Cheerleader

Cheerleader
37


__ADS_3

Axelle menatap lurus sang adik yang kini tertidur pulas. "Sejak kapan?" tanyanya pada Januar yang memang sudah tiba di kediaman keluarga Harrison.


"Sejak keluarga lo buang dia ke Bandung," jawab Januar santai namun begitu menusuk hati Axelle.


"Gua gak penah-"


"Not you, but your parents." Januar memotong perkataan Axelle seraya menatap tajam laki-laki yang lebih tua darinya itu, membuat Axelle mati kutu tak tahu harus merespons seperti apa. Dirinya sangat menyesal karena tidak memiliki power dan kedudukan apa pun di kerluarganya saat itu hingga ia tidak bisa membantah perintah orang tuanya dan melindungi adik kesayangannya.


Sekarang Axelle mengerti kenapa saat ini Jacob bekerja mati-matian mengukuhkan kedudukannya sebagai ahli waris dari segala asset dan kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Harrison, ia mengerti kenapa abang tertuanya itu terus menyesali kejadian yang telah lama berlalu.


Itu semua karena ini. Meskipun ia tidak tahu pasti bagaimana keadaan Estelle yang sebenarnya saat pria itu di Jerman, tapi insting yang saling terhubung oleh ikatan darah tak pernah salah. Pria itu tahu ada yang disembunyikan oleh adik perempuan mereka, meski begitu pria itu tidak mau memaksa adik perempuan mereka untuk memberitahukan segalanya.


Axelle merasa gagal. Sebagai adik dan juga sebagai seorang kakak. Ia tidak menepati janjinya pada Jacob yang memerintahkannya untuk selalu menjaga dan selalu berada di samping Estelle selama ia tidak bisa berada di samping gadis itu, dan sekarang ia juga gagal sebagai seorang kakak. Bagaimana bisa ia tidak mengetahui kondisi Estelle dan malah menjauhi gadis itu karena egonya?


Januar menghela napas panjang. Dari ekspresi wajah Axelle, ia bisa menebak apa yang ada di pikiran laki-laki itu. "Gua udah bikin janji temu sama psikiater yang biasa nanganin Estelle besok. Untuk sementara lo jangan sampe ninggalin dia, Kak. Kalau bisa jangan biarin dia sendiri ... seenggaknya ada satu orang buat ngawasin dia. Gua gak bisa lama karena gua harus ke kantor ayah sekarang. Kalau ada apa-apa ... kabarin ya, Kak?"


"Ok, thanks ya."


"Ya. Gua pamit, Kak." Sebelum benar-benar pergi, Januar mengecup dahi Estelle singkat dan kali ini Axelle membiarkan kelakuan Januar yang seperti itu.



__ADS_1








"Apa dia sudah makan?"


Jacob yang tidak melepaskan tatapan matanya dari Estelle mulai memberanikan diri untuk menyentuh sisi wajah gadis itu. Permukaan halus yang menyentuh kulitnya sedikit menciptakan rasa haru. "Abang sayang kamu, Axelle juga sayang kamu, semua orang sayang kamu, Stelle ...." Pria itu berucap lirih. Ia sedih memikirkan kondisi adiknya yang seperti ini. Ia tahu jika ia ikut andil menjadi penyebab Estelle cemas seperti ini dan ia menyesali itu.


"Sorry, Bang." Perkataan Axelle itu membuat perhatian Jacob teralih padanya.


Jacob beranjak dan sedikit menjauh dari Estelle. "Nope. Ini salah gua juga yang terlalu fokus sama kedudukan gua," balasnya mengaku salah.


"Terus lo mau gimana kedepannya? Lo gak bisa tinggalin Estelle terus, lo juga harus kasian sama diri lo sendiri. Kalau Estelle tau lo sering ga tidur karena kerjaan, lo kira gimana reaksinya?" Suara Axelle yang lirih semakin naik karena khawatir dengan kondisi Jacob yang sangat-sangat memaksakan dirinya akhir-akhir ini.


"Sshhtt! Lo mau bikin Estelle bangun?" Sontak Jacob menarik Axelle keluar dari kamar Estelle, "ayo kita keluar. Kita lanjut bicarain ini di luar."

__ADS_1


Setelah memastikan pintu kamar Estelle sudah tertutup, Axelle kembali mengutarakan pemikirannya yang selama ini ia pendam, "sekarang gua mau nanya sama lo. Kenapa lo akhirnya setuju sama perjodohan Estelle? Gua tahu seberapa gak setujunya lo waktu itu. Kenapa tiba-tiba berubah pikiran? Kenapa?"


"Karena ini."


Dahi Axelle mengerut dalam mendengarnya. "Maksud lo?"


"Seperti yang lo bilang tadi. Gua akan jarang ada di samping Estelle, bahkan lebih sering ninggalin dia nantinya karena rencana gua. Dan gua udah tahu tentang keadaan Estelle yang kaya gini dari Januar. He told me everything."


"Dan Adam ... dia pernah temuin gua sekali buat minta izin. Dia kekeh pengen perjodohan mereka dilanjutin. Bahkan dia rela ngasihin saham kepemilikan dia di perusahaan bokapnya demi perjodohan mereka."


Axelle berdecih. "Gitu doang."


"Saham itu memang gak seberapa. Gua juga gak langsung setuju gitu aja. But his mother came to see me. Dia bilang gua harus pertimbangin permohonan anaknya. Beliau juga ngasih alasan kenapa Estelle yang dipilih dia buat dijodohin sama anaknya."


"Dan setelah itu lo langsung setuju?" todong Axelle yang sudah siap memuntahkan lahar kekesalannya lagi pada Jacob.


Jacob menggeleng. "Lo tahu 'kan seberapa berharganya Estelle buat gua? Lo pikir gampang buat nerima ini semua?" Ia bersandar pada pintu seraya menggulung lengan kemeja yang dipakainya.


Axelle melipat tangannya dan menatap tajam sang abang. "Terus kenapa akhirnya lo setuju?" tanyanya sedikit frustrasi dengan penjelasan abangnya yang berbelit-belit.


"Karena Estelle ... she said, she loves him. Dia minta izin gua buat tetep lanjutin perjodohan ini," terang Jacob dengan tatapan menerawang, mengingat kembali bagaimana ekspresi sedih adik perempuannya saat ia terang-terangan ingin menemui Elena dan meminta wanita itu untuk membatalkan perjodohan mereka, bagaimana kerasnya gadis itu memohon dan memaksanya untuk mengizinkan hubungan mereka karena katanya gadis itu sangat-sangat mencintai Adam.


Axelle terdiam memikirkan kata-kata yang diucapkan Jacob, lalu kemudian laki-laki itu menggelengkan kepalanya. "Gak. Dari sekian banyaknya orang kenapa harus Adam?! He hurt her a lot!"

__ADS_1


"Kalau itu ... lo tanya sendiri aja sama bocahnya nanti."


__ADS_2