Cheerleader

Cheerleader
24


__ADS_3

Jangan selalu mengucapkan janji yang belum tentu bisa kau tepati kalau tidak ingin orang lain menganggap semua ucapanmu adalah omong kosong belaka.


***


Setelah perdebatan yang cukup alot, di sini lah mereka; mansion Ryan a.k.a. Ayah kandung Januar. Awalnya Axelle sangat-sangat menolak dan memaksa Estelle untuk tetap berada di hotel, namun bujukan Estelle di akhir membuat Axelle jadi mempertimbangkan option untuk bersembunyi di kediaman Januar.


“Appa eodi?” tanya Estelle pada Januar karena di jam segini tidak melihat Ryan di mansion yang cukup besar ini.


“Pergi ke Jepang,” jelas Januar singkat. Laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya kala bertemu tatap dengan Axelle yang terlihat sangat enggan berada di sini.


Estelle hanya mengangguk. Dengan santainya gadis itu menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Tidak memperdulikan jika alas kaki yang masih dipakainya itu akan mengotori sofa mahal nan empuk milik sang sahabat. Gadis itu berlagak seperti sedang berada di rumahnya sendiri.


“Milk?” tawar Januar yang diangguki antusias oleh Estelle.


Januar segera memerintahkan salah satu pelanyannya untuk menyiapkan camilan dan susu yang biasa disediakan untuk Estelle. Setelahnya ia menghampiri keduanya dan memilih untuk duduk di sisi sang sahabat.


“Tumbenan, Kak?” ujar Januar seraya mengalihkan perhatiannya pada Axelle sejenak.


Axelle mengubah postur tubuhnya sebelum membalas perkataan Januar. “Gua sama Estelle mau nginep di sini sampe lusa, bisa ga?” ujarnya tanpa basa-basi sama sekali. Januar menoleh pada Estelle di sampingnya dan langsung mendapat anggukan kepala pelan dari gadis itu.


“Bisa kok, Kak. Anggap aja rumah sendiri,” jawabnya tanpa berpikir lagi.


“Karena lo udah ngomong gitu, gua gak akan sungkan-sungkan lagi. Kalau gitu bisa anter gua ke kamar gak? Capek banget gua momong bayi gede semaleman,” sindir Axelle seraya melirik sang adik.


Estelle hanya mengendikkan bahunya tidak peduli. Toh salah Axelle sendiri yang tidak memberi tahu terlebih dahulu jika mereka tidak akan pulang kemarin. Jika saja laki-laki itu bilang, ia sudah pasti akan membawa boneka Chimmy-nya ikut serta dalam persembunyian ini.


Setelah kedua laki-laki itu pergi menjauh, Estelle memutuskan untuk membuka pesan yang dikirimkan oleh Adam sejak semalam. Sebenarnya ia sudah mengetahui adanya pesan itu sejak semalam, namun ia tidak berani membukanya karena Axelle terus bersamanya sejak kemarin. Ia tidak ingin menyebabkan perpecahan di antara kedua rekan sahabat itu lagi.


From, Earth Oppa: keberatan kalau perjodohan ini dilanjutkan? Kalau lo gak bales dalam setengah jam, gua akan anggap jawaban lo adalah ‘iya’.

__ADS_1


Estelle terkesiap sampai kedua matanya membola setelah membaca pesan itu di layar ponselnya. Pelayan yang membawakan camilan pun merasa khawatir melihatnya. Ia menghampiri Estelle dan bertanya, “Nona, anda baik-baik saja?”


Estelle mengangguk pelan. Setelahnya ia menoleh kaku seraya menatap pelayan itu. “Apa dunia akan segera berakhir?” tanya Estelle masih dengan wajah terkejutnya.


“Nona apa maksud-”


“Dunia pasti akan hancur sebentar lagi!” desis Estelle begitu yakin. Hal ini semakin membuat pelayan itu bingung sekaligus khawatir.


“Nona …,” lirih pelayan itu saat Estelle kembali fokus melihat ponselnya sambil bergumam dunia akan kiamat sebentar lagi.


“Ada apa?” Suara Januar membuat Estelle kembali terkesiap untuk kedua kalinya. Cepat-cepat ia menyembunyikan ponselnya seraya menormalkan ekspresi wajahnya.


Pelayan tadi menjelaskan perihal barusan pada Januar tanpa sempat Estelle cegah. Gadis itu sedikit menyesal karena ia terlalu larut dalam keterkejutannya hingga tidak bisa memperkirakan hal ini akan terjadi. Lagi pula cepat sekali laki-laki itu kembali.


Januar mengisyaratkan pelayan itu untuk pergi setelah selesai mendengar penjelasannya. Laki-laki itu menghampiri Estelle yang masih pura-pura tenang di tempat duduknya.


“So, what happened?” tanya Januar begitu bokongnya mendarat sempurna di sebelah Estelle.


“Nah, kamu inget ‘kan yang aku cerita tentang makan malam sama keluarga kak Adam?” Lagi-lagi Januar hanya mengangguk sebagai respons. Laki-laki itu tampak tenang karena sama sekali tidak ingin menyela penjelasan Estelle.


