Cheerleader

Cheerleader
32


__ADS_3

Setelah berbasa-basi dengan Agatha, Adam yang diperintahkan untuk langsung ke kamar Estelle pun terdiam kaku di depan pintu kamar gadis itu. Salah satu tangannya sudah terangkat beberapa kali hendak mengetuk pintu, tetapi tidak jadi karena laki-laki itu terus meragu.


Setelah meyakinkan diri beberapa kali, akhirnya Adam mengangkat tangannya bersiap untuk mengetuk pintu kamar Estelle. Namun belum sempat ia melakukannya, pintu kamar itu terbuka dan memunculkan sosok Axelle dengan penampilan yang masih berantakan khas bangun tidur.


Tentu saja Axelle sangat terkejut saat mendapati Adam di hadapannya pagi-pagi buta begini. “Ngapain lo pagi pagi udah di sini?” tanyanya to the point.


“Ngajak adek lo jalan,” balas Adam santai.


Axelle menggiring Adam untuk menjauh dari kamar sang adik dengan merangkul akrab sahabatnya itu. “Lo beneran serius sama adek gua? Bukannya lo gedek banget sama dia? Yakin lo?” tanyanya beruntun yang hanya dijawab deheman singkat oleh Adam.


“Lo suka sama dia? I mean … jangan sampe lo main-mainin dia doang. Jangan mentang-mentang karena dia klemar-klemer gak punya pendirian gitu, jadi lo manfaatin bocahnya. Kalau lo cuma coba-coba mending jangan deh,” lanjutnya.


“Gua serius,” ujar Adam menghentikan langkahnya.


“Lo pernah liat gua seniat ini sebelumnya?” tanya Adam balik.


Axelle terdiam, ia masih tidak yakin dengan perkataan temannya itu. Dari lama durasi pertemanan mereka yang tidak sebentar, Axelle sangat tahu tabiat br*ngsek temannya itu. Dan ia tidak ingin Estelle menjadi korban Adam yang selanjutnya. Selain tidak ingin adiknya terluka, ia juga tidak ingin hubungan pertemanan mereka hancur karena masalah ini.


“Lo bisa bunuh gua kalau semisal gua br*ngsekin adek lo.” Axelle terkejut mendengar perkataan Adam, ternyata sahabatnya itu mengerti isi kepalanya saat ini.


“Gua pegang omongan lo. Gua bakal langsung bunuh lo, sesuai perkataan lo tadi.” Adam hanya menganggukkan kepalanya setuju. Setelahnya Axelle meninggalkan dirinya sendiri di sana, tanpa memberikan izin padanya untuk menghampiri Estelle ke kamarnya.


Akhirnya Adam memutuskan untuk menunggu Estelle di ruang keluarga sambil terus membangunkan gadis itu lewat panggilan telepon.


“Halo,” jawab Estelle masih setengah sadar di seberang sana. Suara serak Estelle membuat Adam tersenyum tertahan di tempatnya, membayangkan gadisnya dengan rambut megar dan bibir tebal gadis itu yang sedikit bengkak setelah bangun tidur, mengangkat panggilan teleponnya dengan mata setengah terpejam.


Si*l! maki Adam pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol pikirannya tentang Estelle.


“Wake up, Stelle. I am waiting you in here.”


“Where?”

__ADS_1


Adam terkekeh pelan. “Di ruang keluarga, di sofa cokelat sambil makan cookies cokelat.” Setelahnya Adam mendengar suara jatuh bedebum di seberang sana. Refleks ia pun bangkit dari duduknya, bersiap menghampiri Estelle ke kamar gadis itu.


“Are you okay?”


Adam bisa mendengar suara grusak-grusuk di teleponnya. Namun jawaban Estelle membuatnya kembali duduk tenang. “I’m okay. Wait there for a sec. Don’t move then I’ll run to you!”


Setelah itu panggilan terputus. Adam tersenyum tipis melihat daftar nama panggilan di teleponnya. Tidak ia sangka rasanya akan semenyenangkan ini berbicara dengan seseorang lewat telepon.


***


“Jadi, mau pergi ke mana kita?” tanya Estelle. Gadis itu sudah rapih siap pergi keluar dengan pakaian kaos dan celana jeans sederhana yang tampak manis saat dipakainya. Tak lupa dengan tas mini milik Estelle yang tidak pernah ketinggalan. Adam sendiri masih tertegun melihat penampilan Estelle yang terlihat bersinar di matanya.


“Kak?” panggil Estelle untungnya berhasil menyadarkan Adam dari keterdiaman laki-laki itu.


Adam tersenyum canggung. “Kamu lagi mau pergi ke mana? Nanti-”


Ponsel Estelle berdering sangat kencang sampai menginterupsi obrolan keduanya. Gadis itu permisi sebentar, menjauh sedikit untuk menjawab telepon dari temannya –Joyceline-. “Halo,” desis Estelle sedikit gemas karena Joyceline tak berhenti menelponnya sebelum ia mengangkatnya.


