Cheerleader

Cheerleader
12


__ADS_3

Sampul yang cantik tidak menjamin isi yang di dalamnya juga baik.


***


Besoknya Estelle mengernyit bingung saat Axelle tak kunjung turun untuk sarapan, sesekali ia melihat jam tangannya dengan khawatir. “Kamu berangkat sama Abang. Axelle gak masuk sekolah hari ini.”


“Gapchagi wae?”


Estelle berdehem pelan saat mendapat tatapan tajam sang abang. “Kok tiba-tiba? Emangnya kak Axelle kenapa?”


“Gak enak badan,” jawab Jacob singkat.


Mendengar itu Estelle langsung beranjak dari tempat duduknya hendak ke kamar kakak keduanya, namun dengan sigap Jacob menahan tangan gadis itu. “Mau kemana? Ayo berangkat, kamu udah kesiangan loh.”


“Tapi-”


“Aku mengerti …,” lirihnya saat mendapat pelototan galak dari Jacob.


Dengan langkah gontai ia mengekori Jacob menuju mobil pria itu. Ia pasrah saja saat Jacob menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


Jacob menghembuskan napas panjang saat melihat Estelle yang terdiam bukannya memakai sabuk pengamannya. “Axelle gapapa kok. Kamu tenang aja,” terang Jacob dengan lembut seraya memasangkan sabuk pengaman gadis itu.


“Okay.”


Jacob tersenyum seraya mengelus rambut gadis itu sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, Estelle tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia lebih memilih untuk mengalihkan atensinya pada jalanan yang mereka lewati, membiarkan dirinya tenggelam dalam lamunan.


Sesampainya ia di sekolah, seperti biasa ia mencium pipi Jacob singkat dan langsung keluar dari mobil tanpa berkata-kata. Jacob hanya bisa menghembuskan napas kasar dan memijit kepalanya yang terasa sedikit berdenyut mengingat permasalahan adik-adiknya.


*

__ADS_1


*


*


Seharian Estelle tidak fokus karena terus memikirkan Axelle. Firasatnya mengatakan jika ada hal yang disembunyikan darinya, tapi ia tidak tahu apa. Yang jelas hal itu pasti berhubungan dengan Axelle.


Bruk!


*B*agus sekali Estelle, bahkan kamu menabrak orang sekarang, batin Estelle yang kesal dengan dirinya sendiri.


“Maaf- Kak Adam?” Ternyata orang ia tabrak adalah Adam. Estelle terperangah saat melihat Adam. Bukan, bukan karena Adam bertambah tampan hingga mengalahkan biasnya … tapi karena wajah tampan laki-laki itu babak belur di beberapa tempat. Seingatnya luka laki-laki itu sudah membaik, tapi kenapa hari ini justru terlihat lebih mengerikan dari sebelumnya?


Adam yang malas berurusan dengan Estelle pun berniat langsung melanjutkan langkahnya, namun cekalan kuat di tangannya membuat Adam mau tidak mau kembali berurusan dengan adik sahabatnya itu, lagi.


“Kak, mukanya kenapa?” tanya Estelle dengan mata yang berkaca-kaca. Adam sampai menaikkan sebelah alisnya melihat reaksi Estelle. Laki-laki itu bahkan tidak sadar sudah ditarik ke ruang kesehatan oleh gadis itu. Di dalam pikirannya, drama apa lagi yang akan dibuat oleh manusia kurcaci yang satu ini.


Sebenarnya apa yang dikatakan gadis itu pada Axelle hingga temannya itu menghajarnya lagi? Pikirnya dengan tatapan yang terus tertuju pada wajah Estelle.


Sadar jika Adam terus memerhatikannya, Estelle tersenyum lebar. “Aku cantik ya, Kak? Kata bang Jacob juga gitu.” Meski terlihat begitu percaya diri, Estelle sangat gugup karena bisa menikmati wajah tampan Adam dengan jarak sedekat ini. Oh ayolah wajah setampan ini, Estelle tidak bisa biasa saja saat mendapat kesempatan yang mungkin tidak akan ia dapatkan lagi setelah ini, mengingat betapa bencinya laki-laki ini padanya.


“Kok bisa babak belur gini sih, Kak? Pasti berantem deh.”


Adam sempat terdiam sebentar mendengar perkataan Estelle, lalu kemudian ia mengangguk membenarkan perkataan gadis itu. “Berkat seseorang,” ujarnya semakin menatap tajam Estelle.


