
"Sambil nunggu waktu latihan, kita leha-leha di rumah Gio dulu gimana?" saran Axelle yang diangguki setuju oleh Suho dan si empunya rumah; Gio. Lain hal dengan Adam yang malah menggelengkan kepalanya.
"Dih tumbenan."
"Gua harus anterin si Estelle ke tempat Januar dulu. Hari ini Januar ga masuk dan mereka ada janjian latihan gitu, gak ngerti juga gua." Adam mengangkat kedua bahunya tidak peduli dan mempercepat gerakan tangannya yang sedang merapihkan barang-barangnya begitu mendengar suara bel pulang berbunyi.
Gio dan Axelle saling lihat mendengar penjelasan Adam.
"Sepertinya saya mencium aroma-aroma bulol saat ini," ledek Gio meniru salah satu tokoh yang memang tengah ramai dibicarakan orang-orang saat ini.
Adam memutar bola matanya malas meladeni ledekan temannya. "Serah lo, gua duluan."
Axelle sendiri masih terdiam di tempatnya. Ada perasaan tidak nyaman karena Adam dan adiknya semakin dekat akhir-akhir ini. Ia juga tidak tahu bagaimana perkembangan masalah pertunangan mereka. Apakah akan tetap berlanjut atau seperti apa, ia tidak tahu.
Sampai akhirnya Suho menepuk bahu kanannya, barulah Axelle berhenti memikirkan hubungan temannya dengan sang adik. "Kamu kenapa? Ayo, jadi tidak?" tanya Suho yang hanya diangguki pelan olehnya.
__ADS_1
"Makasih ya, Kak! Semangat juga latihannya! Bye-bye!!" Setelah memberikan semangat pada Adam, Estelle berlarian masuk ke kediaman Januar. Adam ikut tersenyum tipis saat turut merasakan semangat yang ditularkan Estelle padanya. Setelah memastikan gadisnya sudah masuk dengan aman, ia pun bergegas melajukan mobilnya ke tempat latihan.
Di sisi lain Estelle tengah celingak-celinguk mencari keadaan sang sahabat. Ia sedikit bingung karena dari depan sana ia tidak melihat satu pun pelayan.
Setelah meletakkan tasnya di sofa, Estelle memilih untuk langsung saja ke kamar Januar. "Anuu, kamu-"
Estelle terperangah melihat betapa berantakannya kamar Januar saat ini. Kedua matanya bergerak liar mencari keberadaan sahabatnya itu di antara tumpukan baju dan camilan yang berserakan di mana-mana. Sampai akhirnya ia melihat Januar yang tergeletak mengenaskan di lantai tepat di samping tempat tidurnya. Sontak saja ia langsung mendekat ke arah Januar untuk memeriksa keadaan laki-laki itu.
Tidak jadi merasa kasihan dengan Januar karena ia tahu temannya itu minum-minum, Estelle menendang-nendang paha Januar dengan cukup kencang untuk membangunkan laki-laki itu. "Anu, bangun!" teriaknya beberapa kali. Sayangnya hal itu tidak cukup untuk membangunkan sang sahabat.
Estelle mengubah posisinya jadi berjongkok di samping wajah Januar, ia menghembuskan napas kasar melihat wajah polos Januar saat tertidur. Ia benar-benar menyayangkan tingkah Januar yang sangat tidak sesuai dengan wajah polosnya.
Dengan wajah datar Estelle dengan santainya memencet hidung milik Januar. Meski tangan Januar sudah mencengkram pergelangan tangannya, Estelle tetap tidak melepaskannya. Ia baru akan melepaskannya saat sahabatnya itu membuka mata.
"Estelle!" Januar menggeram kesal. Meski begitu laki-laki itu tetap tidak membuka kedua matanya.
__ADS_1
Susah payah Januar membuka kedua matanya yang terasa lengket dan berat agar bisa kembali bernapas lagi.
Setelah berhasil membangunkan Januar, Estelle langsung bergerak memunguti baju-baju kotor milik Januar yang berserakan, mengumpulkannya di satu tempat; di keranjang cucian milik laki-laki itu. "Semua orang pada ke mana? Bahkan penjaga di depan juga gak ada. Kamu-"
"Gua usir semua," potong Januar cepat. Laki-laki itu menggerang sambil memegang kepalanya. Estelle yang melihat itu pun menghela napas panjang. Sekesal apa pun dirinya, ia tetap saja tidak tega melihat sahabatnya itu kesakitan seperti itu.
Estelle kembali menghampiri Januar dan membantu laki-laki itu naik terlebih dahulu ke atas tempat tidurnya. Karena tidak menemukan teko air yang biasa ada di atas nakas, Estelle pun memutuskan untuk pergi ke dapur sebentar.
"Jangan pergi." Januar menahan tangan Estelle agar tidak pergi.
"Aku cuma mau ke dapur. Kamu di sini aja," terang Estelle seraya melepaskan tangan Januar dari tangannya.
Estelle kembali ke kamar Januar dengan minuman jahe hangat di tangannya. Dengan kasar ia menaruh gelas yang ada di tangannya di atas nakas. "Minum ini. Abisin. Kalau udah abis nanti kamu langsung ke bawah, aku lagi masak sup ayam." Selesai menjelaskan seperti itu, ia langsung pergi dari sana. Tak memberikan kesempatan pada Januar untuk membuka mulutnya, bahkan hanya untuk berterima kasih padanya.
Januar mengerti jika sahabatnya itu pasti tengah amat sangat marah padanya. Dan ia berusaha untuk tidak terluka dan memaklumi kemarahan gadis itu saat ini. Ia sadar diri, apa yang dilakukannya memang salah. Minum-minum padahal belum cukup umur untuk itu. Estelle tidak mengadukan ini pada siapa pun saja ia seharusnya sudah merasa sangat beruntung.
Januar mencoba meminum minuman jahe tersebut seperti yang diperintahkan Estelle padanya tadi. "Sial*n ga enak!" Meski begitu, Januar tetap menghabiskan seluruhnya karena tidak ingin membuat Estelle mengamuk nantinya.
Setelah berhasil menghabiskan minuman itu seluruhnya, Januar berjalan pelan ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan menyikat giginya. Ia harus menghilangkan rasa minuman jahe tadi dari mulutnya segera atau ia akan memuntahkan isi perutnya nanti.
Selesai mengganti pakaian, barulah Januar menyusul Estelle ke bawah. Hal pertama yang dilihat Januar adalah wajah Estelle yang terlihat sedih saat melamun. Gadis itu pasti mengkhawatirkan dirinya lagi.
"Makan nih. Abisin. Aku mau langsung ke tempat latihan kak Axelle. Kita latihannya lain waktu aja. Kalau gitu aku pamit ya," ujar Estelle yang sudah menggendong tasnya, siap pergi dari sana.
__ADS_1
Januar hanya bisa menganggukkan kepalanya kaku walaupun hatinya memerintahkannya untuk menahan Estelle agar tidak pergi ke tempat latihan Axelle dan tetap latihan bersamanya. Namun Januar malah mengantar Estelle sampai gerbang rumahnya, memastikan gadis itu sudah menaiki ojek onlinenya dengan aman.
Januar menghela napas panjang melihat punggung sempit sang sahabat yang menjauh darinya. Pengecut, makinya pada dirinya sendiri.