“JANGAN BILANG LO LUPA?!”


Estelle memejamkan kedua matanya sambil menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar suara Joyceline yang begitu membahana. Dalam hati ia langsung berdoa pada Tuhan agar diberi keselamatan dari amukan teman cantiknya itu.


“Maaf,” cicit Estelle yang langsung mendapat decakan kesal dari Joyceline.


“Lo sama Januar samanya! Doi juga bilang dia ada urusan dan bilang mau nyusul nanti. Dan lo bahkan lebih parah karena bener-bener lupa!”Estelle hanya bisa mengucapkan kata maaf setiap Joyceline melontarkan amukannya.


Adam yang sedari tadi memperhatikan Estelle pun memilih untuk menghampiri dan menanyai keadaan gadis itu. “Stelle, ada masalah?”


Estelle mengangguk mengiyakan. Ia memilih untuk jujur pada Adam karena tidak ingin menambah masalah lagi. “Aku lupa kalau punya janji sama Joyceline hari ini,” sesalnya. Adam mengangguk mengerti dan ini semakin membuat rasa bersalah Estelle merebak.


“Ya udah kalau gitu. Ayok gua anter.”

__ADS_1


“Gapapa?” tanya Estelle tak enak hati.


*“Jangan lupain gua ya anjng! Ini gua gimana ini?!”suara marah Joyceline kembali terdengar. Estelle semakin merasa tidak enak pada Adam karenanya. Gadis itu sampai memasang wajah dan tatapan memelas saking tak enak hatinya.


Adam yang mengerti pun mengusak kepala Estelle lembut. “It’s okay. Ga usah sedih. Mending kita langsung jalan aja sekarang biar temen kamu gak semakin lama nunggunya.” Estelle hanya mengangguk menurut. Setelahnya ia mengekori Adam dengan kepala tertunduk dalam.


Sesekali ia menggerutu kesal saat melihat pop-up pesan Joyceline di layar ponselnya. Joyceline dan amarahnya selalu berhasil membuat Estelle ikut merasa kesal seperti ini. Biasanya ada Januar yang menengahi mereka dan menjadi pemadam api kemarahan keduanya, tetapi entah kemana perginya laki-laki itu pagi ini.


“Kak, maaf ya,” sesal Estelle saat Adam membukakan pintu mobil untuknya.


Adam tidak mengatakan apa pun, ia hanya menepuk lembut puncak kepala Estelle dan mendorong pelan gadis itu untuk segera masuk ke dalam mobilnya.


“Kalian ketemuan di mana? Masukin lokasinya, Stelle.”


“Kak ….”


“Estelle, lo jangan ngerasa bersalah gitu. Gua gapapa kok. Jujur sebenernya gua juga kecewa karena gak jadi jalan sama lo. Ya tapi gimana? Lo udah janji lebih dulu sama temen-temen lo. Salah gua juga karena gak bilang dulu sama lo kalau mau ngajak jalan hari ini. Udah ya? Kita bisa jalan lain kali, ‘kan?” Ekspresi wajah Estelle semakin sendu mendengar perkataan panjang lebar Adam.


Adam menarik Estelle dalam pelukannya dan mengusap-usap punggung gadis itu lembut seraya berbisik, “gapapa.”


Estelle mengangguk kecil dalam pelukan Adam. “Maaf ya, Kak.”


Adam melepaskan pelukannya seraya tersenyum hangat. Tak lupa laki-laki itu mengusak pelan rambut Estelle sebelum mulai melajukan mobil yang mereka naiki saat ini. “Masukin, Stelle,” perintah Adam lagi saat mobil yang dikendarainya sudah keluar dari kediaman keluarga Harrison.


Estelle pun memasukkan alamat lokasi pertemuannya dengan teman-temannya seperti yang dipinta Adam tanpa bantahan lagi. Wajah gadis itu masih memerah karena tindakan manis Adam beberapa menit yang lalu. Dan Adam menyadari itu semua, daun telinganya pun ikut memerah saat menyadari tindakannya pada Estelle beberapa menit lalu.


Kecanggungan dan keterdiaman ini berlangsung selama di perjalanan. Bahkan begitu tiba di tempat yang dimaksud, keduanya masih terdiam canggung.


“Have fun,” ujar Adam memecah keheningan.


Estelle mengangguk kaku, ia yang tadinya ingin membuka pintu mobil kembali memutar tubuhnya menghadap Adam. “Makasih, Kak!” ujarnya disertai kecupan singkat di pipi Adam. Setelahnya gadis itu langsung kabur keluar secepat kilat, meninggalkan Adam yang terdiam kaku di tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2