Gerakan tangan Estelle melambat. “Jangan bilang kak Axelle yang-”


“Ya, gara-gara lo dia ngehajar gua lagi kemaren,” potong Adam cepat.


“Maaf,” cicit Estelle yang masih terus mengobati luka di wajah Adam. Meski begitu tangan gadis itu sedikit gemetar karena merasa bersalah dan Adam menyadari hal itu. Dengan cepat Adam menggenggam tangan Estelle dan menjauhkan tangan gadis itu dari wajahnya.

__ADS_1


“Lo gak perlu ngelakuin hal ini sebenernya. Lo pasti udah tahu tentang perjodohan kita, ‘kan?” Estelle mengangguk tidak yakin.


“Kalau lo ngelakuin ini cuma buat ngerubah penilaian gua tentang lo, mending berhenti karena semuanya bakal sia-sia aja. Jadi lo gak usah capek-capek ngeluarin effort buat bikin diri lo terlihat baik di depan mata gua.”


Dahi Estelle sudah berkerut, ia merasa tidak habis pikir dengan jalan pikiran laki-laki di hadapannya saat ini. Estelle menghembuskan napas kasar sebelum berbicara, “aku gak ngerti sama jalan pikiran Kak Adam. Mau Kak Adam nilai diri aku baik atau buruk, itu pilihan Kakak … aku gak peduli sama sekali.”


Estelle menggulum bibirnya yang terasa kering sebelum melanjutkan kata-katanya. “Toh memangnya Kak Adam siapa sampai aku harus berusaha mendapat pengakuan dari Kak Adam? Di sini niatku cuma mau obatin luka yang ada di muka Kak Adam, gak ada yang lain.”


Rahang Adam mengeras mendengar perkataan Estelle.


Estelle yang juga sudah merasa kesal pun dengan cepat membereskan isi kotak obat tersebut. “Satu lagi, jangan sombong-sombong banget jadi manusia. Kakak bukan bumi yang memang senantiasa diputari oleh bulan,” ujarnya sebelum keluar dari ruangan itu.


Adam mematung setelah mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Estelle barusan. Apa katanya? Aku bukan bumi yang senantiasa diputari oleh bulan? Konyol, pikir laki-laki itu kesal. Demi apa pun perkataan Estelle benar-benar mengusik egonya sebagai laki-laki.


Estelle sendiri sedang menyesali perkataannya saat di dalam tadi. Berkali-kali ia memukul mulut dan kepalanya secara bergantian. Ia menyesal karena tidak bisa mengontrol mulutnya dan berbicara yang aneh-aneh pada Adam. Aku tadi ngomong apa sih! batin Estelle berteriak penuh sesal.


“Dari tadi kemana aja sih? Ayo pulang! Aku masih harus ke kantor ayah setelah ini.” Januar menarik tangan Estelle untuk mengikutinya ke tempat parkir.


“Oh kalau gitu kamu langsung aja ke kantor ayah. Aku bisa pulang sendiri naik bus.” Estelle menghentikan langkahnya hingga Januar ikut berhenti di sisinya.


Januar melepas pegangan tangannya lalu membingkai wajah Estelle dengan kedua tangan besarnya. “Kamu sadar sama ucapan kamu tadi? Kalau ayah sampai tahu aku membiarkan putri kesayangannya pulang naik bus padahal aku bisa mengantarnya … kamu tahu ‘kan apa yang akan dilakukan pria tua itu?” Januar menggesekkan hidung mancungnya dengan hidung Estelle gemas.


Kedua mata Estelle terpejam seraya tergelak senang. Interaksi keduanya tersebut tidak luput dari pandangan Adam yang kini berdiri di depan ruang kesehatan memperhatikan mereka berdua.


“Sekarang kita pulang?” tanya Januar seraya mengusap kedua pipi Estelle lembut. Estelle tersenyum seraya mengangguk antusias. Gadis itu sudah menggenggam tangan Januar dan menariknya semangat.


Januar sendiri ikut tersenyum senang melihat tingkah sang sahabat. Ia harap Estelle akan terus tersenyum ceria seperti ini seterusnya.


Adam menyaksikan itu semua dengan tatapan datar, ia juga memilih pergi dengan arah yang berlawanan dengan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2