
Begitu bel istirahat berbunyi, Estelle tak berhenti-hentinya menggerutu kesal karena terpilih sebagai perwakilan kelas untuk melakukan pentas seni saat acara perpisahan kelas dua belas nanti. Untuk ke-sekian kalinya ia melayangkan tatapan tajamnya pada Januar yang masih berbincang akrab dengan wali kelas mereka di depan sana.
Joyceline yang mengerti kekesalan Estelle pun menepuk-nepuk lembut punggung gadis itu, berharap afeksi yang ia berikan tersampaikan dengan baik pada Estelle. "Aku kesel! Coba kalau si Anu gak rekomendasiin aku, aku gak bakal ditunjuk buat wakilin kelas kita. Lagian dajj*l banget yang lain langsung setuju aja!" keluh Estelle sengaja mengeraskan suaranya ketika berbicara, berharap hal ini akan merubah keputusan sang wali kelas ketika melihat keengganannya dalam berpartisipasi.
Namun sayang beribu sayang, keinginan gadis itu tampaknya tidak akan terealisasikan karena wali kelasnya pergi begitu saja setelah selesai berbincang dengan Januar tanpa menggubris atau meliriknya sedikit pun.
"Udahlah. Lagian lo kan tahu kalau anak-anak kelas kita tuh paling males kalau urusan kaya gini, makanya mereka langsung setuju begitu lo dijadiin tumbal sama sahabat perpopokan lo. Toh lo kan tampilnya berdua. Udah biasa juga 'kan duet bareng?" Joyceline mengambil buku tulis milik Estelle yang tergeletak asal di meja mereka untuk mengipasi sang empunya yang masih terbalut rasa marah.
Estelle merengut sebal. "Dasar gubluk! Kita udah lama gak pernah musikan lagi!" amuknya pada Januar begitu laki-laki itu menghampirinya.
Januar yang sudah menerkanya lebih dulu pun berhasil menangkis semua serangan yang Estelle berikan padanya. Joyceline sampai berdecak kagum karena ia berhasil menangkis seluruh pukulan yang diberikan Estelle padanya. "Masih belum puas? Mau lanjut?" tawarnya menantang. Terdengar sangat sombong di telinga Estellle.
Estelle dengan napas terengah pun menarik tangan Januar dan menggigitnya sekencang yang ia bisa sampai laki-laki itu kesusahan melepasnya. Teriakan kesakitan Januar dan teriakan Januar yang meminta ampun tak dihiraukan Estelle demi menuntaskan rasa kesalnya pada laki-laki itu.
Joyceline yang melihat itu semua hanya bisa memijit pangkal hidungnya pelan. "Stelle, jangan sampe gua bilangin abang lo, ya?!"
"Nah! Bener tuh! Aduin aja! Bilangin adeknya berubah jadi kanibal! Arghh!" Januar tak hentinya menggerang kesakitan karena gigitan Estelle semakin kencang dari sebelumnya.
"Stelle, udah. Nanti si Januar berdarah-darah karena lo, lo nya juga nangis," ujar Joyceline mengingatkan. Ajaibnya Estelle langsung melepaskan gigitannya.
Estelle terdiam dengan pandangan yang menatap lurus ke depan. Januar sendiri masih meringis melihat bekas gigitan Estelle di tangannya. Namun perhatiannya langsung teralihkan pada Estelle begitu melihat gadis itu terdiam tenggelam dalam lamunannya.
__ADS_1
Januar menepuk pelan pundak Estelle. "Stelle," panggilnya yang membuat Joyceline ikut mengalihkan perhatiannya pada Estelle.
"Maaf deh. Kalau kamu bener-bener gak mau, aku bisa omongin lagi sama pak-"
"Aku takut banget, Anuuu. Nanti semua orang liatin aku. Kalau misalnya suara aku jadi kaya embe karena gugup gimana?" potong Estelle dengan wajah memelasnya.
Joyceline yang mendengar itu memutar bola matanya. "Gua kira lo kenapa. Santai aja kali, solusinya lo tinggal gak usah gugup nanti. Suara lo gak kaya embe deh. Beres, 'kan?" Berkat perkataannya itu, Joyceline mendapat timpukan botol kosong di kepalanya.
"Sakit anj*ng!" maki Joyceline.
