Cheerleader

Cheerleader
9


__ADS_3

Tidak baik menilai segala sesuatu secara sekilas, kamu akan melewatkan nilai tersembuyi yang tidak dapat kamu lihat jika tidak memperhatikannya dengan baik.


***


Estelle berlarian dari ruang kelasnya menuju ruang guru setelah mendapat kabar tentang perkelahian Axelle dengan Adam dari obrolan siswi yang sepertinya satu kelas dengan sang kakak.


“Estelle!” panggil Joyceline tidak dihiraukan sama sekali oleh Estelle.


Tak lama Januar lewat sambil bermain ponsel. “Januar!” panggil Joyceline membuat langkah kaki Januar terhenti. Laki-laki itu berbalik dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


“Kenapa?”


“Lo mau kemana?”


“Ngikutin Estelle mau ke ruang guru. Kata anak-anak kak Axelle ribut sama kak Adam, mereka di sana sekarang.” Setelah menjelaskan seperti itu, Januar berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya.


Joyceline yang penasaran pun mengejar Januar untuk pergi bersama ke sana.


Setibanya di sana, mereka disuguhi pemandangan Estelle yang sedang menangis seraya memegang wajah Axelle yang juga mendapat pukulan dari Adam. “Hiks jelek. Jadi jeleekkk huaaa!” tangis gadis itu. Gio sudah tertawa di sana mendengar tangisan Estelle.


Axelle berusaha menenangkan Estelle. Namun gadis itu menolak dan menatap nyalang ke arah sang kakak. “Kenapa bisa berantem sama kak Adam?! Pasti Kak Axelle duluan ‘kan?!” tuding Estelle langsung.


Axelle diam, dia mengalihkan tatapannya ke arah lain.


Karena tidak mendapat jawaban dari sang kakak, Estelle berbelok arah meminta keterangan lewat Gio. “Kak Gio ada di sana, berarti Kakak tau ‘kan kenapa?” Gio tidak menjawab, tatapannya tertuju pada Axelle yang memberi isyarat peringatan di belakang Estelle.


Sadar dengan arah tatapan Gio yang tidak tertuju padanya, Estelle memutar kepalanya dengan cepat. “Gak usah takut sama kak Axelle. Sekarang kasih tau aku penyebabnya apa.” Kedua alis Estelle hampir menyatu saat melihat Gio begitu ragu-ragu memberitahunya. Sampai akhirnya Estelle menyadari sesuatu.


“Jangan bilang Kakak berantem sama kak Adam karena aku nangis tadi pagi,” tebak Estelle tepat sasaran.


“Jadi bener ya?” tanyanya lagi karena semua pihak yang terlibat mengalihkan pandangan mereka, enggan menatapnya. Suasana berubah sunyi. Januar yang sedari memerhatikan kondisi sang sahabat pun memutuskan untuk nimbrung. Dia harus segera mengalihkan perhatian Estelle secepatnya sebelum kesadaran gadis itu tenggelam terlalu jauh.


“Stelle, mending bawa kak Axelle sama kakak itu ke ruang uks. Takut lukanya infeksi,” ujar Januar yang ternyata berhasil mengalihkan perhatian Estelle.

__ADS_1


Estelle menatap tajam Axelle. “Celine, tolong obatin kak Axelle ya.”


Axelle menatap Estelle hendak protes, namun pengakuan gadis itu cukup membuatnya terdiam. “Aku kesel sama kak Axelle, gak mau liat muka jeleknya. Ayo Kak Gio kita ke uks.” Estelle lebih dulu menyeret Gio ke ruang kesehatan meninggalkan Axelle yang masih terdiam dengan Joyceline di sana.


“Arrgghh Adam sialan!” geraman rendah Axelle membuat Joyceline bergidik ngeri. Selama bersekolah di sini, baru kali ini ia melihat sisi Axelle yang seperti ini. Sedikit menyesal karena tidak menahan Januar untuk tetap di sini menemaninya. Sayangnya laki-laki itu sudah pergi mengekori Estelle dan Gio ke ruang kesehatan.


Axelle berjalan ke arah yang berlawanan, Joyceline yang bingung pun bertanya padanya, “kak mau kemana?” hingga langkah kaki laki-laki itu berhenti sejenak.


“Pulang. Nanti kalau Estelle tanya, bilang aja lo udah ngobatin gua.” Joyceline hanya mengangguk patuh dan memilih untuk kembali ke kelasnya karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.


Di sisi lain, Adam berdiam diri di rooftop sekolah. Pikirannya terus berputar antara perkelahiannya dengan Axelle tadi dan perdebatannya dengan sang ayah tadi malam. Semua itu berpusat pada masalah yang sama; Estelle.


Mendapati fakta bahwa ia dijodohkan saja sudah membuatnya kesal, apalagi saat ia mengetahui bahwa calon istrinya adalah Estelle. Selama beberapa hari terakhir ini sebenarnya ia sesekali memperhatikan Estelle, namun yang ia dapatkan hanya kedekatan Estelle dengan banyak laki-laki di sekitarnya.


Hal ini semakin memperburuk citra Estelle di matanya. Sebenarnya ia sedikit berharap ada hal yang akan ia sukai dari Estelle mengingat gadis itu akan dijodohkan dengannya. Namun sampai sekarang ia tidak menemukan apa pun. Justru ia semakin tidak suka dengan gadis itu.


