Cheerleader

Cheerleader
13


__ADS_3

Tidak sensitif, hanya sedang merasa lelah saja.


***


Begitu sampai rumah, Estelle langsung bergegas ke kamarnya Axelle. Firasatnya mengatakan jika keadaan kakaknya tidak lebih baik dari Adam dan Estelle yakin kalau kakaknya itu enggan diobati.


Tok tok tok!


Estelle terus mengetuk pintu karena tak ada jawaban. Kalau saja pintunya tidak terkunci, ia akan langsung masuk menerobos seperti biasanya. “Kak Axelle, buka pintunya!” Hening tidak ada jawaban. Axelle yang sebenarnya ada di dalam pun diam saja agar Estelle mengira dia tidak berada di dalam kamar.


“Hiks! Kalau Kak Axelle gak mau buka, Estelle hiks!”


Pintu kamar Axelle langsung terbuka. Laki-laki itu mengalah, ia benar-benar tidak tahan dengan tangisan adik perempuannya itu. Axelle menarik Estelle ke dalam pelukannya, walaupun Estelle memberontak, ia tetap merengkuh Estelle dalam pelukannya.


“Sorry,” ujar Axelle yang tak tahu harus berbicara apa.


Estelle melepas paksa pelukan Axelle, ia menatap galak sang kakak. “Diem di situ! Awas aja kalau bergerak, end kita.” Axelle langsung mematung mendengar ancaman Estelle, dia benar-benar menuruti perintah Estelle dan membiarkan gadis itu pergi meninggalkannya.


“Ayo masuk.” Estelle lebih dulu masuk ke dalam kamar Axelle dengan kotak obat di tangannya.


“Duduk,” suruh Estelle seraya menunjuk kursi belajar milik Axelle yang sudah ia geser ke dekat kasur. Axelle lagi-lagi hanya diam menuruti perkataan Estelle, dia benar-benar tidak protes ataupun mengeluh pada gadis itu.


Axelle benar-benar tidak suka melihat ataupun mendengar Estelle menangis. Lihat saja tampang sang adik yang terlihat begitu menyedihkan. Wajah yang memerah, mata yang sembab, hidung yang terus berair … itu benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman.


“Bisa gak kalau apa-apa tuh jangan nangis?” protes Axelle yang lebih terdengar seperti omelan di telinga Estelle.


Estelle hanya menatap Axelle kesal, bibirnya mencebik tanpa berniat untuk membalas perkataan sang kakak. Tidak suka dengan respons sang adik, Axelle pun menyentil dahi Estelle dengan cukup kencang.


“Sakit ih!” jerit Estelle tidak terima. Botol povidone iodine yang saat ini berada di salah satu tangannya pun siap ia lemparkan pada Axelle kapan saja.


“Hei, hei! Calm down …,” ujar Axelle seraya mengangkat kedua tangannya menutupi wajah.

__ADS_1


Estelle berdecak sebal, ia menarik tangan Axelle cukup kencang. “Sinian mukanya, obatin dulu!” omelnya yang sudah menaikkan nada bicara hingga setengah berteriak.


“Gak usah. Lagian kamu tuh tau darimana sih? Ah, pasti si Suho. Ember bat emang tuh mulut ye.”


Gemas dengan mulut lemes sang kakak, Estelle langsung memukul bibir Axelle yang akan terbuka lagi hingga tidak jadi berbicara. Axelle langsung menatap tajam Estelle, namun sayangnya gadis itu tidak terpengaruh sama sekali.


“Lagi jadi cowo lemes bat mulutnya. Gak boleh tau, Kak. Ntar gak macho loh,” ujar Estelle dengan wajah innocent-nya. Axelle yang merasa lucu pun tak kuat untuk tidak tertawa kencang mendengar perkataan dan ekspresi wajah polos Estelle yang tidak dibuat-buat.


Merasa diremehkan, Estelle langsung merengut kesal. “Orang bener kok. Kalau gak percaya liat aja bang Jacob.” Kebetulan sekali yang disebutkan datang, Axelle pun berencana memancing sang adik.


“Bang Jacob? Kenapa emangnya dia?” tanya Axelle pura-pura tidak mengerti, ia bahkan sampai mengernyitkan dahinya agar tampak meyakinkan.


Estelle mendekatkan tubuhnya pada Axelle kemudian berbisik, “iya loh. Coba aja perhatiin. Bang Jacob ganteng, kaya, pinter, tapi sampe sekarang gak punya pacar. Karena apa? Karena mulut lemesnya itu. Jadi, Kak Axelle juga jangan-”


“Oh jadi Abang tuh lemes ya?” potong Jacob yang ternyata sudah ada di depan pintu kamar Axelle sejak tadi. Pria itu hanya memperhatikan interaksi keduanya dan enggan menginterupsi karena merasa lucu dengan keduanya. Namun ia sedikit merasa kesal dengan pernyataan Estelle mengenai dirinya yang lemes.


Hell, dia adalah pria paling berkharisma di keluarga ini tahu. Tentu saja ini adalah pemikiran dari kepala Jacob sendiri.