"Bener kok yang dibilang Celine. Kamu nya gak usah gugup. Anggap aja kaya kita lagi nyanyi bareng biasa," saran Januar menambahkan.
Estelle menggelengkan kepalanya. "Gak bisa dibandingin dong. Itu kan cuma iseng-iseng, lagian cuma kita berdua kalau biasanya. Sedangkan ini kan ditampilin di depan banyak orang. Aku malu ... suara aku juga ga sebagus itu buat ditampilin di depan banyak orang." Joyceline menyentil dahi Estelle pelan setelah mendengar perkataan gadis itu tadi.
Mereka tidak sadar jika ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka dari depan pintu ruang kelas ini. "Stelle," panggil orang itu -Adam-. Estelle selaku pemilik nama, Januar, dan Joyceline serempak menoleh ke arah sumber suara.
Estelle mengisyaratkan kedua temannya lewat gerak matanya, bahwa ia harus segera menghampiri Adam saat ini. Dan seolah-olah mengerti dengan apa yang diisyaratkan Estelle, Joyceline dan Januar pun menganggukkan kepalanya.
Setelah mendapat persetujuan dari kedua temannya, Estelle pun berlari cepat menghampiri Adam. "Kenapa, Kak?" tanyanya yang langsung ditarik menjauh oleh Adam dari sana.
"Kak Adam ... ada apa?" tanya Estelle lagi.
__ADS_1
Adam menghembuskan napas panjang sebelum berbicara dengan Estelle. "Stop pissing me off!"
"Aku? Aku bikin Kak Adam marah? Kapan? Kelakuan aku yang mana yang bikin Kak Adam marah?" tanya Estelle beruntun. Gadis itu takut sekali saat mendengar perkataan Adam barusan. Apalagi geraman Adam tadi berhasil menambah keseraman laki-laki itu.
Adam memegang kedua bahu Estelle seraya mengambil napas panjang. Demi apa pun ia sedang berusaha semaksimal mungkin agar tidak kelepasan dan berujung menyakiti Estelle lagi nantinya. "Kamu udah janji buat gak ganjen sama cowo lain, 'kan?" Estelle langsung mengangguk, mengiyakan pertanyaan Adam.
"Terus tadi apa?"
Dahi Estelle sudah sangat mengerut dalam mendengarnya. Ia benar-benar tidak mengerti apa maksud- Ah! Adam cemburu melihat interaksinya dengan Januar tadi? Laki-laki itu cemburu melihat Januar merangkulnya dari samping seperti tadi?!
Estelle menyeringai saat menyadari itu semua. "Kak Adam cemburu ngeliat aku sama Anu?" Adam memincingkan kedua matanya menahan kesal.
"Maaf," ucapan singkat Estelle itu membuat Adam kembali membuka kedua matanya dan menatap dalam kedua mata gadis di depannya.
"Aku sama Anu udah deket dari SD. Dan kami terbiasa kontak fisik kaya tadi. Jadi, agak susah buat menghindari hal yang kaya tadi. Because it has become a habit. Kak Adam bisa ngasih aku sedikit kelonggaran waktu, 'kan?" jelas Estelle panjang lebar dan diakhiri dengan aegyo demi mendapatkan sedikit keringanan dari Adam.
Adam yang mendengar itu semua pun mau tidak mau harus mengalah di sini. Ia tidak boleh egois memaksakan Estelle, 'kan?
Adam pun mengangguk setuju. Ia mengusak lembut puncak kepala milik Estelle seraya tersenyum tipis. "Maaf ya kalau gua kesannya posesif banget. Gua paling gak suka apa yang udah jadi milik gua dipegang-pegang sama orang lain. Gua juga akan berusaha buat ngilangin kejelekan gua ini. Gua gak mau lo tertekan ...." Estelle tersenyum senang mendengarnya.
"Kalau gitu, ayo kita sama-sama berubah jadi lebih baik ke depannya!"
__ADS_1
"Iyaa. Sekarang kita ke kantin?" tawar Adam yang langsung mendapat anggukan semangat dari Estelle. Gadis itu langsung menggenggam tangan Adam dan menariknya ke arah kantin sambil bersenandung senang. Adam sendiri ikut tersenyum senang melihat gadisnya tersenyum lebar seperti itu.