
Permintaan maaf memang tidak bisa menyembuhkan luka, tapi setidaknya bisa menjadi obat penahan rasa sakit untuk sementara waktu.
***
Jacob akan pergi ke luar kota selama beberapa hari dan hari ini ia memutuskan untuk mengantar-jemput adik kesayangannya itu ke sekolah. Saat ini ia sudah masuk ke dalam kamar Estelle hendak membangunkan gadis itu.
Namun saat masuk ke dalamnya, ia terkejut saat melihat pakaian Estelle yang sudah siap berangkat sekolah. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat wajah kuyu gadis itu. Tumbenan banget, pikirnya. Jarang-jarang Estelle bersikap seperti ini.
Karena khawatir, Jacob membingkai wajah Estelle dengan tangan besarnya. Memeriksa suhu tubuh sang adik dan membandingkannya dengan suhu tubuhnya.
“Abang, Estelle gak mau sekolah,” ujar Estelle semakin membuat Jacob khawatir. Kalau melihat keadaan adiknya yang seperti ini bagaimana ia bisa pergi jauh? Pikir pria itu.
“Kenapa?” tanya Jacob dengan lembut. Ia bahkan sudah duduk di sebelah Estelle, siap mendengarkan keluh kesah adik bungsunya itu.
Estelle menggeleng pelan mendengar pertanyaan sang abang. “Gapapa sih, cuma males aja.”
Ekspresi wajah Jacob berubah 180 derajat, wajah lembut penuh kasih sayang pria itu langsung lenyap dan tergantikan dengan wajah tegas penuh amarah. Estelle melihat perubahan itu dan dia mengerti jika dia sudah membangunkan macan yang sedang tertidur.
“Becanda. Mau sekolah kok,” kilah Estelle yang langsung menghindari tatapan Jacob.
Jacob menghembuskan napas panjang sebelum berbicara, “kalau ada masalah itu diselesaiin, jangan malah lari kaya pengecut. Kalau sekiranya gak bisa ngatasin masalah itu sendiri, minta bantuan, jangan sok-sokan ditanggung sendiri tapi malah akibatnya jadi ngancurin diri sendiri.”
“Aku mengerti …,” lirih Estelle saat mendapat pelototan tajam dari Jacob.
“Ayo, berangkat.”
Dengan langkah gontai ia mengekori Jacob menuju mobil pria itu. Jacob menghembuskan napas panjang saat melihat Estelle yang terdiam bukannya memakai sabuk pengamannya. “Jangan melamun, Sweetie,” ucap Jacob dengan lembut seraya memasangkan sabuk pengaman gadis itu.
“Okay.” Estelle tersenyum kecil, merasa senang dengan perlakuan abangnya yang begitu memanjakannya.
Jacob tersenyum seraya mengelus rambut gadis itu sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, Estelle tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia lebih memilih untuk mengalihkan atensinya pada jalanan yang mereka lewati, membiarkan dirinya tenggelam dalam lamunan.
Sesampainya ia di sekolah, seperti biasa ia akan mencium pipi Jacob singkat sebelum turun dari mobil.
“Belajar yang bener, okay?” Estelle hanya mengangguk-angguk pelan mendengar segala wejangan yang Jacob katakan padanya. Ia juga diam saja saat laki-laki itu menciumi seluruh permukaan wajahnya.
Sadar dirinya telat, Estelle langsung masuk ke dalam barisan khusus untuk orang-orang telat sepertinya. Biasanya gadis itu akan kucing-kucingan dengan guru agar bisa ikut berbaris di barisan kelasnya, namun sepertinya hari ini tidak lagi.
Januar yang melihat dari jauh pun mengernyitkan dahinya bingung. Atensi laki-laki itu kini teralihkan sepenuhnya pada gadis itu, beberapa siswi yang berbaris di samping Estelle sampai mengira jika Januar memerhatikan mereka.
__ADS_1
Merasa diperhatikan, Estelle pun menoleh. Tatapan mereka bertemu, Januar bisa lihat jika gadis itu tampak tidak bersemangat pagi ini. Estelle lebih dulu memutuskan kontak mata mereka saat seorang guru menyuruhnya melakukan push-up dan squat jump sebagai hukuman atas keterlambatannya.
Saat masuk ke dalam kelas, Januar yang memang duduknya tepat berada di belakang Estelle sedikit memajukan badannya dan berbisik, “kamu kenapa?”
Estelle mendengar itu, bahkan Joyceline yang berada di samping gadis itu pun turut mendengarnya. Akan tetapi Estelle diam saja tak memerdulikan pertanyaan Januar dan mulai fokus dengan catatan di bukunya.
Januar dan Joyceline saling adu pandang, merasa aneh sekaligus khawatir karena perilaku Estelle yang tidak biasanya.
*
*
*
Perilaku Estelle yang berubah aneh ini berlangsung selama hampir seminggu. Axelle yang paling merasakan dampak dari keanehan perilaku sang adik pun merasa tidak tahan, ia sampai menceritakannya pada para sahabatnya saat nongkrong.
Axelle melempar ponselnya asal ke segala arah. “Anjir lah udah sold out semua!” teriaknya kesal seraya menjambak rambutnya frustrasi.
Gio yang posisinya paling dekat dengan ponsel Axelle pun mengambil alih kegiatan laki-laki itu sebelumnya. Suho yang baru saja datang setelah menyajikan camilan pun mengangkat sebelah alisnya bingung. Ia menoleh ke arah Gio untuk meminta penjelasan.
