Cheerleader

Cheerleader
18


__ADS_3

Ada beberapa pertanyaan yang memang tidak memiliki jawaban yang pasti.


***


Axelle dan Estelle sedang sarapan bersama dengan kedua orang tuanya. Tidak ada satu pun dari keempatnya yang membuka suara sampai akhirnya terdengar suara klakson mobil dari luar.


Itu pasti Anu, tebak Estelle yang langsung memasukkan seluruh sisa potongan roti ke dalam mulutnya. Dia meneguk sedikit demi sedikit susunya agar roti yang ada di mulutnya cepat hancur.


“Estelle berangkat,” pamit Estelle buru-buru menghabiskan susu di gelasnya. Axelle sudah mengoceh, memperingati gadis itu.


“Kamu urus anak itu, jangan sampe dia bikin malu keluarga kita nanti di hadapan keluarga Rothschild.” Perkataan daddy-nya membuat Axelle refleks menatap pria yang merupakan ayah kandungnya itu tajam.


Dengan dahi yang berkerut tidak terima, Axelle memprotes perkataan Ello, “excuse me, Dad. What did you say?” Salah satu tangan laki-laki itu sudah terkepal kuat siap melemparkan pukulan pada sang daddy.


Ello mengangkat sebelah alisnya bingung. Ia merasa tidak ada yang salah dengan perkataannya. “Urus Estelle? Ada yang salah?” tanyanya yang langsung mendapat decakan kesal Axelle.


Laki-laki itu langsung menyudahi kegiatan makannya dengan membanting alat makannya cukup kencang. Agatha yang sedari tadi diam pun menggenggam kuat tangan Axelle, memperingatkan laki-laki itu untuk tetap diam. Axelle menatap tajam sang mommy dan menghempaskan tangan wanita itu.


Tanpa berpamitan dengan keduanya, Axelle pergi dari sana dengan amarah yang meletup-letup.


*


*


*


Estelle berlarian mengejar Januar yang berlari menjauh sambil terus meledeknya. “Pipi bakpau pipi bakpau!” Ini semua karena Estelle menceritakan perihal makan malam dengan keluarga Adam sebelumnya. Kalau saja ia tidak bercerita dan mengeluh tentang Adam yang menggigit pipinya pada Januar, sesalnya dalam hati.


“Anu diem gak?! Aku bilangin ayah Ryan, ya?!” Estelle sudah melempari buku di tangannya ke arah Januar saking kesalnya.


Januar mengambil dua buku yang mengenai tubuhnya itu dengan santai. Oh ayolah, lemparan sahabatnya itu tidak menimbulkan rasa sakit apa pun di tubuhnya. “Bilang aja. Nanti aku tinggal ceritain-”


“Anuuuu!!!” Estelle berteriak dan  kembali lari sekencang yang ia bisa untuk bisa menghampiri Januar.


“Pipi bakpau pipi bakpau! Siapa yang suka bakpau bisa gigit! Pipi bakpau!” teriak Januar sambil berlarian menghindari amukan sang sahabat.

__ADS_1


Joyceline menggeleng heran saat keduanya berlarian melewati kelasnya. “Masih pagi padahal,” gerutunya.


Sampai akhirnya, Estelle tersungkur cukup keras karena tersandung kakinya sendiri. Semua orang yang melihat itu pun ikut meringis ngilu. Januar sampai putar balik untuk membantu sahabatnya itu.


“Maaf maaf aduh dagu kamu!” ujar Januar panik dan langsung membantu Estelle untuk bangun.


Kedua mata Estelle sudah berkaca-kaca karena rasa sakit, panas, perih di dagunya yang bercampur jadi satu. Ia sangat-sangat ingin menangis, tapi karena banyaknya orang yang memperhatikan, membuat gadis itu menahan tangisnya mati-matian.


Januar sendiri panik memeriksa anggota tubuh Estelle. Laki-laki itu langsung berbalik dan merendahkan tubuhnya. “Naik, kita ke UKS!” perintahnya yang langsung dituruti oleh Estelle.


Begitu sampai di ruang kesehatan, Estelle menundukkan kepalanya malu karena lagi-lagi menghadap dokter tampan itu. Padahal terakhir kali, pria itu sudah mengingatkannya agar tidak kembali lagi ke sana bulan ini.


“Kali ini dengkul, dagu, sama telapak tangan ya,” ujar pria itu.


Estelle hanya bisa menyengir lebar mendengar perkataan dingin pria itu. Meski begitu, Estelle tahu kalau dokter muda nan tampan itu peduli padanya. Buktinya jelas, meski pria itu selalu menggerutu tetapi ia begitu telaten setiap mengobati lukanya.


Canggung dan merasa gugup karena terlalu hening, Estelle pun membuka suara, “dokter kemana aja?” Dokter tampan itu langsung menatap Estelle saat mendengar pertanyaan gadis itu tadi.


“Berarti selama saya tidak ada, kamu pun sering masuk ke sini ya?” tanya dokter itu membuat Estelle tertawa canggung. Dalam hati ia menyesali kebodohannya.


