
Perlahan, hatinya yang sekeras batu itu pun akan luluh.
***
Joyceline menatap tajam Estelle yang tengah duduk di hadapannya sambil tersenyum-senyum senang. “Gak usah sok imut, ngapain tengah hari bolong ke rumah gua? Kalau ngajak keluar, gua ogah. Panas!”
Estelle cemberut mendengar perkataan Joyceline. Padahal kan dia belum berbicara apa pun, tapi temannya itu malah langsung menembaknya tepat sasaran. “Aku blom ngomong apa-apa padahal,” cicitnya dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
Joyceline menggeleng heran melihatnya, dia menghembuskan napas panjang sebelum berbicara lagi, “ya udah mo ngapain?”
Kedua mata Estelle langsung berbinar-binar seperti anak anjing saat mendengar perkataan Joyceline. Joyceline yang ditatap seperti itu pun langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian.
Estelle mengambil ponsel milik Joyceline yang tergeletak asal di atas meja dan memasukkan ke dalam kantong plastik hitam bersama dengan ponselnya. Setelah itu ia pergi ke dapur dan menaruhnya di laci atas tempat penyimpanan camilan Joyceline.
“Estelle, jadi gak?!” teriak Joyceline dari ruang tengah. Estelle langsung berlari cepat menghampiri Joyceline.
“Ngapain? Handphone gua mana?” Estelle tidak menjawab dan tersenyum seraya menepuk sling bag-nya. Joyceline yang sudah mengulurkan tangannya pun menatap Estelle sangsi, merasa ada yang janggal dengan temannya itu.
“Ya udah ayo jalan sekarang. Tapi sebelum makan malem kita udah pulang ya. Gua mau lanjut hibernasi lagi.” Estelle hanya mengangguk mengiyakan perkataan Joyceline.
Tempat yang mereka datangi adalah mall. Joyceline mengernyitkan dahinya bingung saat Estelle menariknya memasuki salah satu tempat spa kecantikan yang terkenal cukup mahal biayanya. Dia semakin curiga saat Estelle meminta pelayanan terbaik untuk mereka.
“Tumben. Biasanya gak pernah mau,” ujar Joyceline.
Estelle menunjukkan kartu hitam yang ada di dompetnya. “Waktu itu aku gak bawa kartu ini, kalau yang sebelumnya kan limitnya terbatas udah gitu takut ketauan sama abang kalau aku bolos. Kalau hari ini kan free,” jelas Estelle yang langsung tersenyum senang sesudahnya.
Joyceline hanya mengangguk mengiyakan perkataan temannya itu. Ia tidak mau terlalu banyak berpikir hari ini.
Setelah keluar dari tempat spa kecantikan, Estelle kembali menggiring Joyceline ke salah satu restoran langganannya. “Jam berapa sekarang?” tanya Joyceline membuat Estelle tergagap.
“Jam 4, maybe?” jawabnya tidak yakin.
Joyceline mengangkat sebelah alisnya saat menyadari keraguan Estelle. “Coba dong handphone gua sini!”
__ADS_1
Estelle menggigit bibir bawahnya dan berpura-pura memeriksa tasnya. “Yah, gak kebawa!” ujarnya pura-pura panik.
“Dari tadi lo mencurigakan deh,” kata Joyceline yang semakin yakin dengan instingnya kalau Estelle sedang merencanakan sesuatu di belakangnya.
*
*
*
Estelle menatap Joyceline dengan memelas, dia benar-benar tidak sanggup melakukannya. Saat ini mereka sudah ada di depan kediaman keluarga Harrison. Setelah Joyceline menginterogasi Estelle, terungkap bila gadis itu sengaja menyeretnya kabur dari acara makan malam yang akan diadakan di kediaman gadis itu.
Sayangnya Joyceline tidak bisa mengorek informasi lebih banyak lagi alasan mengapa temannya itu enggan makan malam bersama di kediamannya sendiri.
Estelle terdiam, masih enggan untuk masuk ke dalam. Bisa ia tebak di dalam sana sudah ada Adam dan keluarganya, terbukti dengan beberapa mobil mewah yang tidak dikenalinya terpakir indah di pelataran rumahnya.
“Lo bukan bocah yang lari dari masalah.” Mendengar itu entah kenapa Estelle merasa terdorong untuk membuktikan dirinya. Estelle mengambil napas panjang dan dengan mantap mengambil langkah untuk masuk, dia
“Thank you,” ujar gadis itu pada Joyceline.
Joyceline hanya tersenyum tipis, dia langsung pergi dari sana dengan membawa mobil yang dipinjami oleh Estelle.
Estelle mengambil napas panjang sebelum menuju ruang makan, dia menampar kedua pipinya pelan dan meyakinkan dirinya jika semuanya akan baik-baik saja. Estelle mengangkat kedua sudut bibirnya setinggi mungkin. “Maaf Estelle terlambat.”
Orang pertama yang ia lihat adalah Axelle, sangat jelas terlihat bagaimana khawatir dan marahnya laki-laki itu dari ekspresinya sekarang. Estelle menghembuskan napas panjang karena memikirkan setelah ini ia masih harus bersiap untuk menghadapi kemarahan Axelle nanti.
“Kamu dari mana aja sih? Kan udah tau mau ada Adam ke sini malam ini,” omel sang mommy. Estelle hanya bisa menunduk dalam ketika mendengarnya.
