
Tubuh itu hanyalah cangkang. Maka, nilailah seseorang dengan melihat jiwanya, bukan tubuh dan penampilannya.
***
“Axelle adek kamu kenapa lagi?”
Axelle yang sedang asik menyantap makan malamnya pun memutar bola matanya malas. Karena tak ada sahutan dari Axelle, Jacob menghampirinya dengan wajah kusut.
“Masalah apa lagi kali ini?” Tangan besarnya tanpa sadar sedikit menggebrak meja makan, yang mana membuat piring makanan Axelle sedikit bergeser dari tempatnya.
Dengan tenang Axelle menghabiskan makanan yang ada di mulutnya sebelum menjawab pertanyaan sang abang. “Gue gak tau. Adek lo itu tadi sempet ketemuan sama nyokapnya Adam. Pulang-pulang tuh anak udah ngegelung kaya ulet bulu gitu. Gua udah coba bujuk dan nanya dari tadi tapi tetep aja posisinya gak berubah.”
“Lo nanyanya nyolot kali?” tanya Jacob dengan nada curiga, yang mana membuat hati mungil Axelle sedikit terluka karena merasa tertuduh.
“Bang, lo jahat banget sih mulutnya. Bener kata si Estelle, mulut lo lemes.”
“Apaan sih anak b*bi! Ga jelas banget lo,” balas Jacob tak terima.
“Ya lagi lo nuduh aja! Gua mulu yang disalahin! Adek lo yang lagi stress gua juga yang disalahin!” Axelle memilih untuk beranjak dari sana dan kembali ke kamarnya tanpa menghabiskan makanannya.
Rasa kesal Axelle bertambah saat melihat gumpalan besar di atas kasurnya yang menjadi penyebab Jacob memuntahkan rasa frustrasi pria itu padanya. “Balik kamar lo sana kalau gak mau cerita apa-apa! Gua kesel gak mau tidur sama lo!”
Buntalan itu bergerak dan sedikit terbuka, memperlihatkan wajah merah sang adik. “Pusing,” lirih Estelle dengan cairan ingus yang mengalir deras membasahi pipi dan selimut yang tengah dipakainya.
Tatapan datar Axelle berubah menjadi sendu, rasa kesalnya langsung lenyap berganti dengan rasa khawatir yang begitu menyesakkan. Dengan sigap ia langsung naik ke atas kasur untuk memeriksa keadaan sang adik.
“Demam, selain pusing apa lagi yang kamu rasain?”
“Idungnya yang sebelah mampet, susah napasnya.”
Axelle melepaskan selimut yang membungkus tubuh Estelle, dia merapihkan rambut Estelle yang berantakan sebelum membuka dasi dan kancing kemeja teratas yang dipakai sang adik. “Tunggu di sini sebentar.”
“Ga mau ditinggal,” rengek Estelle membuat Axelle menghembuskan napas kasar.
“Sebentar aja. Kakak mau ke abang sebentar.” Axelle mengecup dalam dahi Estelle seraya melepaskan rematan tangan gadis itu dari kaos yang dipakainya. Setelahnya ia langsung pergi untuk memberitahukan sang abang mengenai kondisi sang adik.
__ADS_1
Jacob dan Axelle masuk ke dalam kamar dengan tergesa. Keduanya masing-masing membawa kotak obat, handuk dan baskom kecil untuk Estelle. Jacob mendekat ke arah Estelle untuk memberikan thermometer pada mulut sang adik.
“Xelle, tolong ambilin baju ganti. Basah semua ini bajunya.” Axelle dengan cepat langsung mengambil baju tidur yang sekiranya nyaman dipakai untuk Estelle saat ini. dia juga mengambil bando anjing berwana kuning agar rambut adiknya itu tidak mengganggu sang adik.
“Coba cek ada obat penurun panas gak di situ?” perintah Jacob lagi seraya mengganti pakaian Estelle.
Karena tidak mendapati apa yang ia cari, Axelle langsung memakai hoodie miliknya, bersiap keluar. “Beli plester penurun panas juga,” tambah Jacob sebelum Axelle benar-benar keluar dari sana.
“Kamu abis ngapain sih sampe sakit kaya gini? Pasti minum es ‘kan kamu?!”
Dengan mata terpejam Estelle mencebikkan bibirnya kesal. “Abang jangan omel ih pusing!!” rengeknya dengan dahi mengerut dalam.
“Biar! Salah sendiri gak pernah dengerin omongan abangnya.”
“Abaaangg iiihh!” rengek Estelle semakin menjadi saat Jacob menempeleng kepalanya pelan. Gadis itu terisak pelan dengan mata yang masih tertutup rapat.
Sedikit merasa tidak tega, Jacob mengecup dalam puncak kepala Estelle. “Maaf ya. Abang bikinin makanan dulu, abis itu minum obat yang dibeliin sama Axelle nanti. Sekarang kamu tidur dulu. Ini kamu ditemenin si kuning jelek ini dulu.” Jacob menyelipkan boneka anj*ng kuning yang biasa dipeluki oleh Estelle di lipatan tangan gadis itu.
“Jangan lama-lama,” lirih Estelle.
“Iya, Sayang.”
***
“Ya. Lo liat aja, Bang! Gua udah basah begini masih nanya aja!” Sahut Axelle kesal namun untungnya tidak ditanggapi serius oleh Jacob. Pria itu hanya mengangguk mengerti dan memilih untuk segera membawa hasil masakannya ke kamar Axelle.
Axelle sendiri masih menggerutu kesal bahkan setelah ia memasuki kamar mandi yang letaknya ada di dekat dapur. Laki-laki itu sebenarnya bisa saja mandi di kamarnya sendiri meskipun ada Estelle dan Jacob di sana. Hanya saja ia tidak ingin Estelle merasa bersalah saat melihatnya basah kuyup karena mencarikan gadis itu obat.