“Nah intinya tuh gini, mom sama dad ngelanjutin perjodohan aku sama kak Adam tanpa sepengetahuan abang. Jadi, setelah abang pulang dan tau itu semua …-” Estelle menjeda ucapannya karena ia sendiri tidak tahu pasti keadaan di rumahnya saat ini seperti apa.


“- Mereka kayaknya lagi perang di rumah sekarang. Aku gak tau pasti, tapi yang jelas kita berdua gak bisa pulang sampe lusa karena gak dibolehin sama abang.”


Januar terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari mulut Estelle.


Sudah pasti suasana di kediaman Harrison saat ini sedang sangat-sangat suram. Itulah mengapa Jacob menyingkirkan Estelle dari sana. Tapi yang masih membuatnya tidak mengerti adalah … bagaimana cara Estelle membujuk Axelle agar mau tinggal di kediamannya seperti ini?


Januar mengerti betul ketidaksukaan Axelle padanya. Rasanya mustahil sekali jika laki-laki itu bersuka rela tinggal di kediamannya tanpa embel-embel apa pun.

__ADS_1


Mengerti kegelisahan sang sahabat, Estelle memeluk pinggang Januar dari samping. “Tenang aja. Kak Axelle tuh gak benci kamu. Dia cuma gak suka aja sama cowo-cowo yang deket sama adeknya yang neomu yeppo kayak gini,” ujar Estelle dengan ekspresi dan suara yang diimut-imutkan.


Januar berdecak. Kalau saja sahabatnya itu tidak terlihat manis saat ini, mungkin ia sudah menendang gadis itu jauh-jauh karena bertingkah sok imut seperti ini.


“Pede banget ya, Say. Aku tuh cuma mikir ... kamu ngasih jampe-jampe apa ke kak Axelle sampe tuh orang mau tinggal di sini padahal doi sebel banget sama aku.”


Alih-alih memberitahu, Estelle hanya tersenyum mendengarnya.


“Gak mau kasih tau?” tanya Januar kepalang tanggung sudah telanjur penasaran. Estelle menggeleng tegas dan semakin menyamankan posisinya memeluk Januar.


“Stelle,” panggil Januar berusaha membujuk. Laki-laki itu bahkan sampai menguraikan pelukan Estelle dari tubuhnya saking penasarannya.


Bibir Estel mencebik kesal. “Ish aku juga gak tau loh. Aku cuma bilang ke ka Axelle, kalau kita di hotel terus bisa-bisa mom sama dad nemuin kita sebelum mereka pergi lusa ini. Jadi, mending kita sembunyi di rumah kamu karena mereka gak begitu tahu kamu. Gitu.” Setelah menjelaskan seperti itu, Estelle langsung memunggungi Januar karena kesal dengan pemaksaan yang laki-laki itu lakukan padanya.


Januar yang sadar akan kesalahannya pun berusaha membujuk sahabatnya yang sedang merajuk itu. Layaknya anak kecil yang merasa bersalah karena telah melakukan kesalahan, Januar menarik-narik pelan baju yang dikenakan Estelle sambil memanggil-manggil nama gadis itu.


“Stelle, Estelle,” panggil Januar untuk ke-sekian kalinya. Tak hanya menarik-narik pakaian Estelle, Januar juga menoel-noel pinggang Estelle agar gadis itu kembali menoleh ke arahnya.


Risih, akhirnya Estelle memberikan respons berupa sikutan yang cukup kencang. Hal ini dimanfaatkan oleh Januar untuk berpura-pura kesakitan agar bisa menarik perhatian Estelle kembali. Januar mengerti sangat jika sahabatnya ini tidak akan setega itu bila melihatnya kesakitan.


“Arggh! Sakit!” Dan tepat seperti dugaan Januar, Estelle langsung memusatkan seluruh perhatiannya pada laki-laki itu. Gadis itu bahkan sampai meminta maaf berkali-kali pada Januar tanpa tahu dirinya sedang dibodohi oleh laki-laki itu.


Bingung karena Januar terdiam sambil melihatnya dengan tatapan aneh, Estelle mengernyitkan dahinya curiga. “Anu! Kamu pura-pura ya?!” sentaknya yang berhasil menyadarkan Januar dari pemikirannya.


Tanpa babibu, Januar langsung menarik Estelle ke dalam pelukannya. Laki-laki itu menepuk-nepuk punggung sahabat guna menenangkan perasaan gadis itu. “Maaf. Udahan ya ngambeknya? Janji gak maksa-maksa lagi, janji juga gak bohongin lo lagi.”


“Bohong. Paling nanti gitu lagi,” balas Estelle dengan bibir yang mencebik kesal.


“Iya deh aku gak janji buat gak gitu lagi. Tapi aku tetep usahain buat gak bikin kamu kesel kaya tadi.” Estelle hanya berdehem mengiyakan perkataan Januar.

__ADS_1


Tatapan Axelle berubah tajam saat mendapati interaksi Estelle dan Januar yang terbilang cukup intim. Meski begitu ia tidak berniat untuk menegur dan memisahkan keduanya. Ia hanya memperhatikan interaksi keduanya dalam diam, tanpa berniat menunjukkan keberadaannya.


__ADS_2