“Gapapa kali, kamu tuh sama anak sensi banget. Yang penting kan Estellenya udah ada di sini. Iya ‘kan, Sayang?” Estelle hanya bisa tersenyum tipis mendengar pembelaan ibunya Adam padanya.
Selama makan malam Estelle hanya tersenyum dan mengiyakan perkataan ibunya Adam, pikirannya benar-benar pecah karena Adam yang terus saja menatap Estelle dengan tajam. Tatapan laki-laki itu membuatnya merasa dikelilingi oleh ribuan pedang yang siap menusuk kapan saja jika dia salah bersikap.
Entah bagaimana ceritanya, saat ini mereka; Estelle dan Adam ditinggal berdua di gazebo kolam renang. Estelle terus menunduk karena tidak berani bertatapan langsung dengan Adam yang saat ini masih menatapnya tajam. “Kak Adam gak nolak perjodohan ini?” tanya Estelle memecah keheningan di antara mereka setelah cukup lama terdiam.
__ADS_1
“Mana bisa.” Mendengar jawaban singkat Adam, Estelle tersenyum kecut.
“Iya ya. Lagian mana mau kak Adam sama cewe kaya aku,” gumamnya sangat pelan namun masih terdengar jelas di telinga Adam. Sepertinya, kata-kata yang pernah ia lontarkan pada Estelle begitu membekas di hati gadis itu. Dan Adam makin dirundung dengan rasa bersalah karenanya.
“Maaf.”
Estelle langsung mengangkat kepalanya lalu menatap Adam dengan kedua mata yang membola karena terkejut. “Kakak gak salah, kenapa minta maaf sama Estelle. Harusnya Estelle yang minta maaf karena udah bikin Kakak kesel, Estelle ngerti kok … pasti Kak Adam risih banget ‘kan sama kelakuan aku. Estelle minta maaf ya, Kak?”
Adam terdiam, tubuhnya membeku saat Estelle tiba-tiba mengulurkan tangannya menyentuh wajahnya yang terluka akibat pukulan Axelle tadi siang. “Ini juga pasti karena aku, ‘kan? Kak Axelle pasti mukulin kakak lagi, ya?” Adam hanya berdehem pelan untuk menjawab Estelle.
Estelle menundukkan kepalanya dalam, Adam bisa mendengar isakan pelan dari gadis di depannya. “Maaf hiks pasti sakit hiks,” isak Estelle membuat Adam bingung harus berbuat apa. Dengan canggung ia menepuk-nepuk pundak Estelle pelan, berharap hal itu akan membantu menenangkan tangis gadis itu.
Dalam hati ia bingung kenapa gadis ini malah menangis, harusnya ia yang menangis karena dipukulin, ‘kan?
“Lo ngapain lagi si Estelle sih? Gak kapok apa gua pukulin?” Keduanya menoleh. Axelle dengan cepat menghampiri Estelle dan mengecek keadaannya. Adam berdecak kesal mendengar tuduhan Axelle padanya.
Estelle sendiri langsung memposisikan diri di antara keduanya, menghadang Axelle untuk tidak memukuli Adam. Sudah cukup mereka bertengkar karenanya. Ia tidak mau lagi ada yang terluka karenanya.
Adam sendiri heran dengan Estelle. Gadis itu berusaha melindunginya? Dengan air mata yang berlinang seperti itu? Apa itu masuk akal?
Axelle menatap sang adik tidak terima. “Yak! Kamu ngebela dia?! Dia udah nyakitin kamu Estelle! Berkali-kali! Dan kamu masih milih buat bela dia daripada Kakak kamu sendiri? Apa itu masuk akal?!” teriaknya.
Bibir Estelle sudah mengerucut mendengar omelan Axelle. Air matanya semakin deras karenanya, namun gadis itu tetap enggan beranjak dari tempatnya. “Awas gak?!” ancam Axelle semakin kesal.
Estelle langsung menghadang Axelle dengan kedua tangan merentang karena melihat gelagat sang kakak seperti hendak memukul seseorang. “Gak boleh berantem depan aku!” Adam tersenyum miring, dia langsung memeluk
Estelle dari belakang. Tak cukup sampai situ, dia mengecup pipi Estelle dan menggigitnya pelan.
Estelle yang diperlakukan seperti itu hanya bisa membeku, tangisnya langsung berhenti. Pipinya sudah terasa panas dan merah sejadi-jadinya. Axelle yang melihat adiknya di perlakukan seperti itu pun sudah siap mengepalkan tangannya emosi apalagi saat melihat ekspresi Adam yang seperti mengejeknya, rasanya ia ingin menonjok kembali wajah tengil Adam saat ini. Jika saja posisinya Adam tidak sedang memeluk Estelle, sudah dipastikan ia akan menendang laki-laki itu dan menenggelamkannya di kolam.
“Adam orang tua kamu mau pulang!” panggil Agatha yang berhasil mencegah peperangan keduanya.
Estelle menghembuskan napas lega saat Adam melepaskannya dan Axelle pergi menyusul sang mommy. “Tadi itu apa?” gumamnya ketika Adam juga sudah meninggalkannya sendiri. Kakinya langsung meluruh ke lantai dan tangannya bergerak menuju dadanya yang berdebar cukup kencang.
__ADS_1