Estelle, adiknya itu sangat-sangat sensitif jika sedang sakit seperti ini. Dan Axelle tidak pernah merasa senang saat melihat itu semua.
Di sisi lain, Jacob kesusahan membujuk Estelle untuk menghabiskan makanannya. “Stelle, ayo sesuap lagi aja,” mohon pria itu yang langsung saja mendapat gelengan kepala tegas dari Estelle.
“Kamu baru makan dua suap, Stelle. Ayo, sesuap lagi aja!” Jacob dengan sengaja memaksa memasukkan sendok ke dalam mulut Estelle. Namun karena Estelle tidak mau dan menutup mulutnya rapat-rapat, sup buatan Jacob itu pun malah terpeper ke mana-mana.
Jacob menghela napas lelah. Dia memijit pangkal hidungnya saat merasakan denyutan di kepalanya muncul kembali.
__ADS_1
Kedua bola mata Estelle berkaca-kaca melihat sang abang yang terlihat sangat lelah. Ia jadi merasa sangat bersalah, namun ia juga bingung karena ia benar-benar tidak memakan itu semua sekarang. Perutnya seakan menolak dan mendorong semua makanan yang hendak masuk.
“Abang … maaf.” Setelah berkata seperti itu dengan suara yang bergetar, Estelle terisak lirih. Hal ini spontan membuat Jacob melimpahkan seluruh perhatiannya pada Estelle dan berusaha untuk tidak memperdulikan rasa sakit di kepalanya.
Jacob meletakkan mangkuk yang ia pegang di atas nakas sebelah ranjang. Pria itu kembali mempersempit jaraknya dengan sang adik. Ia mengecup lembut puncak kepala Estelle sebelum mengusapnya dengan hati-hati. “Shh udah. Jangan lama-lama nangisnya, nanti kepala kamu makin pusing. Udah ya? Kalau kamu sakit, Abang juga rasanya jadi lemah banget. Makanya kamu cepet sembuh ya, Abang ikut sakit ngeliat kamu kaya gini ….”
Perkataan Jacob tadi justru malah membuat tangis Estelle kian menjadi. Gadis itu bahkan enggan melepaskan cengkraman tangannya pada kemeja yang dipakai Jacob saat ini, seakan-akan jika ia melepaskannya … Jacob akan langsung menghilang dari pandangannya saat itu juga.
Dengan napas yang masih sesegukan Estelle berucap lirih, “mau peluk ….”
Jacob yang masih bisa mendengar itu dengan sangat jelas pun tersenyum. Dengan hati-hati ia mengubah posisinya agar bisa memeluk Estelle sambil ikut berbaring di samping adik perempuannya itu. Menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala Estelle yang perlahan mulai tenang dalam dekapannya.
Axelle yang memang sudah selesai mandi dan berganti pakaian, kembali ke kamarnya dan mendapati Estelle yang kembali tertidur. Bedanya kali ini gadis itu tertidur pulas dalam dekapan hangat sang abang. Dalam hati ia bersyukur melihatnya. Setidaknya saat ia pergi nanti, ada Jacob yang akan selalu bersama dengan Estelle untuk menggantikannya.
Tidak, Jacob tidak menggantikannya. Dari awal dialah yang merupakan pengganti di sini. Dan semua itu akan kembali ke posisinya semula saat ia pergi dari sini.
Axelle menggelengkan kepalanya cukup kencang, berusaha menyingkirkan pemikiran jelek seperti tadi. Estelle bisa sedih bila gadis itu tahu kalau ia masih saja suka berpikiran jelek seperti ini dan ia tidak ingin adiknya itu sedih karenanya.
Tidak ingin kedua orang yang paling disayanginya terganggu, Axelle pun menutup pintu kamarnya dan memilih untuk beristirahat di kamar Estelle saja malam ini.
Dengan langkah ringan Axelle berjalan menuju kamar Estelle yang letaknya tidak jauh dari kamarnya. Namun belum sempat ia masuk ke dalam sana, ia mendengar suara yang perlahan mulai terdengar asing di telinganya tengah menyebutkan namanya.
“Axelle, mom ingin berbicara denganmu,” panggil Agatha lagi. Kali ini dengan suara yang sedikit memohon.
“You talk as my mom or her husband?” respons Axelle sama sekali tidak bersahabat. Meski begitu laki-laki itu tetap berbalik dan masih mau bertatapan langsung dengan Agatha.
“You can’t answer my question? Sesulit itu anda menjawabnya?”
“Axelle, please … Jangan seperti ini.”
Dengan rahang yang mengeras, Axelle menyugar rambutnya. “Harusnya saya yang berbicara seperti itu, Nyonya Agatha Harrison. Perlu saya ingatkan sekali lagi, you have a promise with her mom. You marry him only to be a mother to their children not to be his wife! Don’t you forget it, Mom!”
Kedua bola mata Agatha terbelalak kaget mendengar perkataan sang putra. Dari mana putranya mengetahui itu semua?
“If you broke your promise with her, the I’ll break our-”
__ADS_1
“Axelle!” panggil Agatha yang dengan cepat memotong perkataan putra kandungnya tersebut. Jantungnya seperti ditarik paksa saat mendengar perkataan Axelle tadi. Dari nada bicara sang putra, Agatha paham Axelle benar-benar serius dengan perkataannya tadi.
Axelle mengangkat kedua bahunya terlihat tidak peduli. “Semua tergantung pada anda, Nyonya Harrison,” ujarnya dingin tanpa memperdulikan sama sekali perasaan sang ibu di sana. Dengan cepat ia kembali berbalik dan segera masuk ke dalam kamar milik Estelle.