“Dia lagi obrak-abrik toko online, lagi nyari kaos yang dipake sama idolanya Estelle,” jelas Gio sambil lanjut scrolling.
“Kaos putih gitu, harganya sih gak terlalu mahal lah buat ukuran keluarga Harrison, tapi udah sold out semua,” jelas Gio yang terlihat ikut bahagia melihat Axelle yang begitu kerepotan saat ini. Dia mengembalikan ponsel Axelle sambil tertawa kencang.
“Emangnya harus banget kaos itu?” tanya Suho lagi.
Axelle berdecak kesal, dia membuang ponselnya lagi dan menghempaskan kepalanya ke sofa berkali-kali. Gio melirik sesekali, dia tertawa pelan melihat Axelle. “Lagi lo mau-mauan aja direpotin gini sama adek lo.”
“Tuh bocah lagi gak semangat banget karna bang Jacob lagi dinas ke luar … lagian gue juga gak bisa nolak permintaan Estelle. Apa pun itu ….”
Suho mengambil ponsel Axelle dan matanya langsung membola saat melihat foto kaos yang dimaksud. “Aku mendapatkannya beberapa bulan lalu.”
Axelle langsung bangun. “Mana? Sini gue beli.”
Suho menggaruk kepalanya bingung karena baju itu ada di laundry sekarang. “Gak bisa, udah aku pake...,” ujarnya pelan.
“Gapapa deh, si Estelle malah seneng kalau dapet bekas lo pake.” Suho mengangguk pasrah setelah mendengar bujukan Axelle.
“Thanks! Nanti gue transfer.”
__ADS_1
Suho menggeleng. “Gak usah.”
“Lo memang yang terbaik!” puji Axelle seraya memeluk Suho.
“Apaan sih heboh amat,” ujar Adam yang baru saja datang. Ia menaruh jaket dan kunci motornya asal sebelum menghempaskan tubuhnya di sofa.
Hubungan Adam dan Axelle memang sudah lebih membaik dibanding sebelumnya, itu berkat bujukan Estelle yang meminta Axelle untuk tidak merusak hubungan pertemanan laki-laki itu dengan Adam hanya karena dirinya. Gadis itu berusaha meyakinkan Axelle kalau masalah yang terjadi belakangan ini memang pure karena dirinya dan meminta Axelle untuk melupakan masalah belakangan ini. Bahkan gadis itu mengatakan akan merasa bersalah seumur hidup kalau keduanya sampai harus saling membenci hanya karena dia.
Jadi, ya mereka kembali berkumpul bersama seperti sebelumnya walaupun tidak selepas dan seakrab biasanya.
Suho yang masih dipeluk Axelle pun berusaha menjelaskan, “ini si Axelle nyariin kaos buat Estelle. Katanya si Estelle lagi gak semangat selama beberapa hari ini.” Tatapan pria berdarah Korea itu sedikit menelisik pada Adam saat menjelaskannya.
Adam terdiam sebentar setelah mendengar penjelasan Suho. Ia merasa sedikit bersalah, mengingat perkataan-perkataan tajamnya pada Estelle sebelumnya. “Oh,” balasnya yang bingung harus merespons apa.
Ekspresi wajah Suho mendatar melihat reaksi Adam terhadap perkataannya tadi. Ia memilih untuk bergabung dengan Gio yang saat ini sudah asik bermain playstation.
“Woi!” Axelle melempari Adam dengan keripik singkong untuk menyadarkan laki-laki itu dari lamunannya.
“Gue minta maaf,” ujar Adam tiba-tiba. Axelle dan Gio sampai serempak menoleh ke arah Adam.
Suho yang memang sudah tau tentang apa yang dilakukan Adam pada Estelle pun memilih diam dan melanjutkan permainannya. “Pause dulu, Ho!” ujar Gio yang enggan ketinggalan.
“Gak usah karena dia harusnya gak minta maaf ke kita,” ujar Suho dengan wajah yang tidak bersahabat. Gio sampai mengerutkan dahinya dalam karena tidak pernah melihat sosok Suho yang dingin seperti ini.
“Maksud lo apa?” tanya Axelle yang dari tadi sudah berusaha mencerna situasi namun tetap gagal.
“Tanya aja sama Adam. Tanya dia ngapain Estelle waktu itu,” ujar Suho setengah-setengah karena sebenarnya ia sudah berjanji untuk tidak membeberkannya pada siapa pun. Namun ia rasa Adam keterlaluan kali ini.
Axelle beralih menatap tajam Adam. Lagi-lagi Adam. Sudah berapa kali sahabatnya itu menyakiti Estelle dan ia memaafkannya?
“Lo apain adek gua?” tanya Axelle masih berusaha tenang.
Adam tidak menjawab, ia hanya menunduk dan menatap karpet di depannya dengan tatapan menerawang. Ia mengingat-ingat kembali apa yang sudah ia katakan pada adik sahabatnya itu tempo lalu.
“Jawab, Bangsat!” Axelle langsung menarik kerah kaos yang dipakai Adam.
Gio dan Suho hanya melihat, tidak berusaha untuk melerai keduanya kali ini. “Lo harusnya gak bilang itu sekarang. Gua gak mau ya bantuin lo buat misahin mereka kaya waktu itu,” bisik Gio.
“Gak usah, Adam memang pantes dapet beberapa pukulan,” balas Suho dengan tatapan datar.
__ADS_1