Cheerleader

Cheerleader
22


__ADS_3

Begitu tenang sampai-sampai orang sekitar tidak menyadari badai yang akan menimpa mereka.


***


“Halo Ka Gio!” sapa Estelle ramah pada Gio yang sedang bermain playstation di ruang tengah Suho.


Gio mem-pause permainannya sejenak melihat Estelle menghampirinya dengan senyum riang. “Estelle, kamu sendiri? Dimana Axelle?” tanyanya yang sedikit terkejut dengan kehadiran Estelle di sini tanpa didampingi Axelle. Estelle membalas pertanyaan laki-laki itu dengan gerakan kepalanya.


Dan bertepatan dengan itu, Axelle datang dengan paperbag dan beberapa kantong plastik di kedua tangannya. Di sebelah laki-laki itu ada Suho yang juga membantu membawakan sisanya.


“Kalian beli apa aja?” tanya Gio yang terperangah melihat banyaknya kantong, paperbag, dan kotak makanan yang dibawa keduanya.


Axelle menghembuskan napas panjang saat meletakkan semua itu di atas meja. “Makanan buat si Estelle,” jawabnya singkat.


Estelle hanya menyengir lebar saat tatapan semua orang tertuju padanya. “Bukan cuma buat aku kok, ka Axelle mah ngarang aja.”


Plak!


Estelle menepuk paha Axelle cukup kencang saat akan duduk di sebelah laki-laki itu. Axelle sampai mengaduh kesakitan dibuatnya. “Estelle! Gua bilangin abang. Liat aja nanti.” Estelle memeletkan lidahnya menanggapi ancaman Axelle.


Tidak memperdulikan ocehan Axelle, Estelle mendekatkan dirinya pada Gio. “Estelle mau ikut main, boleh?” pinta gadis itu dengan bola mata yang berbinar-binar seperti anjing kecil. Dan tentu saja Gio tidak bisa menolak perkataan gadis itu setelah melihatnya.


“Cara mainnya gimana?” Setelah itu, Estelle dan Gio asik bermain playstation berdua.


“Eoh! Hajima! YAK!! Hajima hajima hajimaaa!!! HAISH!” Begitulah kira-kira respons Estelle selama bermain playstation dengan Gio. Suho sesekali tersenyum melihat tingkah Estelle yang begitu menggemaskan di matanya. Lain dengan Axelle yang terus mengomeli sang adik untuk tidak berbicara kasar dengan bahasa Korea yang tidak dimengertinya. Sesekali ia bahkan bertanya pada Suho mengenai arti perkataan yang baru ia dengar dari mulut Estelle.


“Estelle jangan dibanting!” omel Axelle.


Kedua mata Estelle membola saat menyadari apa yang dilakukannya. Kepalanya menoleh kaku pada Suho, selaku pemilik playstation yang ia banting tadi. Kedua ujung bibir gadis itu refleks naik sampai kedua matanya menyipit saat bertatapan mata dengan Suho. “Oppa mianhe, heum?” ujarnya seraya mendekati Suho.


Axelle hanya bisa menggerutu kesal dalam hati melihat tingkah Estelle yang sok manis dengan temannya itu.


Drrtt drtt!


Dengan malas Axelle mengambil ponselnya yang masih berada di saku celananya.


From, Jac1: Kalian jangan pulang sebelum gua kasih perintah untuk pulang.


Axelle mengerutkan dahinya melihat pesan masuk dari kakak tertuanya. Setelah memastikan Estelle masih sibuk dengan teman-temannya, Axelle melipir menjauh sampai ke dapur untuk menghubungi Jacob.


“Halo, mak-”

__ADS_1


Belum selesai berbicara, Jacob sudah lebih dulu memotong perkataan Axelle. “Pokoknya kalian jangan pulang sebelum gua kasih perintah! Sama satu lagi, setelah ini lo harus siapin alasan kenapa lo gak langsung bilang ke gua tentang perjodohan Estelle yang terus lanjut tanpa sepengetahuan gua.”


“Tap-“


“Gua tutup dulu,”ujar Jacob yang langsung memutuskan panggilannya sepihak.


Axelle memejamkan kedua matanya erat-erat dengan kedua alis menyatu menahan kesal. “Gak abang, gak adek. Tingkah dua-duanya selalu aja bikin umur gua berkurang satu tahun.”


*


*


*


“Kak, ini kita masih belum boleh pulang nih?” tanya Estelle untuk sekian kalinya.


Saat ini dua bersaudara itu sudah berada di salah satu kamar hotel karena belum juga mendapat perintah dari Jacob untuk pulang. Dan Estelle sudah merengek pulang pada Axelle sejak beberapa jam yang lalu.


Axelle yang sejak tadi mendekap Estelle dari belakang pun memperlihatkan layar ponselnya pada sang adik. “Liat, komandan belum kasih aba-aba …,” terang laki-laki itu untuk sekian kalinya.


Estelle lagi-lagi menghembuskan napas kasar. “Gak bisa tidur karena gak ada Chimmy,” gerutunya. Kedua tangannya bergerak seolah-olah sedang memencet-mencet boneka kesayangannya itu.


“Beda loh.”


“Apanya yang beda sih, hm?” Axelle mencium puncak kepala Estelle gemas.


Bibir Estelle maju beberapa senti. “Pokoknya beda,” tukas Estelle enggan dibantah.


