Cheerleader

Cheerleader
6


__ADS_3

Kita memang dekat, tapi kamu harus mengutamakan dirimu terlebih dahulu dibanding aku.


***


Ryan menghembuskan napas kasar melihat gadis yang sudah ia anggap seperti putri kandungnya itu memaksa untuk membantu menyiapkan makanan kesukaan putranya yang saat ini masih dalam perjalanan menuju ke sini.


“Itu biar chef yang urus, Sayang. Kalau kamu yang kerjain semuanya buat apa Ayah bayar mereka?” ujar Ryan berusaha membujuk anak gadisnya untuk berhenti menyentuh peralatan dapur.


Estelle menggeleng tegas. “Ini tuh spesial. Lagian Estelle juga udah janji sama anak Ayah buat masakin ini semua.”


Ryan kembali menghembuskan napas kasar untuk kedua kalinya. Kini perhatiannya teralihkan pada Axelle yang hanya diam memperhatikan Estelle sejak tadi. “Dia gak akan denger meskipun saya yang ngomong,” ujar Axelle yang ternyata sadar sedang diperhatikan oleh Ryan.


“Appa!” teriak Estelle memanggil Ryan.


“Eooh!” balas Ryan.


“Emangnya si Anu udah sampai mana?”


“Gak tau, terakhir ngehubungin katanya masih di tol.”


“Hello everyone!” teriak seseorang dari ruang tamu.


Estelle yang kebetulan sudah selesai dengan acara memasaknya pun langsung tergesa-gesa berlari ke ruang tamu. Axelle sampai mengejar Estelle, mengingat tangan dan kaki gadis itu sedang terluka.


Ryan hanya bisa menggelengkan kepala melihat betapa semangatnya Estelle menyambut putranya.


Begitu melihat sang sahabat, Estelle langsung berlari dengan tangan terbuka bersiap untuk melompat ke pelukan laki-laki yang selalu menemaninya saat di Bandung. Dengan sigap, Januar menangkap Estelle dalam pelukannya, ia tersenyum senang mendengar betapa semangatnya gadis itu.


“Ih kangen bangeett!!”


“Ok ok, kamu turun dulu. Berat ini karna harus gendong depan belakang.” Estelle hanya tertawa mendengar keluhan Januar. Setelah itu Januar menurunkan tubuh Estelle dari gendongannya.


Januar mengerutkan dahinya tidak suka saat melihat keadaan tangan Estelle yang berbalut perban. “Tangan kamu-”


Walaupun sempat tertegun saat Januar tiba-tiba menarik tangannya, Estelle langsung menarik kembali tangannya dan menutupi perbannya dengan cepat. “Gwenchana,” ucapnya tidak ingin membuat Januar khawatir.


“Sebelum ke sini, dia gak sengaja ngelukain tangannya. Gua dah ngelarang dia buat ke sini hari ini tapi dia tetep kekeh. Belom lagi karna harus masak-”


“Kak Axelle,” potong Estelle memeringatkan.

__ADS_1


Clap!


“Semuanya, kita langsung pindah ke ruang makan. Estelle udah capek-capek masak menu khusus buat kita.”


Estelle menghembuskan napas lega, ingatkan ia untuk berterima kasih pada ayah Ryan-nya nanti.


Walaupun sempat canggung di awal, syukurnya mereka bisa menghabiskan makanan dan bercengkrama dengan akrab berkat ocehan Estelle dan Ryan yang juga membantu mencairkan suasana tegang di antara Axelle dan Januar.


Selesai makan, Estelle langsung menggeret Januar menjauh dari Axelle dan Ryan.


“Apasih, masa digeret-geret kaya kambing gini aku!” protes Januar yang diabaikan begitu saja oleh Estelle.


“Kamu masih kontakan sama-”


“Dia gak pernah menghubungiku kecuali dia membutuhkanku, kamu sendiri tau itu, ‘kan?” sambar Januar yang langsung mengerti apa yang Estelle maksud.


Estelle memainkan jari-jari tangannya gelisah. “Aku tau, aku hanya khawatir …,” lirihnya.


Januar menghembuskan napas panjang melihat gelagat sahabatnya itu. Berusaha menenangkan, ia menarik Estelle ke dalam pelukannya dan mengusap-usap kepala gadis itu dengan lembut.


“Tenang aja, dia gak bakal mati semudah itu kok.”


“Ya emang gak lucu. Lagi siapa yang bilang kalau aku lagi ngelawak?” balas Januar yang semakin ingin menggoda Estelle saat melihat ekspresi kesal gadis itu.


“Ish, nyebelin! Aku bilangin ayah nanti!” Bibir Estelle sudah mengerucut, itu artinya dia benar-benar kesal sekarang.


“Dih, ngaduan! Dasar kang ngadu!”


“Ayaahhhh tabok Anu, Yaahhh!” teriak Estelle sangat kencang. Januar sampai menutup telinganya saking kencangnya suara Estelle.


“Berisik bat kaya toa!” Januar membekap mulut Estelle dan sayangnya langsung terkena gigitan gadis itu.


“Gelo sia!”


“Rasain, wle!” Estelle memeletkan lidahnya dan langsung lari menjauh sambil tertawa senang.


