Cheerleader

Cheerleader
28


__ADS_3

Estelle berusaha untuk membuka kedua matanya dengan susah payah saat mendengar suara penuh frustrasi milik Jacob. “Bang suara lo,” bisik Axelle memperingatkan Jacob untuk tidak berisik. Keduanya lantas menoleh bersamaan untuk melihat keadaan Estelle dan bernapas lega karena tidak melihat pergerakan yang berarti. Mereka tidak tahu jika Estelle sedikit bisa melihat keduanya meskipun sangat tidak jelas.


Estelle melenguh pelan, yang mana langsung menarik perhatian kedua kakaknya yang sedang berdiskusi itu.


“Lo beneran gak mau nunggu si Estelle sehat dulu? Maksud gua, sebelumnya tuh bocah kan udah bicara empat mata sama beliau, masa iya gak menghasilkan apa-apa?” Axelle sekali lagi berusaha untuk mengubah keputusan Jacob yang hendak bertemu langsung dengan orang tua Adam demi membatalkan perjodohan Estelle dengan Adam.


Jacob yang tengah berjalan mendekat ke arah Estelle pun tidak menggubris Axelle sama sekali. Perhatiannya kini terfokus pada Estelle yang sesekali merengek dengan mata yang masih terpejam. Sekali lagi ia mengecek suhu tubuh sang adik menggunakan thermometer.


Dari semalam, Estelle tidak menelan semua makanan yang ia siapkan. Bahkan sarapan pagi tadi kembali dikeluarkan gadis itu setelah ia paksa masuk. Suhu tubuh gadis itu pun tak kunjung turun hingga saat ini.


Dengan kasar Jacob meletakkan thermometer secara asal di atas nakas, membuat Axelle yang sedari tadi memperhatikan menjadi siaga satu saat menyadari perubahan suasana hati abangnya yang terlihat semakin kacau.


“Bang, tenang!” ujar Axelle mengingatkan. Dia memang tidak tahu apa pun tentang masalah apa saja yang sedang dihadapi abangnya itu, akan tetapi ia tahu kondisi abangnya itu sedang tidak begitu baik akhir-akhir ini dari raut wajahnya yang terlihat lelah.


“Siapin mobil, gua siapin si Estelle,” perintah Jacob yang langsung saja dijalankan oleh Axelle tanpa bantahan.


Di sisi lain ….


“Lo dapet kabar dari Estelle? Dia ada hubungin lo gak?” tanya Januar pada Joyceline yang sibuk menyalin catatan dari papan tulis ke buku catatannya.


Tanpa mengalihkan perhatiannya, Joyceline menjawab pertanyaan Januar padanya, “lo emang gak dikasih tau? Si Estelle sakit. Jadi, dia gak bisa masuk hari ini. Tadi pagi kak Adam sempet nitipin surat izin Estelle ke gua.” Setelah berkata seperti itu Joyceline sempat melirik ke arah Januar untuk melihat reaksi laki-laki itu.


Karena diam saja, Joyceline kembali melanjutkan perkataannya. “Makanya lo berangkat pagi, jadi gak ketinggalan info kek gini. Lagi kenapa sih lo berangkat siang terus akhir-akhir ini? Absen lo tuh urusin!”


Tidak memperdulikan ocehan Joyceline, Januar memilih untuk menghubungi ayahnya dan memberitahukan kabar Estelle.


“Pulang sekolah gua mau jenguk, lo ikut gak?” tanya Joyceline saat berhasil menyelesaikan catatannya. Januar hanya mengangguk untuk mengiyakan ajakan Joyceline tadi.


“Udah lo tenang aja. Kak Adam bilang, si Estelle cuma demam kok,” ujar Joyceline berusaha menenangkan Januar, yang mana mengundang ekspresi terkejut sekaligus bingung Januar. Untuk apa gadis yang biasa jutek ini bersikap lembut dan menenangkannya?


Entah ekspresi apa yang ditunjukkan wajahnya sekarang sampai-sampai Joyceline berusaha menenangkannya dengan lembut seperti ini. Januar tersenyum tipis saat memikirkannya.


*


*

__ADS_1


*


Sepulang sekolah … keduanya; Joyceline dan Januar langsung melesat ke kediaman keluarga Harrison demi melihat langsung bagaimana kondisi sahabat mereka yang kabarnya jatuh sakit itu.


Namun sesampainya di sana, keduanya harus menelan kekecewaan karena orang yang ingin mereka jumpai nyatanya tidak berada di sana dan katanya sudah dibawa ke rumah sakit. Lalu dengan berbekal secuil informasi dari satpam kediaman Harrison, keduanya memutuskan untuk berkunjung ke sana.


Saat di perjalanan, Joyceline langsung menghubungi Axelle untuk mengonfirmasi informasi yang didapatkannya sekaligus meminta izin untuk mengunjungi Estelle di sana. Dan untunglah laki-laki itu berkenan mengizinkan mereka datang ke sana.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai di rumah sakit yang dimaksud karena letaknya memang tidak jauh dari kediaman keluarga Harrison.


Di sisi lain, Axelle benar-benar kerepotan karena Estelle tidak ingin melepaskan tangannya barang sedetik pun. Ia sampai harus memperintahkan mba Nini untuk menunggu Joyceline dan Januar di luar ruangan agar memudahkan keduanya menemukan kamar inap sang adik.