“Ganteng juga percuma kalau mulutnya lemes, gantengnya jadi gak kepake.” Axelle dan Jacob langsung saling bertukar pandang. Entah kenapa pikiran keduanya langsung tertuju ke arah Adam, mengingat sebenarnya Estelle sangat menyukai wajah rupawan namun enggan dijodohkan dengan laki-laki tersebut.


“Jadi kamu gak mau dijodohin sama Adam karena dia lemes?” tanya Jacob.


Kedua mata Estelle membola karena terkejut. Kenapa tiba-tiba bahas itu coba? pikir Estelle yang tidak nyaman dengan pembahasan Jacob mengenai perjodohannya. Sebenarnya ia sudah lupa tentang masalah perjodohan itu, namun hari ini Adam dan Jacob malah mengingatkannya dengan kembali membahas hal itu.


“Bukan gitu. Aku gak mau dijodohin karena mom bilang Kak Axelle udah cape ngurusin aku-”


“Itu! Itu kamu tau ‘kan alesannya? Gua udah pernah jelasin sebelumnya,” potong Axelle panik.


Estelle cemberut mendengar jawaban sang kakak. “Iya sih, tapi aku masih ragu. Kak Axelle kan omongannya gak pernah sejalan sama kelakuan Kak Axelle.”


Jacob langsung tertawa sampai terpingkal-pingkal saat mendengar perkataan Estelle mengenai Axelle yang benar adanya. Axelle pun tidak bisa menyangkal, ia hanya diam merenungi kesalahannya. Setelahnya Jacob mengusak kepala kedua adiknya gemas.

__ADS_1


Estelle yang memang sudah biasa diperlakukan seperti itu pun diam saja, lain dengan Axelle yang saat ini tengah menatap horror sang abang. Kerasukan apa tiba-tiba sang abang mengusak kepalanya seperti tadi.


“Kamu lanjutin dong kerjaannya. Ngobatin kok setengah-setengah. Kamu mau nanti jodohnya brewokan karena kerjaannya gak tuntas?” protes Axelle yang langsung mendapat cibiran dari yang tertua.


“Manja banget, sini biar gua yang ngobatin!” Jacob merebut kapas yang ada di tangan Estelle dan menekan luka di wajah Axelle dengan cukup kencang hingga si empunya wajah menggerang kesakitan.


“Anj- sakit, Bang!” Axelle menahan dirinya untuk tidak mengumpat dan memaki Jacob, mengingat ia juga sering melarang Estelle melakukannya. Sesekali ia melirik ke arah adik bungsunya itu was-was.


Melihat seringaian di wajah Jacob, Axelle hanya bisa memaki pria itu dalam hati. Sialan dia sengaja, geramnya.


Haha mampus! Batin Jacob merasa puas.


Di antara peran batin antara Jacob dan Axelle, ada Estelle yang saat ini sedang menunduk menatap perutnya prihatin. Dan benar saja, perutnya berbunyi cukup keras sampai berhasil mengalihkan perhatian kedua kakaknya.


“Kamu belum makan?”


“Kalau laper kenapa gak bilang?”


Jacob dan Axelle mengatakannya bersamaan, membuat Estelle menatap keduanya bergantian. “Mau chicken sama es krim,” pinta gadis itu disertai muka memelas andalannya yang tentu saja membuat kedua pria tersebut tidak bisa menolak permintaannya.


Dengan cepat Jacob mengeluarkan ponselnya untuk memesan makanan. Dia menatap Axelle.


Axelle yang mengerti langsung menyebutkan makanan ia inginkan. Setelahnya perhatian Axelle kembali tertuju pada si bungsu yang sedang merapihkan kotak obat dengan ekspresi merengut. “Kenapa kamu?” tanyanya.


Jacob yang baru saja selesai melakukan pembayaran sampai mengalihkan perhatiannya juga ke si bungsu. Namun sayangnya pertanyaan Axelle tidak mendapat jawaban yang memuaskan karena Estelle hanya menggeleng pelan sebagai jawabannya.


Jacob menghela napas panjang dan menghembuskannya kasar. Dia kesal. “Bisa gak kalau ada masalah tuh bilang?! Bikin khawatir tau gak?!” Estelle menatap sang abang tidak terima.


“Apaan sih?! Aku tuh gak kenapa-napa, jangan berlebihan! Apa-apa ngomel! Apa-apa teriak! Emang Estelle gak sedih apa digituin?! Hiks kenapa gahk hiks nah nyanya baik-baik-” Axelle langsung menarik Estelle ke dalam pelukannya dan memberikan isyarat ke Jacob untuk diam dan tidak membuka mulutnya.


Jacob mengangkat kedua alisnya bingung. Estelle yang berada di pelukan Axelle mengoceh tidak jelas sambil sesegukan. Axelle memberi penjelasan pada Jacob tanpa suara, ‘lagi sensitif.’

__ADS_1


Setelah itu Jacob memilih untuk keluar dari kamar Axelle lalu turun ke lantai bawah. Setidaknya harus ada yang menerima pesanan makanan mereka, ‘kan?


__ADS_2