
"Sayang, gimana kondisi kamu sekarang? Udah mendingan?" tanya Elena seraya menggenggam tangan Estelle lembut.
Estelle tersenyum mendengarnya. "Udah kok, Bun."
"Jacob sama Axelle pergi ke mana? Kamu kok ditinggal sendiri di sini?" tanya Elena lagi.
"Abang ngantor Bun kaya biasa. Kalau ka Axelle ke sekolah."
"Kok-"
"Bunda ... jangan ditanyain terus Estelle-nya." Adam langsung menyela sang bunda yang berniat melontarkan pertanyaan lagi pada Estelle. Gadis itu hanya tersenyum maklum dan tidak protes sama sekali. Dan karena itulah Adam semakin gemas untuk mencecar gadis itu untuk tidak memaklumi perilaku semua orang terhadapnya.
"Gapapa kok, Kak. Aku ngerti Bunda khawatir ... wajar kok."
Adam memutar bola matanya. Tanpa menatap ke arah Estelle, laki-laki itu merespons, "serah lo deh."
Dan karena sikapnya yang seperti itu, Adam langsung mendapat peringatan berupa tatapan tajam dari sang bunda. Laki-laki itu tampak biasa saja meski dalam hati ia juga takut bundanya benar-benar marah padanya begitu tahu jika selama ini ia tidak pernah memperlakukan Estelle dengan baik.
"Sayang ... maafin Bunda ya. Gara-gara kita cobain semua es krim yang ada di kedai itu, kamu jadi sakit kaya gini." Elena mengusap lembut punggung tangan Estelle yang tidak diinfus.
Estelle menggeleng seraya tersenyum lebar. "Bunda jangan merasa bersalah. Justru Estelle yang harusnya bilang makasih sama Bunda. Berkat Bunda ... Estelle seneng banget hari itu. Bahkan sampe sekarang rasa seneng, bahagia itu masih ada. Makasih, Bunda ...," ujar Estelle balas menggenggam lembut tangan Elena.
"Lagian ya, Bun ... aku sakit bukan karena es krim kok. Ini semua salah aku yang emang selalu nunda waktu makan, padahal aku tahu kalau aku punya penyakit-" Estelle menepuk pelan perutnya seraya tersenyum lebar, malas menyebutkan nama penyakitnya. Estelle merasa malu menyebutkannya karena sering mendapatkan ejekan dari Januar jika penyakitnya adalah penyakit orang susah.
"Kalau begitu kamu udah sarapan? Makanan udah bisa masuk ke perut kamu?" tanya Elena lagi. Nada khawatir yang terdengar jelas di setiap perkataannya, membuat Estelle tidak bisa menahan haru dan rasa bahagianya karena akhirnya ia mendapatkan kehangatan seorang ibu lagi. Karena itu pula senyum lebar tidak pernah luntur dari wajah Estelle sejak tadi.
Setelah berbincang cukup lama, Elena akhirnya memutuskan untuk pamit karena ia memiliki janji temu dengan orang lain yang tidak bisa ia batalkan. Wanita itu sampai meminta maaf berkali-kali karena tidak bisa menemani Estelle lebih lama. Sebagai gantinya ia mengutus sang putra untuk menemani calon mantunya itu dan meminta sopir suaminya untuk menjemputnya dari sana.
__ADS_1
"Apa?" tanya Adam memecah keheningan karena Estelle terus melirik ke arahnya.
Estelle memejamkan matanya takut. "Kak, jangan galak-galak ... aku lagi sakit," cicitnya yang berusaha menatap langsung ke arah Adam.
Adam sendiri mengangkat sebelah alisnya bingung. Dia tidak berbuat apa pun. Bahkan nada bicaranya tidak naik sedikit pun dari nada bicaranya yang biasa. Namun saat mengingat perlakuannya yang selalu kasar pada gadis itu, membuat Adam sedikit mengerti.
Laki-laki itu menghembuskan napas panjang sebelum mengambil langkah untuk mempersempit jarak di antara mereka. "Kenapa? Maaf gua gak bermaksud kasar. Gua emang begini, makanya temen gua cuma abang lo sama Gio. Gua minta maaf karena selama ini kasar dan jahat sama lo."
"Estelle juga minta maaf ... selalu bikin ka Adam kesel dan gak nyaman. Maaf Estelle ganjen," lirih Estelle seraya memalingkan wajahnya ke arah lain karena tidak berani bertatapan terlalu lama dengan Adam.
Adam mengerutkan dahinya dalam, merasa sedikit kesal dan frustrasi karena bingung harus bagaimana menghilangkan rasa takut Estelle padanya.
"Gua semenakutkan itu sampe lo gak mau liat muka gua? Gua tahu apa yang gua lakuin ke elo selama ini emang salah. Gua juga udah berusaha untuk gak bersikap kasar lagi belakangan ini, tapi lo masih aja takut sama gua? Gua harus apa biar lo bener-bener maafin gua dan gak ketakutan lagi sama gua?" Adam menjaga nada bicaranya sampai akhir meski Adam sendiri tengah dilingkupi amarahnya kali ini.