*


*

__ADS_1


*


Sepulang dari mansion Ryan, keduanya langsung berhadapan dengan Jacob yang rupanya sudah menunggu di sofa ruang tamu. Agar tidak terkena amukan dari abang tertua, Estelle langsung mengambil inisiatif duduk di pangkuan Jacob.


“Abang, Estelle mau cerita.” Estelle mengatakan hal itu dengan nada yang diimut-imutkan, berharap dapat mengalihkan atau mungkin bisa membuat abangnya lupa untuk memarahinya. Jacob sendiri hanya diam tidak menanggapi, tapi alis pria itu terangkat sebelah ketika mendengar nada bicara Estelle yang manja, rasanya sudah lama sekali ia tidak mendengarnya.


“Tadi … aku kan ke mansion ayah Ryan. Si Anu baru dateng dari Bandung soalnya kan dia mau pindah ke sini juga buat nemenin aku, tapi kak Axelle malah senewen coba ama si Anu. Padahal kan si Anu gak salah apa-apa. Ngeselin ‘kan dia?”


Mengerti jika sang adik sedang  mencari pembelaan, keduanya langsung saling pandang memikirkan reaksi yang sekiranya akan membuat adik bontot mereka ini puas. Tapi Jacob mengurungkan niatnya dan ingin sedikit mengerjai Estelle.


“Gak mungkin ‘kan dia begitu kalau gak ada alasannya?” Alih-alih membela Estelle, Jacob memilih untuk meneguhkan pendiriannya agar tidak terhanyut dengan bujuk rayu sang adik.


Bibir Estelle mengerucut mendengar respons sang abang. Di belakang sana, Axelle menggelengkan kepala karena sudah menduga abangnya lebih memilih membuat Estelle menangis sebagai hukuman gadis itu.


“Nah, lo tau sendiri ‘kan, Bang? Liat noh tangan sama kaki si Bontot, gimana gua gak senewen?” timpal Axelle. Di sini ia berperan untuk menambahkan minyak ke dalam sumbu yang sudah Jacob bakar.


“Tapi kan itu bukan salahnya Anu ya, Bang? Jadi Kak Axelle tetep salah, ya, ‘kan?” rengek Estelle yang masih belum menyerah mencari pembelaan dari abang sulungnya itu. Kedua matanya bahkan sudah berkaca-kaca.


“Menurut Abang, Januar juga salah-”


“Gak taulah, males sama kalian berdua! Kalian gak boleh masuk ke kamar Estelle malem ini! Awas aja kalau kalian diem-diem masuk pas Estelle udah bobo! Nanti Estelle tendang!” ambek Estelle yang langsung masuk ke dalam kamarnya dan sengaja membanting pintu saat menutupnya.


Axelle menghembuskan napas kasar. “Hhh lo sih, Bang. Harusnya lo pura-pura belain aja kaya biasanya. Alamat gak bisa tidur nyenyak gua malem ini.”


“Mau tadi gua bela dia atau engga, lo bakal gak dibolehin masuk juga sama dia malem ini. Kan lo yang ngamukin si Januar.” Jacob berhasil menelak Axelle. Setelahnya ia juga langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Tengah malamnya Estelle terbangun. Dengan setengah sadar ia membawa boneka anjing kuningnya dan berjalan pelan ke kamar Axelle. Axelle yang memang belum bisa tertidur pun sempat terkejut saat pintu kamarnya terbuka sendiri.


Axelle yang mengerti pun langsung memberikan ruang untuk Estelle di kasurnya, ia diam saja saat Estelle menyusup ke dalam selimut dan memeluknya. Ia hanya terkekeh pelan saat sebelah tangan gadis itu melingkari pinggangnya sedangkan yang satu lagi memeluk erat boneka anjing yang saat ini berada di tengah-tengah mereka.


Axelle sedikit membenarkan posisi kepala Estelle dan menepuk-nepuk bokong gadis itu seperti biasanya. Sesekali ia mencium puncak kepala gadis itu sebelum ia sendiri jatuh tertidur.


Di sisi lain Jacob yang terbangun dari tidurnya dan hendak mengecek Estelle pun terkejut saat melihat pintu kamar gadis itu terbuka lebar, padahal sebelumnya gadis itu mengunci pintunya rapat-rapat karena tidak ingin ia dan Axelle masuk ke dalamnya.


Karena tidak menemukan Estelle di dalam, ia langsung pergi ke kamar Axelle dan menghembuskan napas lega saat mendapati keduanya sudah tertidur pulas sambil berpelukan.


Tidak ingin membuat keduanya terbangun, Jacob pun menutup pintu kamar Axelle dengan sangat pelan dan hati-hati. Dan karena tidak bisa tertidur lagi, Jacob memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang memang harus selesai lusa nanti. Tidak hanya itu, ia juga memeriksa ulang kembali pekerjaan yang ia selesaikan hari ini sebelum dipresentasikan besok di kantor.


Setelah jam menunjukkan pukul tiga malam, barulah ia merasa kantuk dan memutuskan untuk kembali tidur setelah membereskan semua berkas-berkas miliknya.

__ADS_1


__ADS_2