
"GAK MAU IH!" Estelle menolak untuk dibawa menemui psikiaternya sepulang sekolah dan berakhir kejar-kejaran dengan Januar di ruang kelas.
Estelle berlari menjauhi Januar, lalu bersembunyi di belakang tubuh Joyceline. "Januar! Lo gak liat gua lagi ngapain?!" amuk Joyceline yang sedang piket kelas pada Januar.
Januar menghela napas panjang. "Estelle, we have to go now."
"GAK MAU! SIAPA SURUH MUTUSIN SENDIRI! AKU GAK MAU!" Estelle semakin histeris karena Januar semakin mendekatinya. Joyceline sampai harus menutup kedua telinganya yang berdengung karena teriakan Estelle yang begitu melengking.
"Stelle, please ...." Januar terdengar putus asa ketika mengatur napasnya yang terengah.
Joyceline menghembuskan napasnya kasar. "Stelle, kata gua mending lu nurut sama Januar sekarang daripada nanti diseret langsung sama kak Axelle." Mendengar saran Joyceline, Estelle terdiam sejenak. Benar juga, pikirnya. Karena seberapa keras ia menolak, pada akhirnya ia akan kalah dengan Axelle yang pastinya mendapat backingan dari sang abang, belum lagi ayah Ryan yang ucapannya tidak bisa ia bantah sama sekali. Akhirnya ia pun mengangguk pasrah seraya berjalan enggan menghampiri Januar.
Januar memberi gestur terima kasih pada Joyceline sebelum menggiring Estelle untuk segera pergi dari sana. Ia tidak mau menunda-nunda lagi mumpung Estelle setuju, mengingat gadis itu sangat labil dan bisa merubah pikirannya kapan saja.
Joyceline menggelengkan kepalanya seraya menghela napas lelah begitu keduanya sudah tidak terlihat dari pandangannya. "Tiap hari ada aja, heran gua," gerutunya kembali melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda tadi.
__ADS_1
Januar menoleh beberapa kali saat sedang menyetir untuk memastikan keadaan sahabatnya itu. "Tadi gimana? Lancar?" tanyanya berusaha memecah keheningan yang ada. Estelle menoleh ke arahnya sebentar, lalu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya tadi. Setelah itu Estelle kembali melempar perhatiannya pada kaca jendela mobil.
"Ayah minta kamu untuk nginap. Itu pun kalau kamu diizinin sama ka Axelle dan abang kamu." Teringat perkataan ayahnya kemarin, Januar pun menyampaikan keinginan sang ayah pada Estelle. Gadis itu sempat menoleh ke arahnya sebelum merogoh ponselnya yang ada di dalam tas untuk mengabari kedua kakak laki-lakinya. Dan Januar yang di sebelahnya pun mengerti.
"Jadi, langsung ke rumah ayah, ya?" tanya Januar memastikan.
Estelle lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan yang Januar berikan. Setelah itu hening selama perjalanan menuju ke rumah Januar. Bahkan begitu sampai, Estelle langsung keluar dari mobil tanpa sepatah pun.
Selesai memarkirkan mobil, Januar menghubungi ayahnya untuk memberitahu bahwa anak gadis kesayangan pria tua itu jadi menginap di rumah mereka malam ini. Januar menghembuskan napas panjang saat mendapati Estelle tertidur di sofa ruang tamu.
Dengan hati-hati Januar menyelipkan kedua lengannya di sela-sela lipatan kaki dan leher Estelle, bersiap mengangkat tubuh gadis itu dan berencana memindahkannya ke kamar. Namun baru melangkah beberapa langkah dari sofa, Estelle malah membuka kedua matanya dan menatap lurus ke arah Januar yang kini terdiam membeku seperti maling yang terdicuk saat mencuri.
"Kamu gak mau nurunin aku?" tanya Estelle lagi. Kali ini Januar merespons dengan langsung menurunkan tubuh gadis itu.
Estelle melemparkan pandangannya ke sekitar. Ternyata bukan hanya perasaannya, tapi memang tidak ada pelayan di mansion ini sekarang. "Teteh teteh yang biasa di sini pada ke mana?" Mendengar itu Januar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Harus bagaimana ia menjelaskannya pada gadis itu ya?
"Mm ayah akhir-akhir ini ga pernah pulang. Karena di rumah sana gak terbiasa dilayanin banyak orang, aku minta ayah buat liburin mereka sementara-"
"Alesannya sih katanya pengen sendiri di rumah," potong Ryan seraya tersenyum tipis.
Keduanya lantas menoleh serentak pada Ryan yang baru saja tiba dengan setelan kerjanya. Pria paruh baya itu merentangkan kedua tangannya siap menyambut putri kesayangannya ke dalam pelukan. Ryan memejamkan kedua mata seraya mendekap erat Estelle saat gadis itu sudah berada dalam pelukannya. Ia tahu bagaimana keadaan gadis yang sudah ia anggap sebagai putrinya ini karena mendengar kabarnya dari sang putra kemarin.
"Gimana keadaan kamu sekarang, Sayang?" tanya Ryan pada Estelle yang kini masih berada dalam pelukannya.
__ADS_1
"I'm o-"
"Gak terlalu baik," potong Januar cepat. Laki-laki itu memasang ekspresi wajah pongah kala Estelle melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
"Bohong dia, Yah. Liat aja ... i'm ok kok," kilah Estelle seraya menunjukkan dirinya yang tidak terlihat sakit ataupun terluka pada pria paruh baya tersebut.
Ryan tersenyum lembut melihatnya, lalu mengangguk pelan mengiyakan perkataan putrinya itu. "Ayah percaya sama kamu," ujarnya seraya mengusap lembut puncak kepala Estelle yang tentu saja mengundang decakan kesal dari sang putra.
"Ya deh. Apalah aku ini ... cuma anak pungut," pundung Januar.
"Anu, ngomongnya!" sungut Estelle marah seraya melayangkan pukulan-pukulan kecil di lengan Januar. Ryan tertawa pelan melihat interaksi keduanya,
"Iya kok! Ayah sendiri yang bilang kemarin! Katanya aku bukan anaknya, anaknya dia tuh katanya perempuan di rumah kemungkinan lagi tidur karena kecapean di sekolah." Januar merengut mengingat perkataan sang ayah kemarin di hadapan rekan bisnis pria itu.
Estelle menoleh pada Ryan meminta penjelasan. "Ayah ganti baju dulu," alih pria itu langsung melangkah menjauhi keduanya.
"Kan gak bisa jawab dia," ujar Januar menatap kesal pada punggung lebar sang ayah.
Dahi Estelle masih berkerut. "Gak mungkin deh, Anu. Kamu pasti ngelakuin kesalahan kali sampe ayah ngomong kaya gitu. Jelas-jelas kamu anak kandung ayah, kalian mirip kok!" ujar Estelle tepat sasaran. Kemarin Ryan berkata seperti itu karena memang ia terlambat datang, lumayan jauh dari jam janjian sampai-sampai pria itu enggan mengakuinya. Walaupun rekan bisnis Ryan tahu itu hanya main-main, Januar tetap kesal dan malu saat itu.
"Gak ada! Mana ada! Emang si tua bangka itu aja yang nyebelin."
"Sshhtt, Anu mulutnya!" tegur Estelle seraya mencubit kecil lengan Januar.
"Kalian juga ganti baju, kita makan di luar setelah ini!" teriak Ryan dari depan kamarnya.
"Tuh liat-"
__ADS_1
"Udah. Ayah nyuruh kita ganti baju juga, ayo ayo!" potong Estelle cepat seraya mendorong-dorong Januar ke arah kamar laki-laki itu.