Estelle menoleh kembali ke arah Adam, namun masih tidak berani menatap langsung ke mata Adam. "Maaf ... Estelle udah maafin kak Adam kok. Estelle cuma takut penyakit ganjen Estelle kambuh, kak Adam ganteng banget soalnya." Sadar dirinya keceplosan, Estelle dengan kedua mata yang membola langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya.
"HEH!" Adam melotot garang melihat selang infus yang bergoyang agresif karena gerakan tangan Estelle yang begitu tiba-tiba tadi.
"Maaf ...," cicit Estelle dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lo bisa diem gak? Kalau darah lo naik ke selang gimana? Mikir ga? Jangan bikin gua khawatir!" Adam meraih tangan Estelle yang terhubung dengan infusan dan memeriksanya dengan hati-hati.
Estelle yang tadinya memincingkan matanya karena takut kini mengerjap lucu karena terkejut dengan perilaku Adam yang sangat tidak disangka-sangka. Ia pikir, Adam marah padanya karena tanpa sadar menggoda laki-laki itu tadi, tapi rupanya laki-laki itu khawatir padanya.
"Dan soal penyakit ganjen lo ... gua gak akan marah asal lo ganjennya ke gua doang."
Kedua mata Estelle lagi-lagi mengerjap lucu karena terkejut dengan perkataan Adam tadi. Takut salah menafsirkan, Estelle pun memberanikan diri untuk menanyakannya langsung pada Adam. "Maksudnya, Kak? Estelle takut salah paham dan malah berakhir Kak Adam makin benci sama Estelle."
__ADS_1
"Gua gak pernah benci lo. Gua cuma kesel sama tingkah lo yang centil ke semua cowo."
"Aku? Eng-"
"You did," tekan Adam yang berani Estelle bantah.
"Lo pernah tanya 'kan kenapa gua marah-marah terus? Gua mau terang-terangan sama lo karena sebentar lagi kita tunangan. Gua gak suka lo ganjen ke semua cowo. Intinya lo kalau mau ganjen ke gua. Jangan ganjen ke cowo lain." Estelle mengangguk paham. Pipinya menghangat karena memikirkan Adam marah padanya selama ini karena merasa cemburu. Itu artinya laki-laki itu memiliki rasa ketertarikan padanya walau itu hanya sedikit.
Bolehkah ia berharap? pikir Estelle.
"Handphone kamu di-silent?" tanya Adam tanpa melihat ke arah Estelle sedikit pun. Laki-laki itu fokus ke arah layar ponselnya dan sibuk mengetik sesuatu di sana.
Pertanyaan Adam tadi membuat Estelle refleks menoleh ke arah ponselnya. Gadis itu mencoba menggapai ponselnya yang ada di atas nakas untuk memastikan jawaban atas pertanyaan Adam tadi.
Karena tak kunjung mendapat jawaban dari mulut Estelle, Adam pun kembali mengalihkan seluruh perhatiannnya pada gadis yang kelak akan menjadi tunangannya itu. Ia berdecak kesal melihat bagaimana susahnya Estelle untuk menggapai ponselnya sendiri tanpa berniat meminta bantuan padanya.
Dengan cepat Adam memajukan tubuhnya untuk mengambil ponsel Estelle yang berada di seberang sana, tanpa menghiraukan keterkejutan Estelle di bawah tubuhnya. Gadis itu sampai menahan napasnya kala dada bidang Adam hampir mengenai wajahnya.
"Nih, lain kali dibuka mulutnya buat minta tolong. Ga usah nyusahin diri sendiri." Estelle hanya bisa mengangguk kaku mendengar perkataan Adam.
"Si Axelle ribut di grup pas tau gua di sini dan lo gak angkat telepon dia dari tadi. Dia sampe nuduh gua macem-macemin lo. Nih liat!" Adam menunjukkan layar ponselnya pada Estelle, memperlihatkan room chat grup yang berisikan dia, Axelle, Gio, dan Suho.
Estelle meringis tidak enak. "Maaf ya, Kak ...," lirihnya merasa sangat bersalah.
Adam mengusak kepala Estelle kaku, ia tidak tahu harus bagaimana saat melihat kedua mata Estelle berkaca-kaca merasa bersalah padanya. Padahal ia tidak bermaksud menyalahkan Estelle sama sekali, ia hanya ingin menunjukkan bagaimana posesifnya Axelle terhadap gadis itu.
"Kak ... maaf-"
__ADS_1
Adam langsung memotong perkataan Estelle saat suara gadis itu terdengar begetar di telinganya. Demi apa pun jangan menangis karenanya! "Don't be guilty with me, please ...," ujar Adam dengan nada bicara yang begitu lembut.
"Gua gak bermaksud nyalahin lo, gua cuma pengen lo tau kalau Axelle tuh terlalu lebay kalau menyangkut masalah lo. Jadi, please ... jangan merasa bersalah. Ok?" Estelle hanya menganggukkan kepalanya mengerti, gadis itu dengan cepat menghapus air mata yang sudah ada di ujung matanya.