Awalnya Adam berencana akan mengikuti alur ayah bundanya, dia pikir ini hanya perjodohan bisnis yang sewaktu waktu bisa saja gagal. Namun ternyata hal ini tidak sesederhana itu. Sayangnya saat ia akan memberontak, semuanya sudah terlambat.


“Kak Adam.” Adam menoleh saat namanya dipanggil. Dirinya refleks berdecak kesal saat mendapati Estelle di depan pintu sana dengan kotak obat di tangannya.


Estelle menghampiri namun memilih untuk tidak terlalu dekat dengan Adam karena ia sangat menyadari ketidaksukaan laki-laki itu padanya.


Adam mengangkat sebelah alisnya saat Estelle tiba-tiba membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat sambil meminta maaf. “Maaf gara-gara aku Kakak jadi dipukulin sama kak Axelle. Sekali lagi aku juga minta maaf atas nama kak Axelle.” Gadis itu membungkuk sekali lagi.


Adam mengisyaratkan Estelle untuk tidak membungkuk lagi dan segera pergi dari sana, namun sepertinya Estelle tidak menangkap itu semua. Gadis itu justru melangkah maju mendekati Adam.


“Ini Kak. Dipake ya. I-ini dari ka Axelle, a-aku cuma … aku cuma a-anterin aja. Iya cuma anterin aja. Jadi, kalau gitu aku pergi ya, Kak.” Setelah meletakkan kotak obat di hadapan Adam, Estelle langsung undur diri.


Sebenarnya ia sangat ingin sekali mengobati wajah tampan Adam yang saat ini sedang babak belur. Hanya saja ia tahu diri, ia tidak ingin membuat laki-laki itu semakin membencinya. Jadi, ia memutuskan untuk memberikan kotak obatnya saja.


“Kerja bagus, Estelle. Kerja bagus!” puji Estelle pada diri sendiri begitu ia menutup pintu rooftop.


*

__ADS_1


*


*


“Kak Axelle! Buka pintunya!!! KAA AXELLEEE!!!” Estelle berteriak seraya menggedor-gedor pintu kamar Axelle yang terkunci dari dalam. Di kanan-kiri kakinya sudah ada tas milik Axelle dan kotak obat.


Estelle menghembuskan napas kasar karena Axelle tak kunjung membuka pintu kamarnya. Kesal, Estelle menendang-nendang pintu di hadapannya dengan sekuat tenaga seraya memaki-maki Axelle.


“Kak Axelle nyebelin! Bego! Kakak bego! Dongo! Jelek! Nyusahin! Awas aja kalau sepuluh menit lagi ni pintu kaga dibuka juga. Estelle aduin ke abang biar dicopot sekalian pintunya. KAA AXELLEEEE!!!! GrOOKK HUEK!” Karena terlalu kencang Estelle berteriak, ia hampir saja muntah.


Air matanya sudah berlinang karena merasakan rasa sakit di tenggorokannya. “Hiks sakit,” cicitnya seraya mengusap lehernya pelan.


Ceklek!


Pintu kamar Axelle terbuka. Gadis itu langsung melompat memeluk erat sang kakak. Untungnya Axelle sudah memperkirakan hal ini dan sudah siap sehingga ia tidak sampai terjengkang ke belakang.


“Kakak jelek, ambekan. Estelle kesel pengen gigit!” Dan benar saja, Estelle benar-benar menggigit bahu Axelle hingga laki-laki itu berteriak kesakitan.


“Estelle! Sakit anj-”


Estelle melepas gigitannya dan menatap nyalang sang kakak. Cukup lama gadis itu hanya diam menatap Axelle. Sampai satu kata keluar dari kedua bilah bibir Estelle, “jelek!” Setelah itu tangis gadis itu pecah seketika.


“Huaa kenafa khaka berang hiks tem sama hiks ka Adam. Hiks hiks gara haaa gara akhuuuu.” Tangis Estelle semakin kejer, membuat perkataanya sangat berantakan dan sulit untuk dimengerti. Namun bagi Axelle yang sering mendengar sang adik menangis, semua terdengar dengan sangat jelas di telinganya.


Axelle melepaskan rematan tangan Estelle pada kaosnya dan melingkarkan kedua lengan sang adik pada lehernya, membiarkan Estelle menangis di cerukan lehernya. Tak hanya itu, ia mengusap-usap lembut punggung Estelle, berharap itu akan menenangkan hati sang adik.


Sesekali ia juga meminta maaf dan mencium telinga Estelle.


Setelah Estelle tenang, Axelle menurunkan gadis itu di tempat tidurnya. Dan membawa masuk kotak obat dan tasnya yang sudah dibawakan oleh Estelle untuknya.


“Suho ngomong apa pas kasih tas ini ke kamu?”


Estelle mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Axelle. “Katanya dia nitip tas kak Axelle, terus minta tolong sampein maafnya dia karena ga bisa bawain ke rumah, dia ada urusan katanya.” Axelle mengangguk mengerti. Dalam hati ia mengumpati Suho yang dengan tidak pekanya malah menitipkan tasnya pada sang adik.

__ADS_1


“Kakak kenapa bolos?” tanya Estelle.


“Kamu kan gak mau obatin Kakak. Kesel juga katanya. Ya Kakak pulang lah.” Merasa bersalah setelah mendengar jawaban Axelle, Estelle merentangkan tangannya ingin memeluk Axelle yang tentu dengan senang hati melemparkan dirinya ke pelukan sang adik.


__ADS_2