
Dan benar saja, Axelle datang diikuti Suho di sampingnya.
__ADS_1
“Kamu ngapain di sini, Stelle? Ini kenapa bisa gini?” Untuk pertanyaan yang kedua, Axelle lontarkan pada Gio.
“Duh gua juga gak paham. Dia tadi dateng ngejar-ngejar si Adam katanya sih karena mau ngobatin lukanya si Adam. Tapi ya you know lah temen lu. Doi gak mau dan ya … adek lu jadi begini.”
Axelle menggenggam tangan Estelle lembut dan membawanya pergi dari sana. Sambil berjalan, ia berusaha memberikan pengertian pada Estelle. “Kamu udah ngerti kan. Kamu gak bisa paksa dia.”
Estelle menghentikan langkah kakinya dan menatap Axelle dengan serius. “Kak, kalau Estelle terluka terus Estelle bilang gak mau diobatin … apa Kakak bakal biarin Stelle gitu aja?”
“Tentu aja engga. Walaupun kamu gak mau, tapi kan emang harus diobatin. Ya bakal Kakak paksa lah!” Axelle langsung terdiam setelah menjawab pertanyaan Estelle tadi.
“Nah.”
“Gak ada nah nah. Itu beda. Jangan dibanding-bandingin!”
Estelle merengut mendengarnya. Jelas-jelas sama apanya yang berbeda, kira-kira itulah isi pikiran Estelle saat ini. Ketika sampai di kelas Estelle ternyata di sana sudah ada guru yang masuk. Axelle membantu sang adik untuk membuat alasan agar gadis itu bisa diperbolehkan masuk oleh sang guru.
Setelah mengantar adiknya, Axelle kembali ke kelasnya. Ia beruntung karena kelasnya tidak ada guru yang masuk. Dengan tergesa ia menghampiri Adam yang tengah menenggelamkan kepalanya di sela lipatan tangannya.
“Lo bisa gak ngehargain Estelle sedikit aja? Dia peduli banget sama lo, gak bisa lo biarin dia buat nunjukkin rasa pedulinya ke elo?” Mendengar itu, Adam memutar kepalanya ke arah Axelle dan menatap nyalang rekannya itu. Gio yang sedari tadi memperhatikan menghampiri keduanya, bersiap untuk melerai.
Adam mengangkat tubuhnya untuk duduk tegak. “Gua.gak.suka.sama.adek lo!” ujar laki-laki itu penuh penekanan di setiap katanya.
“Jangan paksa gue. Masih untung dia gak gua tendang-”
Srek! Brugh!
Axelle menarik kerah kemeja Adam dan memukul laki-laki itu tepat di wajah. Luka yang awalnya tidak terlalu parah sekarang terlihat meradang. “Sial, awas aja kalau lo sampe ngapa-ngapain dia. Habis lo sama gue!” Tubuh Axelle ditarik mundur oleh Gio yang sempat kecolongan tadi.
“Ini peringatan dari gue. Sampe lo sentuh Estelle, gua habisin lo!”
Adam tertawa cukup kencang mendengarnya. “Harusnya gua yang meringatin lo, Axelle Harrison. Bilangin ke adek lo untuk gak kegatelan sama gua. Suruh dia cari target lain yang mau sama cewe gatel kaya dia.”
Axelle kembali terprovokasi mendengar perkataan Adam yang menjelek-jelekkan Estelle. Gio tersungkur saat Axelle mendorongnya dan kembali menerjang Adam. Suasana makin ricuh karena tidak ada yang membantu memisahkan mereka dan malah merekam kejadian itu dalam ponsel mereka.
__ADS_1
Gio kembali merangsek maju untuk memisahkan kedua temannya. Bukannya berhasil memisahkan, justru ia kembali kena pukulan dari keduanya. Suho yang baru saja kembali dari ruang guru dibingungkan dengan gerumulan siswa-siswi di kelasnya. Namun saat mengetahui Axelle sedang memukuli salah satu temannya, Suho merangsek maju dan membantu Gio memisahkan keduanya.
Gerumulan siswa-siswi mulai bubar karena guru piket datang. Dengan cepat guru piket merampas seluruh ponsel yang dipakai untuk merekam perkelahian Axelle dan Adam. Lalu setelahnya guru itu membawa Axelle, Adam, Gio, Suho, dan beberapa murid yang merekam kejadian tadi ke ruangan bimbingan konseling untuk ditindak lanjuti.