“Ya udah kalau gitu.” Setelah berkata seperti itu, Axelle kembali memainkan game di ponselnya.


Estelle merengut kesal dalam dekapan Axelle. “Ish sebel,” gerutunya sangat pelan namun tetap terdengar oleh Axelle.


“Ya tadi katanya gak mau dibeliin yang baru. Kamu tuh maunya gimana?” Karena gemas, Axelle sedikit menundukkan kepalanya dan menggigit bahu Estelle. Yang digigit tentu saja berteriak kesakitan, ia bahkan refleks menyikut perut Axelle sampai terdengar bunyi buk.


“Sakit, Estelle!” omel Axelle.


“Bodo amat!” balas Estelle yang dengan santainya semakin menekan tubuhnya ke belakang. Axelle yang tidak siap pun hampir terjengkang akibat dorongan kuat sang adik.


“Bilangin abang, liat aja ntar,” ancam Axelle.


“Bodo!”

__ADS_1


“Yee sama kakaknya si bodo-bodo gitu … jadi bodoh beneran baru tau rasa!”


Yang aneh dari kedua orang tersebut adalah meskipun mulut mereka saling serang, tubuh mereka tetap seperti semula, menempel seperti permet karet.


“Kalau ntar aku bodo beneran, berarti salah Kak Axelle.”


Axelle menunduk untuk melihat wajah Estelle. “Enak aja kamu! Kamu yang bodoh karena gak mau belajar, kok malah nyalahin kakaknya,” balasnya tidak terima.


“Ya ‘kan Kak Axelle yang nyumpahin tadi.” Estelle sudah memasang wajah merengutnya. Ia benar-benar sudah mengantuk, tapi ia tidak bisa tidur karena tidak ada boneka kesayangannya di sini.


Axelle yang mengerti kalau adiknya uring-uringan karena sudah sangat mengantuk pun mengangkat tubuh Estelle dalam gendongannya. Laki-laki itu bolak-balik di dalam kamar seraya menggendong dan memukpuk bokong sang adik.


Tak hanya itu, ia juga bersenandung dan mengusap-usap punggung Estelle. Sesekali ia mencium pundak Estelle yang saat ini sudah menenggelamkan wajahnya di cerukan leher Axelle.


Karena cukup lama Estelle tidak bersuara lagi dan bahkan napas gadis itu sudah terdengar teratur, Axelle berniat untuk menurunkan Estelle dari dalam gendongannya dan membaringkan gadis itu di kasur dengan sangat hati-hati, takut gadis itu terbangun.


Ponsel Axelle yang tergeletak asal di lantai bergetar, cepat-cepat ia mengangkat telepon dari Jacob. Ia juga menjauh dari Estelle, takut suaranya akan membuat Estelle terbangun lagi. “Halo,” sapanya berbisik sambil menoleh ke arah Estelle, memastikan adiknya itu tidak terganggu dengan suaranya.


“Estelle udah tidur?”


Axelle hanya berdehem pelan untuk menjawab pertanyaan sang abang.


“Sorry gua baru ngabarin sekarang. Tadi gua kira, gua bakal berdebat sama bonyok doang perihal perjodohan Estelle. Tapi suprisely, temen lo dateng ke rumah malem ini. Dia dengan konyolnya bilang mau tunangan sama Estelle setelah dia lulus nanti.”


“Apa?!” Axelle memekik kencang saking terkejutnya. Refleks ia langsung menoleh ke arah Estelle yang untungnya tidak terganggu sama sekali.


Sungguh ia merasa terkejut dengan informasi yang dikatakan sang abang. Bagaimana bisa, Adam? Pikirnya masih tidak menyangka.


“Gua gak akan minta maaf karena udah mukul temen baik lo itu tadi.”


Axelle mengernyit saat mendengar perkataan sinis Jacob. “Bang, berapa kali lo mukul dia? Sekali? Bangs*t! Harusnya gua ada di sana tadi,” gerutunya kesal. Padahal Adam bertemu dengannya bahkan juga Estelle tadi siang, tapi temannya itu tidak mengatakan apa pun pada mereka berdua.


Di seberang sana Jacob sudah menjauhkan ponsel dari telinganya seraya mengangkat sebelah alisnya bingung saat mendengar respons Axelle yang sangat berbeda dengan bayangannya.


“Terus-terus gimana itu keputusannya?” tanya Axelle yang penasaran dengan hasil perdebatan antara Jacob dan kedua orang tuanya.


“Mereka berdua sih setuju-setuju aja, tapi gua gak. Jadi hasilnya bakal ada di tangan si bontot. Masalahnya, adek lo itu terlalu gak bisa ngelawan kalau nyokap lo udah ngegrepe-***** dan ngasih harapan kaya sebelum-sebelumnya.”


Axelle memutar bola matanya. “Dia adek lo juga, Bang. Kalau masalah nyokap, itu urusan gua. Kalau dia masih gak mau kerja sama … gua sendiri yang bakal mutusin hubungan ibu-anak ini.” Setelah itu langsung hening.


Jacob sendiri bingung harus merespons seperti apa. Yang ia tahu, Axelle benar-benar terdengar serius dengan perkataannya barusan dan Jacob tahu senekat apa adik laki-lakinya itu jika sudah menyangkut perihal adik bungsu mereka.

__ADS_1


__ADS_2