Karena Januar sudah lebih dulu masuk ke kelas setelah mengantarnya ke ruang kesehatan tadi, Estelle terpaksa harus kembali sendiri ke ruang kelas dengan langkah kaki yang terseret-seret.


Sebenarnya kakinya tidak terkilir, namun di bagian lutut kakinya terluka dan terasa tidak nyaman saat dipakai berjalan. Sesekali ia meringis saat rok yang dipakainya menggesek luka yang ada di lututnya. Seharusnya ia menurut saja saat dokter tampan tadi menawarkan plester yang cukup besar untuk lukanya.


Estelle langsung mengalihkan pandangannya saat melihat Adam keluar dari toilet. Gadis itu menunduk dalam dan berpura-pura tidak menyadari eksistensi Adam yang kini sudah menyadari keberadaannya.


“Estelle?” ujar laki-laki itu terdengar memastikan.


Estelle mau tidak mau harus mengangkat kepalanya dan memasang senyum lebar di wajahnya. “Eh, Kak Adam!” serunya pura-pura terkejut. Setelah itu Estelle diam karena tidak tahu harus berbicara apa.


Cukup lama keduanya saling diam sampai Adam menyadari luka di dagu gadis itu. Tak hanya itu ia bisa melihat balutan kain kasa di kedua tangan Estelle.


“Kenapa?” tanya Adam yang mengundang kerutan bingung di dahi Estelle.


“Apanya yang kenapa, Kak?” tanya gadis itu benar-benar tidak mengerti maksud perkataan Adam.

__ADS_1


Adam menghela napas panjang. “Tangan sama dagu lo kenapa?”


“Jatoh hehe.” Estelle tertawa canggung untuk menghilangkan rasa gugupnya karena Adam yang seperti sedang menginterogasinya saat ini.


Kali ini laki-laki itu menghembuskan napas kasar setelah mendengar jawaban jawaban yang keluar dari mulut Estelle. “Ayo gua anter,” ujarnya yang berjalan lebih dulu di depan.


Estelle mengerjapkan kedua matanya terkejut. Mengantarnya? Seorang Adam ingin mengantarnya ke kelas?


“Ayo jalan! Kenapa lo diem aja?” Adam berbalik begitu sadar Estelle tidak mengikutinya.


“Eh iya, Kak.” Estelle langsung buru-buru menyeret kakinya untuk mengejar Adam. Sesekali ia mengaduh tanpa suara saat rok yang dipakainya begesekan langsung dengan permukaan kulitnya yang terluka.


Adam menatap Estelle dengan tidak suka. “Bisa gak lo jangan bikin gua kesel sekali aja?!” Perkataan ketus laki-laki itu membuat Estelle membeku di tempat. Gadis itu benar-benar terkejut dan bingung. Ia salah apa lagi kali ini?


Tanpa babibu lagi, Adam menghampiri Estelle dan mengangkat tubuh gadis itu dalam bopongannya. “Kak!” pekik Estelle yang lagi-lagi terkejut dengan perilaku Adam yang tidak biasanya.


Kedua mata Estelle membola saking terkejutnya. Jantung gadis itu berdetak sangat kencang dan wajahnya memerah sampai ke telinga. “K-kak a-aku bisa jalan sen-sendiri,” ujar Estelle berusaha untuk turun. Demi apa pun posisi ini sangat beresiko untuk jantungnya.


“Shut up!”


Estelle langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan tidak protes lagi. Padahal jarak ruang kesehatan tidak terlalu jauh dari ruang kelasnya, namun waktu jadi terasa berjalan begitu lambat sejak ia berada di bopongan Adam. Dan ini benar-benar tidak baik untuk fungsi jantungnya.


Damn! Maki Estelle dalam hati. Sial untuknya karena pintu ruang kelasnya sedang terbuka lebar ketika mereka sampai di sana. Jadilah ia menjadi tontonan teman-teman sekelasnya. Jangan lupa dengan guru yang sedang mengisi jam pelajaran saat ini.


Begitu Adam menurunkannya, Estelle langsung berterima kasih pada laki-laki itu. Lalu segera menghampiri gurunya untuk memberikan penjelasan kenapa ia telat masuk ke kelas.


“Duduklah, saya harus melanjutkan penjelasan saya.” Estelle hanya mengangguk patuh dan kembali menyeret kedua kakinya ke kursinya.


Joyceline menyodorkan sobekan kertas kecil pada Estelle begitu gadis itu duduk. ‘How can?’


Estelle melirik ke arah gurunya yang sedang menerangkan di depan sana lalu mengeluarkan alat tulisnya. Alih-alih membuka bukunya, Estelle lebih dulu memberi jawaban pada Joyceline di balik tulisan gadis itu tadi.


‘Destiny?’


Joyceline sampai mengangkat sebelah alisnya melihat jawaban yang dituliskan oleh Estelle. Gadis itu juga tidak memberi penjelasan lebih lagi dan hanya melemparkan senyum yang menurut Joyceline konyol sebagai jawaban.

__ADS_1


Setelah itu keduanya kembali fokus dengan penjelasan guru di depan. Berbeda dengan Januar yang justru malah tak kunjung melepaskan pandangannya dari Estelle sejak kehadiran gadis itu tadi.


__ADS_2