“Emangnya kamu gak malu nanti diliat Celine sama Januar yang mau ke sini?” Estelle menggeleng kencang, ia justru semakin menarik tangan Axelle dan dipeluknya erat-erat. Tidak memperdulikan jarum infus yang mungkin akan ikut tergeser karena gerakan tangannya yang sembrono.


Axelle menghembuskan napas lelah, ia memilih untuk mencari posisi nyaman daripada mendebat sang adik. Estelle memperhatikan perubahan wajah Axelle dan setelahnya ia merengut sedih.


“Maaf, Stelle nyusahin,” lirih gadis itu dengan nada lemas.


“Shh, mulutnya!” tegur Axelle singkat. Ia mengusap seluruh permukaan wajah Estelle agar kedua mata gadis itu kembali terpejam seperti sebelumnya.


“Tuh, temen kamu udah pada dateng. Kakak mau keluar sebentar ya,” bujuk Axelle yang kali ini mendapatkan anggukan kepala setuju dari Estelle.


Tak lama setelah Axelle keluar dari ruang inapnya, Januar dan Joyceline masuk dengan pakaian seragam sekolah mereka. Itu berarti keduanya langsung ke sini setelah mereka pulang sekolah. Kira-kira seperti itulah kesimpulan yang Estelle dapatkan di kepalanya.


Dengan senyum lemah Estelle menyapa keduanya, “hai!”


“Gausah hai-hai. Istirahat aja lo! Udah tepar gini ga usah belagak!” omel Joyceline dengan ekspresi wajah garangnya. Yang mana tidak membuat Estelle takut dan malah terkekeh pelan saat melihatnya.


Januar ikut tersenyum melihatnya. Ia menaruh parsel yang mereka bawa di atas meja depan sofa, sebelum melangkah lebih dekat ke arah sahabat kesayangannya itu. Dengan senyum hangat Januar mengusap kepala Estelle hati-hati. “Cepet sembuh. Kalau lo udah sembuh nanti gua ngajak lo jalan-jalan ke tempat yang lo mau.”


“Traktir aja gimana?” tawar Estelle masih dengan suara lirihnya.


Hal ini memancing kemarahan Joyceline lagi. “Lo bisa diem aja gak mulutnya?! Diem coba diem! Suara udah kaya gitu, tenaga juga tinggal seuprit aja bisa-bisanya nyerocos mulu!”


Lagi-lagi Estelle terkekeh lemah. Joyceline dan tsundere-nya yang menggemaskan tak pernah gagal membuatnya senang.

__ADS_1


“Tadi gimana di sekolah?” tanya Estelle lagi. Ia tidak ingin mendiamkan teman-temannya yang sudah bersusah payah meluangkan waktu serta repot-repot datang kemari untuk menjenguknya. Sebisa mungkin ia tidak ingin membuat kedatangan mereka menjadi sia-sia.


Joyceline berdecak kesal karena temannya yang satu itu memang sangat susah dibilangin. “Gak ada yang spesial. Lo ngomong mulu, gua jadi males di sini,” ujarnya seraya beranjak dari kursi, bersiap akan pergi.


Estelle panik. “Ah elah kok pergi?”


“Ya lo sih ngomul. Gua kan ke sini niatnya mau liat kondisi lo bukan gangguin lo istirahat. Udah ya gua balik. Besok gua ke sini kalau lo udah mendingan,” pamit Joyceline yang benar-benar pergi setelahnya.


Perhatian Estelle kini seluruhnya tertuju pada Januar yang memang terus memperhatikannya sejak tadi. “Kamu jangan pergi ya, Nu? Temenin aku,” ujarnya dengan jari-jari yang bergerak gelisah.


Januar tersenyum hangat seraya mengangguk setuju. Ia mengambil tangan Estelle yang bergerak gelisah tadi untuk digenggamnya dan diusap lembut guna menenangkan sahabat kesayangannya.


"Mau dinyanyiin boleh?" pinta Estelle yang tentu saja langsung mendapatkan anggukan persetujuan dari Januar. Tangan besar laki-laki itu mengusap pelan dahi Estelle. Yang diusap memejamkan matanya seraya tersenyum tipis, ia bisa merasakan kehangatan hati sahabatnya saat ini.


"I just wanted you to know.


That this is me trying ...


I just wanted you to know.


That this is me trying ...


At least I'm trying ..." Januar mulai bernyanyi lagu kesukaannya, This is me trying - Taylor Swift. Entah kenapa setiap mendengar ataupun menyanyikannya, hanya wajah Estelle selalu terbayang di benaknya.


Estelle membuka matanya dan menatap mata Januar dalam. Dia tahu lagu ini, beberapa kali ia mendengarkannya karena sahabatnya itu cukup sering memutar lagu ini. Entah hanya perasaannya saja atau apa, tetapi Januar seperti selalu berbicara dengannya setiap laki-laki itu menyanyikan lagu ini. Seakan-akan setiap baris lagu yang laki-laki itu nyanyikan  ... memang ditujukan untuknya.


"And it's hard to be at a party when I feel like an open wound.


It's hard to be anywhere these days when all I want is you.


You're a flashback in a film reel on the one screen in my town.


And I just wanted you to know ...


That this is me trying ...."

__ADS_1


Setelah menyelesaikan nyanyiannya, Januar mengecup dalam kening Estelle cukup lama sampai Estelle refleks memejamkan kedua matanya. "Sekarang tidur ya," ujar Januar seraya membetulkan selimut yang dipakai Estelle dan merapihkan rambut Estelle yang sekiranya terlihat mengganggu.


__ADS_2